Artikel

Syariat Islam dan Sari Konde

Oleh Aswar Hasan

Pada Tgl 22 Juni 1945 terjadi titik temu tentang rumusan dasar negara yaitu Pancasila sebagai hasil kesepakatan para pendiri bangsa setelah melalui perdebatan yang sengit berdasarkan rumusan masing-masing pihak. Point penting dari Pancasila 22 Juni tersebut, adalah kalimat dalam rangkaian sila pertama Pancasila yang menyatakan: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.

Rumusan Pancasila 22 Juni tersebut, oleh cendekiawan Nur Cholish Madjid disebut sebagai Kalimatan Sawa (kalimat yang mempertemukan sejumlah perbedaan). Profesor. Moh. Yamin sebagai salah seorang perumus, memberinya nama sebagai Piagam Jakarta. Bung Karno sebagai Ketua panitia 9 (tim Ad hoc dari BPUPK) menyebut sebagai gentlemen agreement. Demikian juga dengan Mr. Kasman Singodimedjo menerangkan bahwa “Piagam Jakarta sebenarnya merupakan gentlemen’s agreement dari bangsa ini. Sayang, kalau generasi selanjutnya justru mengingkari sejarah.”

Pengingkaran sejarah Pancasila dengan Syariat Islam kini diproklamasikan melalui Puisi Putri Proklamator Bung Karno; Sukmawati, berjudul Ibu Indonesia. Diantaranya mengatakan:” Aku tak tahu Syariat Islam. Yang kutahu Sari Konde Ibu Indonesia sangatlah indah. Lebih cantik dari cadar dirimu. Lalu bait yang lebih tajam menusuk ketika mengatakan: ” Aku tak tahu syariat Islam. Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok. Lebih merdu dari alunan azan mu.

Sukmawati mungkin lupa ataukah tidak tahu, bahwa ketika Pancasila 22 Juni yang memuat kata syariat Islam menjelang disepakati, ayahnya, yakni Bung Karno, memohon dengan sangat berharap sambil menangis di hadapan BPUPK agar rumusan itu dapat diterima sebagai gentlemen agreement yang nantinya dijadikan Philosofi Grounslag dalam bernegara. Meskipun akhirnya, tanpa sepengetahuan Bung Karno, Bung Hatta secara sepihak mengakomodir protes kelompok yang mengatasnamakan diri wakil dari Indonesia Bagian Timur yang keberatan atas kata syariat Islam di naskah pembukaan UUD 1945, sehingga 7 kata tentang syariat Islam di coret.

Konon, Bung Karno ikut sedih atas pencoretan tersebut, tetapi dia kemudian berjanji bahwa hal itu akan kembali dapat ditegaskan melalui sidang konstituante, asal umat Islam bisa bersatu dan menguasai parlemen untuk kembali mengesahkan dan mengokohkan posisi syariat Islam dalam bernegara. Namun, ketika terjadi perdebatan di konstituante hingga tidak bisa memenuhi dua pertiga suara korum, hingga deadlock, Bung Karno akhirnya mengeluarkan dekrit 5 Juli 1959 yang intinya membubarkan parlemen. Tetapi isi terpenting dari dekrit tersebut, diantaranya berbunyi: “Bahwa kami berkeyakinan bahwa Piagam Djakarta tertanggal 22 Djuni 1945 mendjiwai Undang-Undang Dasar 1945 dan adalah merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan Konstitusi tersebut.” Artinya betapa Bung Karno masih menghormati syariat Islam dan tidak tega menghapuskannya. Maka diambilnya ruh syariat Islam untuk dilekatkan dalam UUD 1945 sebagai nyawa dalam bernegara. Tapi anehnya, justru anaknya yang mengaku tak tahu syariat Islam, lantas melecehkannya.

Syariat Islam oleh Sukmawati direndahkan dalam perbandingannya dengan Sari Konde yang kerap ia pakai. Namun, ketika ia meminta maaf (entah karena desakan atau tekanan), ia lantas mendatangi Ketua MUI KH. Ma’ruf Amin dalam keadaan berkerudung yang menutupi Tusuk Sari Kondenya. Suara Azan pun dianggapnya tidak lebih merdu dari Kidung Indonesia. Dia lupa bahwa takbir Azan itulah yang membangkitkan ruh perjuangan para ulama dan pejuang Indonesia lainnya sehingga penjajah terusir dari bumi Persada. Bahkan, Susi Pujiastuti sang Menteri Kelautan yang biasa pakai Tusuk Sari Konde, menghentikan wawancaranya ketika mendengar suara Azan berkumandang.
Anehnya, Sukmawati sang Putri Proklamator yang mengaku tidak tahu syariat Islam, lantas berani membandingkan dengan merendahkannya dibanding Sari Konde dan Kidung Indonesia. Pertanyaannya, apakah adil dia membandingkan sesuatu yang dia sendiri tidak tahu menahu? Kalau begitu ia telah melecehkan syariat Islam.

Karena Sukmawati telah meminta maaf, artinya ia telah mengaku salah. Maka untuk memperbaiki kesalahannya tentu akan lebih baik jika ia menyimpan saja Tusuk Sari Kondenya dan menggantinya dengan kain jilbab penutup aurat, lantas jika mendengar suara Azan dilantunkan, maka sebaiknya ia menjawabnya agar dapat pahala, kemudian menindaklanjutinya dengan bersegera pergi shalat. Karena shalat itu syariat Islam yang tidak boleh oleh siapa pun yang mengaku beriman Islam mengabaikannya. Wallahu A’lam Bishawwabe.

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait