Artikel

Silatnas Pemuda Indonesia, Ruh Soekarno dan Histori Kebangsaan

Oleh Nurhadi Taha (Ketua KNPI Kota Gorontalo)

Hallo bangsa Indonesia dengan jiwa berseri – seri mari berjalan dengan terus, jangan berhenti, Revolusimu belum selesai, jangan berhenti sebab siapa yang berhenti, akan diseret oleh sejarah, dan siapa juga yang menentang jarak dan arahnya sejarah, tidak perduli ia dari bangsa apapun ia akan digiling dan digilas oleh sejarah, itu sama sekali kalau pihak Belanda menentangnya, dengan misalnya tetap tidak mau menyudahi kolonialisme di Irian barat, satu hari akan datang entah besok atau lusa yang ia pasti digiling dan digilas oleh sejarah tetapi sebaliknyapun kalau engkau menentangnya engkaupun akan digiling dan digilas oleh sejarah.

Terutama sekali engkau hai pemuda dan pemudi indonesia, engkau dari generasi yang sekarang yang mungkin belum pernah dengan sadar mengalami ikut berjalan dalam perjalanan sejarah itu, sudahkan kau menginsyafi bahwa segera akan datang saatnya yang engkau juga harus ikut berjalan, dan engkau pemuda dan pemudi Indonesia, sudahkah engkau berpikir dan bertindak sedemikian rupa, sehingga engkau merasakan dirimu seolah – olah hidup dalam obsesi, merasakan dirimu adalah alat – alat sejarah, alat – alat yang berjiwa, yang dengan sejarah itu menggempur kekolotan dan ketama’an, menggempur perbudakan, dan penjajahan, mengembleng dunia baru buat bangsamu sendiri dan dunia baru buat sekalian bangsa, sudahkah engkau semua pemuda – pemudi indonesia tidak mengutamakan kepelesiran lagi, sebagai kumintakan kepadamu dua tahun yang lalu.

Penggalan pidato Soekarno pada ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1953 di Jakarta ternyata menjadi sumbu bagi generasi muda Indonesia hingga saat ini, pada akhir 2018 Komite Nasional Pemuda indonesi Se Indonesia melaksanakan Silaturahim Nasional di Bumi Gumati Bogor, dengan landasan keberagaman, dan merawat persatuan dan kesatuan mempertahankan nilai-nilai ke-Indonesian semua para tokoh pemuda berkumpul dan berikrar tetap mencintai negara kesatuan republik Indonesia sebagaimana yang di telah menjadi janji dan cita – cita para founding father.

Silaturahim nasional yang mengumpulkan berbagai tokoh muda – mudi dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga pulau Rote semuanya berkumpul dan melakukan konsolidasi membahas beragam problematika kebangsaan saat ini, terkait perkembangan dan situasi yang ada di berbagai daerahnya, semangat kenegaraan terus membara dan pemuda menjadi alat dalam sejarah bangsanya yang kemudian hal ini berulang dalam konsolidasi nasional pemuda Indonesia di Bogor yang mengugah kita untuk dapat mengawal perjalanan kebangsaan kita dalam situasi demokrasi regenerasi kepemimpinan bangsa kita.

Semangat Soekarno itu seakan hadir di kala semua generasi muda larut dalam forum silaturahim ini, Bahwa kita adalah Indonesia yang beragam, suku, bahasa budaya dan juga warna kulit tetapi semua menyatu dalam bingkai NKRI.  Ada namanya Joni dari Papua, ada Srikandi dari Mamuju, Selvi Febriana, Ada juga kang Muhamad Burhani tokoh muda dari kab. Bogor ada Heri dari Jogja, ada Chirstopel dari Makasar juga Ahmad dari Berau, juga beberapa tokoh muda lainnya yang semuanya bertemu dan saling merawat memory tentang daerah dan bangsanya. Mereka semua ingin menggapai cita-cita bangsa dan negaranya menjadi negara yang maju adil dan makmur .

Seakan pula hal ini mengulang Sejarah Kelahiran Komite Nasional Pemuda Indonesia yang di lahirkan pada 3 Juli Tahun 1973 yang berikrar untuk menyatukan berbagai potensi , pengetahuan generasi muda untuk mengawal dan merawat bangsa dan negaranya.

Mengutip pidato Bung Karno buktikanlah kita memiliki djiwa besar itu, Jiwa Merdeka itu, Jiwa yang tak segan bekerja dan memberi, Jiwa Dinamis yang berdiri sendiri di atas kaki sendiri dari hasil usaha sendiri bukan jiwa yang meminta merintih mengemis saja ke kanan dan kekiri sambil bermimpi dapat mencapai derajat penghidupan yang makmur, dengan seboleh-bolehnya tidak bekerja sama sekali, kita tidak hidup dalam impian, kita hidup dalam kenyataan, kita tidak hidup di alam sorga kita hidup dalam dunia, di alam dunia itu untuk semua mahluk besar dan kecil tiada undang – undang lain melainkan undang undang yang berbunyi.

Jikalau mau hidup harus makan yang di makan hasil kerja jika tak bekerja tidak makan jika tidak makan pasti mati.”

Inilah undang undangnya dunia, inilah undang undangnya hidup mau tidak mau semua mahluk harus menerima undang – undang ini. Terimalah undang undang ini, dengan jiwa besar dan merdeka jiwa yang tidak menengadah melainkan pada tuhan. Sebab kita tidak bertujuan bernegara hanya satu windu saja, kita bertujuan bernegara seribu windu lamanya, bernegara buat selama lamanya.

Selamat dan Sukses
Silatnas Pemuda Indonesia.

Ketua KNPI Kota Gorontalo
Nurhadi Taha

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya