ArtikelFeatured

Solusi Corona : Do’a, Cinta, dan Usaha

Oleh : Hendra J Kede (Wakil Ketua Komisi Informasi Pusat RI)

Penempatan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama Pancasila bukan bebas makna. Pendiri negeri tercinta ini menginginkan negeri Indonesian dijalankan dengan sandaran utama Ketuhanan.

Pendiri negeri ini menginginkan seluruh persoalan yang dihadapi masyarakat sandaran utamanya adalah Ketuhanan. Maka ketika Virus Corona menyerang negeri seperti sekarang ini, pendiri negeripun menginginkan semua elemen, mulai dari pemerintah sampai masyarakat, menyandarkan pada Ketuhanan.

Berdo’a agar Pandemi Corona ini berakhir adalah pilihan utama yang harus dilakukan. Melalui aktifitas do’a kita menyadari bahwa kita memerlukan bimbingan Tuhan Yang Maha Esa untuk menemukan solusi mengakhiri Pandemi Corona.

Melalui aktifitas do’a kita terhindar dari kepanikan. Sementara minimalnya kepanikan membuka pikirian menemukan jalan keluar dari Pandemi Corona. Bukankah orang bisa tenggelam dalam kolam dengan air selutut jika dalam kondisi panik?

Maka tidaklah berlebihan mengatakan obat pertama untuk mengakhiri Pandemi Corona adalah do’a tulus pemimpin bersama rakyat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bersujud jasat dan ruh bersimpuh dihadapan-Nya.


Masihkan perlu diuraikan juga kekuatan dari cinta? Berapa banyak negara jatuh dan bangun dalam lintasan sejarah karena kuat dan lemahnya ikatan rasa cinta ini.

Cinta seorang pemimpin kepada rakyatnya akan menggetarkan ‘Arasy. Ratapan cinta seorang pemimpin yang mengadukan nasip rakyatnya kepada Allah SWT akan membuat Allah SWT malu untuk tidak memdengarkan dan membantu sang pemimpin mencari solusi masalah rakyatnya.

Cinta rakyat kepada pemimpin bisa menegakan dan meruntuhkan suatu dinasti. Bacalah buku sejarah. Cinta Ali bin Abi Thalib yang tidur di tempat tidur Nabi Muhammad telah mengantarkan misi hijrah berujung pada lirim nyanyian cinta : marhaban yanuur roaina, anta syamsu anta nuurun, anta nuron fauqo nuuri.

Cinta sesama ummat manusia di bumi pertiwi ini melahirkan slogan nan amat ampuh : Bhinneka Tunggal Ika.

Jadi tidak berlebihan jika cinta adalah obat kedua yang harus bergelora di dada semua pemimpin negeri ini, cinta untuk menyelamatkan masyarakat dari Virus Corona. Juha cinta dari seluruh rakyat untuk menyelamatkan kemanusiaan dari ancaman Virus Corona.

Mau lockdown atau bukan, mau buka data pasien atau bukan, bukanlah masalah lagi jika cinta sudah bergelora. Cinta seperti zaman perjuangan dumu, kata si mbahku.


Do’a dan Cinta inilah yang diharapkan menggelorakan dan menggerakan usaha menemukan solusi. Itulah makna manusia Pancasila.

Pikirkanlah….

Usaha apakah yang belum pernah berhasil dalam perjalanan sejarah bangsa-bangsa yang usaha itu didadasari do’a dan cinta?

Aku belum menemukan buku yang meriwayatkanya.

End

Selanjutnya

Artikel Terkait