ArtikelFeatured

Gerakannya Makin Massif, Siapa Sponsor di Belakang TGB?

Oleh Udo Yamin Majdi

Pergerakan Tuan Guru Bajang (TGB) M Zainul Majdi ibarat bola salju, semakin hari semakin membesar. Relawan bermunculan bak cendawan di musim hujan. Media tak mau ketinggalan memberitakan TGB. Lembaga survei mulai mencantumkan nama TGB. Mesin google meletakan TGB di urutan atas. Kegiatan TGB ada di mana-mana.

Maka, seperti kita lihat dalam minggu ini, di beberapa WAG, bukan hanya muncul pertanyaan, melainkan hadir fitnah, buruk sangka, dan sejenisnya.

Kemarin di sebuah WAG saya ikuti dan banyak yang menghubungi saya secara japri, meminta penjelasan dari saya tentang tulisan yang membandingkan, bahkan kesannya membenturkan TGB dengan tokoh lain, dan hari ini muncul pertanyaan: “Siapa di belakang TGB dan dana dari mana sehingga gerakan TGB semakin massif?”

Pada tulisan ini ini saya akan menjawab dua pertanyaan itu.

Di belakang TGB itu adalah orang-orang yang merindukan Indonesia ini maju penuh dengan berkah.

Diantara mereka itu ada Alumni Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Dalam tulisan ini, saya hanya menjelaskan relawan alumni Azhar Mesir saja.

1. Nama TGB jauh hari sudah harum di kalangan alumni Al-Azhar sebab beliau satu-satunya alumni Al-Azhar yang menjadi gubernur dan ternyata beliau sukses menjalankan amanah.

2. Nama beliau mulai tidak bisa dipisahkan dari para alumni Al-Azhar ketika beliau menjadi Ketua Organisasi Alumni Azhar (OIAA) cabang Indonesia.

3. Dalam beberapa pertemuan, memang ada suara dari sahabat-sahabatnya, untuk melanjutkan pengabdian di tingkat nasional. Namun, beliau menganggap ini hanya sebatas canda, sehingga beliau tidak menerima dan tidak juga menolak.

4. Tanggal 13 Januari 2018, para alumni Azhar menggelar acara Kongkow Nasional di Pondok Cabe. Acara ini, awalnya hanya untuk temu kangen antar sesama alumni Mesir, namun ternyata di acara itu, utusan dari berbagai provinsi menyampaikan harapan dari para alumni mewakili masyarakat di daerah masing-masing, agar TGB maju menjadi pemimpin nasional. Di sanalah TGB dengan basmalah mengucapkan bersedia.

5. Pasca pertemuan tersebut, terbentuklah Relawan Alumni Azhar mulai dari tingkat nasional, provinsi, kabupaten, sampai kecamatan;

6. Alumni Azhar Mesir berjumlah sekitar 30.000 orang ini, banyak memiliki pondok pesantren, lembaga pendidikan dan berada di posisi perkhidmatan di daerahnya masing-masing. Sehingga dengan demikian, sangat mudah bagi alumni untuk memfasilitasi TGB silaturahim;

7. TGB bisa keliling daerah ke pesantren-pesantren atau ke tokoh masyarakat sangat mudah, sebab:

Pertama, Beliau memang sosok ulama tulen doktor Universitas Al-Azhar Mesir jurusan Tafsir dan ilmu-ilmu Quran yang hafal Quran 30 juz, sehingga TGB bisa menjadi imam sholat, khutbah Jumat, penceramah Tabligh Akbar, nara sumber seminar atau kuliah umum, dll;

Kedua, beliau cucu dari pahlawan nasional pendiri Nahdhatul Wathon (NW), Tuan Guru Kyai Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Majid. Ketika TGB menemui para ulama yang memiliki pesantren atau ormas, TGB bukan dianggap orang lain, melainka cucu sahabat mereka, sebab mereka kenal kakek TGB sejak kakeknya belajar di Mekkah.

Ketiga, TGB memiliki integritas dan kapabilitas. Perbuatan TGB, sama dengan perkataannya. Perkataan TGB, sama dengan perbuatannya. Inilah yang membuat TGB terpilih menjadi DPR pusat (2004-2009) dan terpilih menjadi gubernur termuda di NTB selama periode (2008-2013 dan 2013-2018). Dengan kata lain, TGB memiliki akhlaq yang baik, dan tidak pernah tersandung kasus hukum atau moral. Maka wajar, kalau para ulama dan santri, menyambut TGB luar biasa.

Keempat, pemahaman dan kemampuan komunikasi TGB di berbagai bidang sama baiknya dengan beliau menguraikan masalah keislaman. Sehingga banyak profesor yang geleng-geleng kepala dan angkat topi kepada TGB.

Misalnya, ketika TGB menjelaskan ketahanan pangan di Jakarta di hadapan para profesor, mereka pada salut. Begitu juga saat TGB mengisi di ITB dan terakhir di ICMI Bandung, para profesor mengakui kecerdasan TGB.

Kelima, mungkin ada faktor x, yaitu Allah menggerakan orang-orang yang memiliki hati nurani, untuk mendukung TGB. Jujur saja, saya bukan tipe orang yang mudah mendukung capres/cawapres, bahkan saya pernah golput, namun ketika saya mempelajari sosok TGB, bertemu langsung dan mendampingi beliau, maka bismillah saya mendukung TGB 100% tanpa ada rasa keraguan sedikit pun.

8. TGB diundang mengisi kegiatan di sebuah daerah, lalu para relawan membuat acara sebelum dan sesudah acara undangan itu. Karena beliau diundang, maka yang membiayai beliau adalah pengundang. Sedangkan acara bersama relawan itu, dibiayai oleh para relawan alumni Azhar Mesir secara spontan, atau tuan rumah yang dikunjungi oleh TGB.

9. Oleh sebab, tuduhan atau fitnah bahwa di belakang dan yang mendanai TGB adalah “sengkuni” untuk memecah-belah kelompok tertentu merupakan fitnah keji yang dialamatkan kepada TGB.

10. Kami sangat sadar, di luar alumni Azhar Mesir, ada banyak relawan yang bergerak atas keterpanggilan hati nurani, sehingga mereka dengan suka rela mengeluarkan uang pribadi untuk membiayai operasional kegiatan.

Jadi, sekali lagi, di belakang TGB adalah rakyat Indonesia. Dan mereka saling bahu-membahu, termasuk masalah pendanaan kegiatan.

Demikian penjelasan saya. Semoga bermanfaat, sehingga menjadi jawaban dari berbagai hoax, fitnah, atau informasi yang tidak bertanggungjawab.

*Penulis Alumni Al-Azhar Kairo, Relawan TGB

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait