Artikel

Staf Khusus Baru dan Pengunduran Diri Presiden

Oleh In’am eL Mustofa

Akhir pekan ini yang paling menarik kemudian menjadi gunjingan di kalangan aktivis dalam jagad politik adalah dipinangnya Ali Mochtar Ngabalin menjadi staf khusus baru oleh Presiden Joko Widodo. Di sini bukan masalah Ali Mochtar an sich, namun begitu ia diumumkan menjadi staf khusus/juru bicara presiden. Malamnya ia langsung tayang disebuah stasiun televisi head to Head dengan Fadli Zon.

Hal bisa merupakan kegeniusan Presiden dalam mengambil pembantunya, on the track. Yang terpilih benar-benar memiliki keahlian khusus dan unik. Masih ingat dengan Wimar Witoelar yang staf khusus/Juru bicara presiden, kesamaanya tidak jauh berbeda dengan Ali Mochtar Ngabalin dalam hal kriteria yakni aksentuasi komunikasi yang kuat serta punya latar belakang logika/mantiq yang memadai. Sedang yang membedakan keduanya Ngabalin punya latar belakang partai politik yang kuat bahkan menjadi kutu loncat parpol dan berbasis muslim sedang Wimar tidak demikian.

Hal ini kemudian oleh khalayak mudah dibaca bahwa Presiden Joko Widodo sedang mengkonsolidasi kekuatan dari Istana untuk pertempuran 2019. Pun momentumnya adalah pasca peristiwa teror yang terjadi di beberapa kota di Indonesia. Semakin memperjelas maksud Presiden di atas. Hal ini diperkuat dengan Siti Ruhaini Zuhayatin yang masuk dalam squad Presiden Joko Widodo. Ruhaini punya tugas khusus untuk memberi masukkan kepada Presiden berkait perkembangan dan isu keagamaan di dunia internasional. Keduanya merupakan pilihan jitu karena berbasis pemikiran Islam moderat dan tenaga edukatif di perguruan tinggi. Setidaknya presiden akan mampu untuk meredam sekaligus memupus gerakan massa berbasis muslim non maistream, jika terjadi gelombang perlawanan.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah dengan penambahan squad presiden akan mampu meredam gerakan #2019GANTI PRESIDEN utamanya yang datang dari basis muslim? Penulis sebut agak pesimis dalam hal ini. Kenapa? Karena keduanya semasa aktif di ormas termasuk pimpinan yang tidak populer dan basis massa yang relatif lemah. Pernah sebagai anggota DPR bukan merupakan jaminan Ngabalin punya basis muslim kuat! Karena ia juga menjadi kutu loncat Parpol, dan hal ini oleh masyarakat awam pun akan dinilai sebagai kecacatan dalam etika berpolitik.

Bagaimana dengan Siti Ruhaini Zuhayatin, hemat penulis sama saja. Saat di Nasyiatul Aisyiah basis massa, atau anak jamanNOW menyebut Follower yang fanatik Ruhaini juga tidak banyak. Pernah ia sebagai calon pucuk pimpinan, namun gagal memperoleh suara terbanyak, meskipun Nasyiatul Aisyiah menganut kolektif kolegial. Dan meredam di sini memiliki arti kuantitatif dan kualitatif. Kuantitatif, berarti bahwa Presiden berharap dapat meraih tambahan dukungan dari muslim moderat, sedang kualitatif Presiden mampu secara elegan memenangi perang opini.

Yang pertama bisa gagal, sedang yang kedua bisa berhasil. Penulis sebut berhasil dalam arti kualitatif karena keduanya memiliki basis keilmuan di atas rata-rata. Tentu dalam hal ini presiden punya pertimbangan sendiri saat mengabaikan basis massa dan memilih yang memilii basis keilmuan yang memadai. Judulnya saja staf khusus, berarti bukan jabatan sembarangan karena tugas yang diemban tidak bisa dilaksanakan oleh pembantu yang kini ada, mentri-mentri misalnya.

Maka dari yang terakhir, jabatan ini oleh sebagain khalayak terutama yang menyebut oposisi dikatakan sebagai pemborosan anggaran. Para pembantu tidak efektif, dan sekedar bagai-bagi kekuasaan. Meskipun tidak bisa disalahkan namun hal ini memberi kesan kuat bahwa Presiden sedang kedodoran dalam menghadapi Pilpres 2019, untuk tidak menyebut panik menghadapi gerakan tagar #2019GantiPresiden. Bahkan penulis juga ada kecurigaan tersendiri apakah Ali Mochtar Ngabalin akan meniru jejak pendahulunya Yusril Ihza Mahendra , memberikan masukan pada presiden yang berujung pada pembuatan Pidato pengunduran Soeharto. Entahlah.
Sekarang tinggal rakyat menunggu bagaimana sepak terjang staff khusus dan Jubir baru ini, effektifkah? Simak saja karena mereka berdua juga sedang bertaruh dengan kredibilitasnya.

* Penullis, aktivis 80/90 tinggal di Jogjakarta.

Inam El Mustafa

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up