Artikel

Tahun Baru dan Peningkatan Etos Kerja

Oleh: Sudono Syueb

Allah Ta’ala dan Rasul-Nya sangat menghargai orang orang yang bekerja keras. Allah Ta’ala selalu mendorong hamba-Nya untuk bekerja keras, penuh kesungguhan dan keikhlasan serta mempersembahkan kerja dan amal terbaiknya, baik berkaitan dengan hablum minAllah maupun hablum minannas, bahkan dengan dirinya sendiri. Sebab hanya dengan cara inilah seorang Muslim bisa meraih kebahagiaan yang hakiki baik di dunia ini maupun di akhirat nanti.

Dalam hal ini Allah telah berfirman dalam Al Qur’an surat At Taubah (9) ayat l05, yang artinya, “Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Allah juga menyuruh kita untuk pergi ke seluruh penjuru bumi untuk mencari nafkah, seperti firman-Nya, yang artinya, “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu maka berjalanlah di segala penjurunya (bekerja keras) dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS al-Mulk [67]: 15).

Allah pun memberitahukan bahwa siapa pun tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali apa yang mereka usahakan dan kerjakan seperti firman-Nya, yang artinya, “Dan bahwa manusia itu hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya” (QS Al Najm[53 ] ayat 39)

Sementara itu Rasulullah SAW sangat menghargai dan menghormati orang-orang yang bekerja keras mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya, seperti digambarkan dalam hadis riwayat Imam Bukhari No 1.470, berikut ini, yang artinya, “Sesungguhnya seseorang dari kalian pergi mencari kayu bakar yang dipikul di atas pundaknya itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik diberi atau tidak.”

Juga dalam hadis yang lain riwayat Imam Bukhari No 2.072, yang artinya, “Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil usahanya sendiri dan Nabi Dawud AS juga makan dari hasil usahanya sendiri.”

Bahkan, jika seseorang tertidur kelelahan karena mencari rezeki yang halal maka tidurnya itu akan dipenuhi dengan ampunan dari Allah SWT (HR Imam Tabrani).

Sebaliknya, Rasulullah SAW sangat membenci orang-orang yang malas, tidak mau bekerja. Beliau selalu memohon perlindungan pada Allah SWT dari sifat malas, seperti doa beliau ini, “Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasali wal jubni wal harami wa a’udzu bika min fitnatil mahya wal mamat wa a’udzu mika min ‘adzabil qabri” (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari sikap lemah, malas, pengecut, dan kepikunan dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur).” (HR Bukhari).

Begitu respeknya Rasulullah SAW pada para sahabat yang bekerja keras untuk mencari nafkah dan menghidupi keluarganya sehingga Rasulullah SAW rela mencium tangan mereka sebagai penghargaan akan kerja keras dan ibadah mereka, dan bukan karena kesalehan mereka dalam ibadah ritual seperti shalat malam, puasa, sedekah dan berhaji. Mereka itu adalah:

1. Sahabat Sa’ad bin Mu’adz Ra.

Ketika Rasulullah SAW pulang dari perang Tabuk, beliau bertemu dengan salah seorang sahabatnya, Mu’adz RA. Ketika bersalaman, terasa oleh beliau SAW telapak tangan Mu’adz yang kasar. Ketika berjumpa dengan Sa’ad bin Mu’adz, Rasulullah SAW pun melihat betapa tangannya kasar, kering dan kotor. Ketika ditanya Sa’ad menjawab bahwa tangannnya menjadi demikian karena bekerja mengolah tanah dan mengangkut air sepanjang hari. Mendengar itu Rasulullah SAW serta merta mencium tangan Sa’ad bin Mu’adz RA dan bersabda: “Tangan ini dicintai Allah dan RasulNya dan tidak akan disentuh api neraka!”

2. Mu’adz bin Jabal RA

Rasulullah SAW juga pernah merasakan tangan Mu’adz bin Jabal yang kasar dan tebal saat bersalaman. Ketika ditanyakan Mu’adz pun menjawab bahwa tangannya demikian karena untuk bekerja keras. Tangan yang dipakai oleh pemiliknya untuk bekerja keras mencari nafkah. Diciumlah tangan kasar, keras dan tebal itu oleh Rasulullah SAW dan bersabda: “Tangan ini dicintai Allah dan RasulNya dan tidak akan disentuh api neraka!”

3. Siti Fathimah az-Zahra RA

Siti Fathimah az-Zahra putri Rasulullah SAW tangannya juga kasar dan keras. Tapi Rasulullah SAW dengan penuh perhatian mencium tangan putrinya tersebut. Karena tangan itu digunakan untuk bekerja keras menggiling gandum di rumahnya, menyiapkan makanan bagi kedua putranya dan sang suami.

Lihatlah betapa Rasulullah SAW sangat menghargai orang-orang yang bekerja keras untuk mencari nafkah dan menghidupi keluarganya. Rasulullah SAW mencium tangan mereka sebagai penghargaan akan ibadah mereka, dan bukan karena kesalehan mereka dalam ibadah ritual seperti shalat malam, puasa, sedekah dan berhaji.

Riwayat-riwayat di atas menggambarkan betapa Islam sangat menghargai orang-orang yang memiliki etos kerja yang tinggi. Orang yang bekerja dapat dikatakan sebagai jihad fi sabilillah, seperti sabda Nabi SAW: “Siapa yang bekerja keras untuk mencari nafkah keluarganya, maka ia adalah mujahid fi sabilillah.” (HR. Ahmad).

Rasulullah SAW juga bersabda, “Barangsiapa yang di waktu sorenya merasa kelelahan karena kerja tangannya, maka di waktu sore itu ia mendapatkan ampunan.” (HR. ath-Thabarani dan al-Baihaqi).

Seperti halnya Sa’ad yang hitam dan melepuh tanganya karena bekerja, maka tatkala seseorang merasa kelelahan bekerja akan dibalas oleh Allah Swt dengan ampunanNya saat itu juga dan dikategorikan jihad fi sabilillah.

Selamat Tahun Baru 1439 Hijriyah, semoga kita termasuk golongan orang-orang yang berhijrah di jalanNya dan terus meningkatkan etos kerja untuk mendapat ridhonya. Amiin.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya
Scroll Up