ArtikelFeatured

Siapapun yang Dimenangkan Oleh MK Plus Minus Pengaruhnya Bagi Ummat Islam Sama

Rangkuman

  • Hakikatnya yang terjadi bukan perlawanan 01 dan 02. Mereka hanya sebagai trigger of movement dari kejadian penting saat ini dalam longterm curve perang peradaban.
Oleh : M. Amir Faisal

Tulisan ini sengaja saya turunkan jelang keputusan MK supaya tidak dianggap apologi.

Jika kita mau berfikir pada perspektif high level politic thinking, bahkan trans rasional, sesungguhnya semua yang terjadi di dunia ini bisa dipersepsikan secara antisipasif, berdasarkan perhitungan plus minusnya. Dengan begitu kita selalu tetap punya energi dan passion untuk memenangkan peradaban Islam dengan penuh kepercayaan diri.

Hakikatnya yang terjadi bukan perlawanan 01 dan 02. Mereka hanya sebagai trigger of movement dari kejadian penting saat ini dalam longterm curve perang peradaban. Al-Quran selalu mengingatkan kita untuk menentukan pilihan pada golongan mana kita perlu berpihak. Penggolongan kaum mukmin dan kafir (termasuk kaum munafikin dan non muslim) adalah versi Al-Quran. Jika ada sebagian ulama yang tidak setuju, dianggapnya dikotomi itu sudah tidak sesuai kemajuan zaman tidak akan mampu mengubah satu huruf pun dari Al-Quran.

Orang-orang Mukmin juga tidak dituntut berfikir menang dan kalah. Karena pemberian kemenangan pada suatu kaum adalah hak Allah. Memang, siapapun yang menang terjadi  atas kehendak Allah. Tetapi bukan berarti yang menang pasti diridhoi oleh Allah SWT. Dalam sejarah peradaban, golongan Mukmin dan golongan kafir sama-sama pernah mengalami mendapat  kemenangan dan kekuasaan. Bagi orang Mukmin yang utama adalah libtigho mardhotillah, bukan menangnya. Kita mensyukuri jika kemenangan itu diridhoi Allah, bersama golongan yang dalam hidupnya selalu merindukan izzul Islam wal Muslimin, bukan golongan yang menolak kejayaan Islam.

Menurut kriteria Islam, juga tidak ada satupun Capres dan Cawapres ideal. Tetapi sebagaimana ijtihad sebagian ulama dan cendekiawan Muslim, ada satu yang mudlorotnya lebih kecil dibandingkan yang lain berdasarkan qaidah ushulfiqih. Dan orang Mukmin berkewajiban memilih mana salah satunya.

Kewajiban memilih sudah kita lakukan, berdasarkan qaidah itu. Lalu apalagi yang harus kita pikirkan? Dalam anggapan orang Mukmin, siapapun yang dimenangkan oleh Allah perlu dilihat dalam perspektif pengaruhnya pada peradaban Islam. Kita perlu mengelevasi cara berfikir kita dengan paradigma yang lebih tinggi dan luas. Bukan sekedar  berfikir pragmatis kita dapat bagian apa jika menang, sebaliknya kita akan kehilangan peluang apa jika kalah. Karena itu cara berfikir orang-orang kerdil yang mengira bahwa yang bisa memberikan rizki itu adalah penguasa.

Kalau perspektif diatas yang kita gunakan, jika 01 yang dimenangkan oleh MK, belum tentu peradaban Islam mengalami perlambatan. Kenapa demikian?

Kemajuan peradaban Islam ditentukan sekurang-kurangnya oleh dua hal. Pertama, munculnya pembaharu dan kedua tumbuhnya kesadaran akan kebutuhan nilai-nilai yang bisa menjawab atau memperbaiki kerusakan zaman. Rasulullah SAW mengatakan,di setiap penghujung abad akan lahir seorang pembaharu.

Jika kriteria untuk bisa menjadi Mujtahid kita longgarkan, sebenarnya sudah  banyak pembaharu yang lahir, yang sekarang sudah menjadi generasi babby boomer maupun dari kalangan kaum milenial. Kemudian kesadaran ummat atau lebih tepatnya kehausan ummat akan munculnya pencerah yang bisa mereka jadikan the guidance of life, dan bisa memperbaiki kerusakan zaman gejalanya sudah sangat kuat. Di era digital ini kita mudah sekali melacak berapa jumlah kunjungan di Youtube yang berkonten kajian Islam. Dan berapa banyak yang hadir pada pengajian umum.

Aksi Bela Islam 212 terlalu picik dan mengecoh mereka sendiri, jika hanya dinilai sebagai gerakan radikal agama. Saya melihat terdapat dua hal yang dicoba ditutupi oleh rezim maupun para ideolog anti peradaban Islam, yaitu perlawanan pada ketidakadilan dan perlawanan terhadap hegemoni ekonomi China. Justru disini pesan ajaran Islam menemukan momentumnya. Tema sosial dan hukum dalam Al-Quran sendiri banyak berbicara masalah keadilan, persamaan hak, pemerataan, kewajiban pembayaran ZIS. Sementara ummat Islam yang sebagian besar berada di kelas bawah dan sebagian menengah ditekan oleh rezim oligarkis yang banyak menguntungkan para konglomerat China.

Dua momentum diatas akan berubah menjadi ledakan energi jika ditekan oleh penguasa, yang mampu menggerakkan turbin dari pergerakan ummat menuju kemenangan peradaban Islam. Mudah-mudahan hanya akan berhenti sampai disitu. Dalam arti tidak terjadi ledakan atomik. Ledakan yang menghasilkan ledakan berikutnya secara deret ukur. Saya sangat meyakini, hal ini disadari oleh para pemikir di ring satu Jokowi yang masih bisa berfikir jernih.

Masalahnya adalah Jokowi sendiri dalam kegamangan. Ia ibarat sedang berakrobat diatas tambang yang ditarik di kedua ujungnya. Satu ujung ditarik oleh para kroni konglomerat dan para ideolog sekuler anti Islam. Ujung satunya dipegang oleh Ummat Islam pro 212.

Salah satu akrobat yang bisa dilihat adalah rekayasa pembebasan UABB yang gagal, upaya rekonsiliasi dengan HRS yang tidak ada titik temu. Kebijakan pemerintah yang diupayakan pro syariah akan ditentang para ideolog anti Islam. Penggunaan dana haji dan kemudian zakat untuk infrastruktur, walaupun dibolehkan secara syari, tetapi justru semakin memperkuat prejudice ummat bahwa rezim hanya akan “mengkadali” ummat.

Sekarang jika 02 yang dimenangkan oleh MK, apakah dengan sendirinya kemajuan peradaban Islam akan mengalami percepatan? Mengingat 02 didukung oleh Ijtima Ulama, direstui oleh Ulama NU Dzurriyah dan kultural, dan Ummat Islam 212, serta disana ada PKS dan PAN yang tidak bisa keluar dari kultural Muhammadiyyah ( NU kultural saja dukung 02). Bisa jadi iya, jika tidak ada pelunturan idealisme. Karena di kalangan Gerindra, PKS dan PAN selain ada politisi yang masih istiqomah, ada juga kaum pragmatisme yang hanya berfikir kursi dan kue kekuasaan.

Saran saya untuk para politisi penerima amanat Ummat Islam. Bersikaplah cerdas membaca sejarah peradaban. Berdasarkan tanda-tanda zaman, kemenangan peradaban Islam sudah semakin dekat. Tetapi tidak melalui proses yang biasa. Semua transformasi di dunia ini sepanjang sejarah, tidak ada yang melalui cara-cara biasa, serta tidak dilakukan oleh orang-orang biasa. Terserah pada pilihan Anda, apakah ingin dikenang oleh ummat dicatat dalam tinta emas sejarah, dijadikan kisah teladan oleh para Guru pada murid-muridnya kelak atau lebih suka menikmati kue kekuasaan, diatas penderitaan Ummat. (Fn)

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up