ArtikelFeatured

Surat Terbuka Untuk Megawati Sukarnoputri

Oleh : Ratih Ratna Poernami (Ketua DPC PDI Jakarta Selatan 1988-1993, Wakil Sekjen DPP PDI 1993-1997, Anggota DPRD DKI Jakarta FPDI 1992-1997)

Apa kabar Mbak Ega? (demikian saya biasa memanggilnya). Saya Ratih Ratna Poernami, teman berjuang mbak Ega. Bahkan kita berdua satu kamar pada Kongres Luar Biasa PDI (belum pakai Perjuangan) di Asrama Haji Sukolilo Surabaya 26 tahun lalu yaitu tahun 1993.

Ayo mbak kita melawan lupa dengan apa yg kita alami saat itu:

1. Kita berdua menjadi utusan KLB, saya sebagai Ketua PDI Jakarta Selatan ex officio dan mbak Ega sebagai utusan yg dipilih melalui Konpercabsus PDI Jaksel.

2. Dari awal menjadikan mbak Ega utusan KLB kita sudah mendapatkan hambatan dari penguasa saat itu yang tidak menghendaki mbak Ega akan menjadi Ketua Umum PDI menggantikan Soeryadi (almarhum).

3. Di dalam KLB yang mencekam, dimana mbak Ega diprediksi akan menang, maka oleh pimpinan sidang yang dikuasai oleh teman-teman yang pro penguasa sidang diulur-ulur hingga batas waktu izin KLB habis dan KLB dinyatakan DEADLOCK oleh pimpinan sidang dan dinyatakan ditutup.

4. Saya bangga pada saat itu Mbak Ega berani menyatakan: SAYA SEKARANG ADALAH KETUA UMUM PDI DE FACTO

5. Berikutnya dengan proses yang berliku akhirnya penguasa saat itu mengukuhkan Mbak Ega sebagai ketua umum PDI (note: belum Perjuangan) pada 1994. Dan juga saya mendampingi Mbak Ega sebagai wakil Sekjen DPP PDI

6. Mbak Ega, itulah yang dilakukan Pak Prabowo saat ini. Yang mendeklarasikan kemenangan Paslon 02. Sama dengan yang dilakukan Mbak Ega 26 tahun yang lalu.

7. Saran saya adalah: berhenti mendzolimi Pak Prabowo, Mbak. Setelah Mbak Ega juga mengingkari Perjanjian Batu Tulis yang menyatakan bahwa setelah Pilpres 2009, dimana Mbak Ega dan Pak Prabowo berpasangan sebagai capres/cawapres, maka pada pilpres 2014 Mbak Ega akan mengusung Pak Prabowo sebagai capres dari PDIP. Tetapi itu Mbak Ega ingkari dengan mengusung Jokowi

8. Maaf Mbak saya memberanikan menulis surat terbuka ini sebagai teman seperjuangan saat itu, mari Mbak Ega berhenti mendzolimi Pak Prabowo.
Kita setiap hari menjadi lebih dekat dengan akhir hidup kita, Mbak. Tak ada yang bisa kita bawa selain amal dan tobat kita.

Salam. (Fn).

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up