Oleh MD Aminuddin

Dalam dunia politik zaman now, media sosial (medsos) memang tak lagi bisa dianggap sebelah mata. Bayangkan, seorang calon wakil gubernur terpaksa (atau dipaksa?) mundur beberapa hari jelang pendaftaran gara-gara dua lembar foto seronok yang belum terkonfirmasi kebenarannya. Medsos memang kejam, kata orang sono.

Jelang Pilkada serentak di sejumlah daerah pada 2018, sejumlah kandidat sudah mulai ancang-ancang melakukan kampanye di media sosial. Ada yang cara penggunaan medosnya sudah benar, menyiapkan tim medsos yang benar-benar profesional dan handal. Namun lebih banyak kandidat yang asal punya medsos. Jadilah laman facebooknya hanya dibanjiri foto-foto kegiatan yang sepi engagement; gagal menarik simpati audience.

Beberapa waktu lalu, di hadapan kandidat bupati & wakil bupati di sebuah daerah di Jatim, kebetulan saya diminta untuk mempresentasikan metode, sistem, teknologi & strategi kampanye yang benar lewat media sosial.

Intinya, menggunakan media sosial sebagai sarana kampanye harus memiliki trik-trik tersendiri untuk menggaet massa. Berikut rangkuman yang saya paparkan ketika itu:

Ide yang Menjual
Kandiat harus punya gagasan yang menjual, bukan murahan dan harus orisinil. Artinya ide yang dilempar di medsos harus mampu menarik simpati massa. Tak kalah penting, penggunaan narasinya mesti tepat dan unik sehingga nancep di benak audience. Oke Oce adalah salah satu contoh bagaimana sebuah ide brilian yang dipadu dengan narasi yang tepat mampu menggaet massa.

Peka Terhadap Isu Sosial
Seorang kandidat kepala daerah harus selalu mengetahui dan peka terhadap isu-isu faktual yang berkembang di masyarakat. Ia harus mampu merasakan denyut kehidupan masyarakat secara langsung. Dari sanalah kandidat memperoleh bahan untuk membangun narasi kampanye yang mampu menggerakkan massa untuk mendukung program-programnya.

Fast Respons
Ini syarat penting; kandidat harus fast respons terhadap audiance di media sosialnya. Banyak saya amati, sesudah melempar status di media sosial, para kandidat sepertinya tak lagi menengok komentar audience. Maka, sekadar ucapan terima kasih bla.. bla.. bla.. itu amat sangat penting agar audience merasa bahwa mereka diperhatikan.

Selain itu, kandidat juga bisa meminta masukan, saran, respons kepada audiencenya, ihwal apa yang mereka butuhkan untuk kemajuan daerahnya.

Jangan Berlebihan
Natural saja. Jangan berlebihan melakukan pencitraan. Warganet sekarang ini sudah sangat cerdas menilai mana yang sekadar pencitraan dan mana yang orisinal. Yang lebih penting adalah bagaimana audience mengetahui bahwa anda sedang memperjuangkan kepentingan mereka. Inilah yang mesti dikampanyekan secara masif, tentu dengan cara elegan.

Tim Medsos yang Handal
Tentu saja seorang kandidat tidak mungkin bekerja sendirian mengelola channel Medsosnya. Ia harus memiliki tim medsos yang tangguh dan menguasai seluk-beluk berbagai channel Medsos. Tim inilah yang akan menganalisis jalannya kampanye di medsos, memberi advis, dan kadang-kadang mengamati pergerakan kompetitor.

Yes, ibarat hendak bertempur di era modern, media sosial adalah peranti atau senjata yang sangat efektif untuk memenangkan persaingan merebut hati pemilih. Perangkat kampanye off line seperti baliho/banner saja tidak cukup. Zaman sudah bergerak menuju online.

Jangan sampai Anda kelabakan menangkis serangan kompetitor melaui medsos hanya gara-gara tim medsos Anda letoy.

Facebook Comments