Artikel

Syari’at Puasa dan Perintah Sebelum Rasulullah SAW

Oleh: Sunano*)

Setelah genap delapan belas bulan Rasulullah Saw menetap di Madinah, tepatnya pada bulan Sya’ban 2 Hijriyah, turunlah ayat yang pertama sekali memberi tuntunan dan ketentuan mengenai puasa wajib yang menjadi bagian dari rukun Islam. tuntunan puasa tersebut terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183-184:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan terhadap orang-orang sebelum kamu, supaya kamu menjadi orang yang bertaqwa.” (183)
(Yaitu) dalam beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya membayar fidyah, (yaitu) memberi makan orang miskin. Barang siapa dengan yang kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (184)

Perintah tentang puasa ini adalah lanjutan dari peraturan puasa yang telah berlaku atas umat Islam sebelumnya. Menurut tradisi umat Islam, sebelum ada syariat puasa, kebiasaan Rasulullah Saw dan umat Islam menjalankan puasa walaupun tidak wajib. Terkecuali Rasulullah Saw yang sangat sering berpuasa, sahabat-sahabat juga sebagian berpuasa tiga hari tiap bulan.

Waktu lain yang menjadi kebiasaan puasa adalah puasa hari ‘asyura yaitu tiap tanggal sepuluh Muharram. Ketika umat Islam pindah ke Madinah, mereka melihat orang Yahudi juga ada yang berpuasa, yaitu puasa sepuluh Muharram, yang disebut juga dengan ‘asyura. Umat Islam tidak mau ketinggalan dalam melaksanakan hal yang baik seperti berpuasa.

Tentang puasa ‘asyura riwayatnya adalah pada tanggal 10 Muharram itu Allah SwT memberi kemenangan perjuangan kepada Musa As. Pada hari itu Fir’aun dan kaumnya yang menentang dakwah Islam Musa As ditenggelamkan di Laut Merah. Untuk mensyukuri pertolongan Allah SwT, Musa As memerintahkan berpuasa pada hari tersebut.

Berdasarkan cita-cita perjuangan Musa As sesuai dengan cita-cita perjuangan Muhammad Saw, oleh Rasulullah Saw hari ‘asyura dipuasakan juga. Namun, ketika melihat orang Yahudi juga berpuasa, Nabi Muhammad Saw bersabda, “Kita (umat Islam) yang lebih berhak mengikuti Musa.” Oleh sebab itu, umat Islam juga mempuasakan terus menerus sejak zaman ini. Dan untuk membedakan puasa Islam dan Yahudi, Rasulullah Saw menganjurkan umat Islam supaya berpuasa tasu’a, yaitu tanggal sembilan Muharram, jadi dua hari berturut-turut. Kemudian turun syariat puasa wajib selama sebulan, pada bulan Ramadhan.

Klaim puasa ‘asyura menjadi rentetan panjang polemik dengan orang Yahudi di Madinah. Ketika awal Rasulullah Saw datang, adzan menjadi polemik dan perdebatan ramai. Sampai-sampai tiap kepala suku orang Yahudi datang menemui Rasulullah Saw untuk mengubah seruan shalat yang tiap hari dikumandangkan sebanyak lima kali. Adzan menjadi polemik karena merupakan simbol syiar Islam dan kesatuan politik umat Islam dalam panggilan shalat. Polemik selanjutnya berupa menghidupkan perkebunan dan mendirikan pasar di Madinah yang secara otomatis mematikan sumber ekonomi Yahudi. Sejak itu, orang Yahudi mulai menyusun konspirasi untuk melemahkan umat Islam.

Puasa pada umat terdahulu
Tatkala Allah SwT menurunkan syari’at puasa, juga menyebut bahwa umat-umat terdahulu juga diwajibkan berpuasa dengan tujuan agar menjadi manusia bertaqwa. Pendapat Syaikh Abbas Mahmoud al-Aqqad menjelaskan bahwa puasa sudah ada sejak zaman purbakala dan digunakan untuk berbagai kepentingan penyembahan, pembinaan rohani, permohonan dan ungkapan syukur. Sampai sekarang, puasa pun berbagai macam tatacaranya dan tujuannya.

Sejak zaman purbakala, puasa sudah dilakukan oleh masyarakat Mesir kuno, India dan Tiongkok. Tiap masyarakat berbeda tata cara pelaksanaannya dan maksud yang berbeda. Mereka melaksanakan puasa agar derajat kesucian dirinya meningkat. Di Yunani, kaum Esis dan pengikut Phitagoras juga melakukan puasa. Tujuan puasa waktu itu menjadi bagian dari ritus penyembahan dan upaya melatih rohani mereka.

Dalam pandangan agama-agama kitab, puasa didasarkan atas suatu tujuan suci, yaitu melatih diri (jiwa dan raga), bercita-cita melahirkan persamaan di antara sekalian manusia dengan menghilangkan kasta dan jurang perbedaan antara orang kaya dan orang miskin.

Dalam kitab Perjanjian Lama, terdapat dalam Imamat 16;29, disebutkan bahwa bulan tujuh bulan puasa yang kekal bagi orang Masehi. Pada bulan itu semua orang diminta supaya menghinakan dirinya dan pada hari-hari itulah dosa mereka akan diampuni. Tiap orang yang tidak mau merendahkan diri pada hari tersebut akan dipotong, dengan arti tidak memperoleh keberkatan (berkat).

Bani Israel, sebagai umat yang berkitab juga mengerjakan puasa dengan cara merendahkan dirinya kepada Tuhan sesudah mereka kalah perang yang terkenal dengan perang Binjamin.

Isa Almasih dalam Kitab Injil Matius 4:2, juga telah berpuasa selama empat puluh hari sebelum beliau menyatakan seruannya mengembangkan agama. Ada juga saat Isa Almasih berpuasa, murid-muridnya datang menanyakan bagaimana cara berpuasa. Aturan puasa di Injil Matius sebaiknya tidak diperlihatkan kepada siapapun bahwa ia sedang berpuasa. Sikap ini menjadi dasar toleransi hubungan antar umat beragama dalam menjalankan puasa.

*) penulis buku “Muslim Tionghoa di Yogyakarta” (2017).

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait