Artikel

Surat Terbuka: Cacian Terhadap TGB Tak Sesederhana yang Kita Bayangkan

Di antara peringatan yang TGB berikan adalah, jangan menyebut-nyebut kata pribumi, namun yang bersangkutan sambil berkacak pinggang dan menantang, tetap menghamburkan umpatan-umpatannya.
Oleh: TGH Hasanain Juaini
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Saya berinisiatif untuk menulis berita ini setelah usai wawancara ekskulisif dengan BBC (Senin, 17 April 21017, pukul 18.00 WIB) dengan topik masalah tersebut di atas.
Satu kekhawatiran mendalam bagi saya adalah terjadinya bias sebagai akibat para pembaca berita tidak memahami dengan baik dan menyeluruh asal muasal kejadian tersebut. Memang banyak berita melansir hal itu namun karena acuannya sangat sederhana yaitu cerita singkat berupa sebuah kesalah-pahaman antara TGB M Zainul Majdi dengan saudara Steven. Mari kita ikuti (sebagai contoh) pemberitaan sebuah media di bawah ini:
Perlu diketahui, Muhammad Zainul Majdi (MZM) dan istrinya Erica Zainul Majdi menjadi sasaran penghinaan rasial oleh seorang penumpang di Bandara Changi. Kejadian bermula saat keduanya tengah antre di counter Batik Air yang berada di bandara negara Singapura, Ahad (09/04). MZM dan istri hendak menuju ke Jakarta.
Sekira pukul 14.30 waktu setempat, dari arah belakang keduanya muncul seseorang melontarkan kata-kata keras karena merasa antre lebih dulu. Seorang pria yang belakangan diketahui bernama Steven Hadisurya Sulistyo itu salah paham dengan menduga MZM langsung masuk ke antrean. Padahal MZM tadinya telah mengantre lalu meninggalkan istri di barisan, untuk sejenak bertanya kepada petugas.
Pria tersebut mengeluarkan kata-kata hinaan kepada MZM dengan menyebut istilah “Tiko”. Karena menilai perkaataan yang dilontarkan terlalu kasar, MZM lantas mengadukan hal itu ke petugas di Bandara Soekarno-Hatta, saat tiba di Jakarta.
Belakangan, MZM memaafkan perbuatan Steven. Pria berdarah Tionghoa itu juga menyatakan permintaan maaf dan mengakui kesalahan dalam selembar surat pernyataan bermaterai. 
Secara keseluruhan, kedalaman berita-berita terkait masalah tersebut hanya sebatas itu sehingga pembaca sudah pasti tidak akan dapat menangkap nuansa dan spektrumnya se-apa adanya.
[nextpage title=”Ketika …”]
Ketika kami, (saya dan beberapa orang kawan ber-tabayyun kepada TGB untuk mendapatkan cerita lengkap peritiwa tersebut) sungguh benar-benar tergetar dengan keluhuran sikap beliau. Sikap yang membuktikan kenegarawanan. Sebenarnya Saudara Steven sudah mendapatkan teguran sangat santun dari TGB agar tidak mengucapkan kalimat-kalimat yang berbau SARA, bahkan TGB mengalah dengan cara berpindah dan menjauh demi memberikan keleluasaan kepada ybs seperti yang dia sukai. Tetapi Steven tetap meluahkan kata-kata kotor sekalipun sudah berjauhan, sehingga orang banyak yang mengantre mendengarkan umpatan-umpatannya. Di antara peringatan yang TGB berikan adalah, jangan menyebut-nyebut kata pribumi, namun yang bersangkutan sambil berkacak pinggang dan menantang, tetap menghamburkan umpatan-umpatannya.
Berangkat dari situasi semacam itulah TGB berkoordinasi dengan Kepolisian Bandara Suekarno – Hatta bahwa beliau akan melaporkan seseorang yang melanggar hukum agar mendapatkan penanganan  sesuai hukum yang berlaku. Untuk itu mohon agar ada aparat kepolisian yang menunggu di Pintu Pesawat Batik Air.
Setelah mendarat di Bandara Soetta, dimana dua orang polisi sudah menunggu dan TGB menunjukkan oknum yang akan dilaporkan tersebut, yang bersangkutan kembali menunjukkan ulah yang sangat arogan dan menantang-nantang. Bahkan dua aparat polisi itupun ditunjuk-tunjuk dan ditanyakan pangkat dan kesatuan mereka serta siapa atasan mereka. Yang bersangkutan lalu menelpon entah siapa, tindakan yang mencerminkan ketidak-patuhan pada hukum dan meremehkan aparat negara.
Sampai di situ, kami yang mendengar cerita itu berdebar-debar, tumbuh rasa hormat kepada TGB yang masih dapat menahan diri. Saat itu yang bersangkutan sudah diberi tahu bahwa orang yang dia hina dan tantang itu adalah seorang gubernur, namun si Steven itu tetap saja menunjukkan sikap arogan bahkan berkata  “Luu mau bikin gara-gara ya dengan saya!?“.
Sebetulnya masih banyak hal-hal yang terjadi semenjak pendaratan pesawat itu sampai sekitar pukul 12 malam dimana akhirnya TGB dan istri pulang dengan membawa bukti pernyataan permintaan maaf bermaterai dari yang bersangkutan. Ada kommitmen antara kedua pihak yang disaksikan juga oleh polisi bandara bahwa pernyataan tersebut harus disiarkan melalui 3 (tiga) media massa nasional selama tiga hari berturut-turut, agar kejadian tersebut menjadi pelajaran bagi kita semua. Keesokan harinya polisi bandara mengkonfirmasi bahwa saudara Steven telah memenuhi janjinya berupa sebuah iklan kecil di koran Kompas. Saya harus mohon maaf, kalau tidak mungkin memberitakan semua tabayyun TGB dengan mendetail.
Sangat mungkin kita membayangkan bahwa permintaan maaf itu adalah inisiatif yang bersangkutan karena kesadarannya sendiri sebab sudah begitu panjang waktu yang dilalui untuk berfikir dan merenung, kenyataannya tidaklah demikian. Untuk diketahui, bahwa permintaan maaf itu bukanlah inisiatif saudara Steven sendiri. Ada seseorang yang mengaku sebagai paman yang bersangkutan dan juga polisi bandaralah yang meminyta kepada TGB untuk menyelesaikan urusan itu dengan pemberian maaf. Tidak pernah yang bersangkutan sendiri menyatakan menyadari kekeliruannya lalu dari mulutnya sendiri keluar kata permohonan maaf. Dia hanya menanda tangani surat pernyataan itu lalu menganggap semua hal sudah selesai. Secara sikap dan tindak tanduk yang bersangkutan masih saja seperti semula.
Perlu pembaca tahu bahwa karena proses pelaporan sampai selesainya penanganan kasus itu begitu lama, sehingga Ibu Gubernur, (yang dalam keadaan beranak kecil sehingga perlu segera kembali ke rumah) harus meminta bantuan seseorang untuk memperlancar proses itu.
TGB, yang sudah mengantisipasi kemungkinan reaksi masyarakat: mungkin dari siaran pernyataan di media massa atau sangat mungkin ada penumpang yang meliput sendiri kejadian itu lalu menyiarkan melalui media sosial, maka beliau berdiri dihadapan ribuan jamaah sholat jum’at Masjid Hubbul Wathan menjelaskan posisi beliau dalam kasus itu adalah memaafkan yang bersangkutan dan mengharapkan hal itu tidak menimbulkan ekses-ekses yang akan mengganggu stabilitas di tengah-tengah masyarakat. TGB juga menegaskan tidak memiliki hak untuk mengintervensi hak masyarakat Indonesia (siapapun baik pribadi atau berkelompok) untuk menuntut hak mereka sesuai hukum yang berlaku.
Akhirnya, saya yakin bahwa kalau saja BBC tidak mencium gelagat yang tidak baik dari peristiwa ini, tentulah tidak perlu menurunkan berita dalam bentuk wawancara eksklusive.
Wallahulmuwaffiqu Wal Haadi ilaa Sabilirrasyaad.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Penulis adalah Sekjen PB Nahdlatul Wathan dan penerima Magsaysay Award tahun 2011. Diedit dari tulisan aslinya untuk penyesuaian kaidah penggunaan bahasa Indonesia.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

One Comment

Scroll Up