Artikel

Siap-siap Nonton Pagelaran Politik 2019

Oleh Zainuddin Maliki Direktur Lembaga Kajian Politik dan Sosial (LKPS)/ Ketum PW KB PII Jawa Timur

Tulisan ini sebenarnya berlatar belakang Pilpres 2014 tetapi rasanya relevan untuk kita yang tengah nunggu berlangsungnya pagelaran politik 2019. Pilpres 2014 memberi kesan dan begitu banyak paradox dalam pagelaran politik. Kita dapat banyak pengalaman luar biasa ‘aneh bin ajaib.’ Salah satunya pengalaman nobar alias nonton bareng.

Nonton bareng televisi, mula-mula hanya untuk menonton siaran langsung pertandingan olah raga. Terutama olah raga sepakbola. Itupun mengambil event-event khusus. Seperti piala dunia, atau event sepakbola penentuan ketika Ivan Dimas dkk menundukan Vietnam di kejuaraan remaja U-19 AFF 2013 lalu.

Pasangan capres 2014 pun juga memanfaatkan moment nobar piala dunia saat itu untuk kepentingan kampanye mereka. Nobar pun kemudian menginspirasi mereka untuk mengerahkan massa. Nobar debat capres di televisi. Akhirnya, nobar bukan lagi khas untuk nonton sepakbola. Nobar juga telah dimanfaatkan untuk kepentingan kampanye. Kepentingan politik. Nonton pagelaran politik.

Ketika mengamati nobar sepakbola, kita menyaksikan pihak televisi menayangkan komentarnya secara berimbang. Dalam nobar final piala dunia 2014 antara Jerman dan Argentina malam itu presenter memberi kesempatan yang sama untuk berkomentar kepada kedua pendukung. Pendukung Jerman diwawancarai oleh presenter. Begitu juga pendukung Argentina. Televisi melakukan prinsip cover both side dengan baik. Begitu juga komentator pasca pertandingan. Mereka mah tentu punya pemihakan. Rata-rata mereka mendukung Jerman. Namun, karena ia duduk di meja televisi sebagai komentator, ia berikan komentar secara obyektif. Tidak terkesan ada pemihakan.

Beda banget dengan nobar event politik seperti nobar debat capres 2014 di negeri ini. Isi tayangan debatnya sama. Tapi pilihan running text nya berbeda. Arah running text yang dibuat adalah text yang bisa memperkuat calon dukungan media yang bersangkutan, sembari menyudutkan dan melemahkan calon lawan. Running text telivisi me”mutih”kan calon dukungannya, dan meng”hitam”kan calon lawan. Running text televisi meng”gajah”kan calon yang didukungnya dan me”nyemut”kan calon lawan. Pemihakan menjadi begitu kasat mata untuk tidak mengatakan vulgar.

pagelaran politik 2019
pagelaran politik 2019

Demikian juga, siapa yang dipilih menjadi komentator, tidak boleh sembarangan. Komentatornya sudah harus diseleksi mereka yang jelas memihak calon yang didukung sang pemilik stasiun televisi. Terasa sekali pemihakan itu. Tidak lagi ada nuansa cover both side. Yang ada mengunggulkan satu pihak dan menyudutkan pihak lain.
Komentator yang berlatar belakang akademisi pun, hilang naluri akademisinya. Naluri akademisinya tergadaikan. Saat memberi komentar isi debat capres yang baru diikuti, ia telah berubah peran. Saat itu ia adalah “politisi” dan bukan “akademisi” lagi. Oleh karena itu komentar-komentarnya sangat bias. Serba bagus untuk calon yang didukungnya. Serba negative untuk calon lawan. Tidak ada lagi politik penyiaran yang berdiri di atas prinsip keberimbangan.

Karena televisi telah memihak, tidak ada lagi prinsip keberimbangan, maka pemirsa televisi sesungguhnya telah dijejali informasi yang sudah direkayasa. Informasi yang bukan senyatanya. Televisi sudah tidak bertindak sebagai jendela melihat dunia langsung. Televisi telah mengolah dunia yang hendak ditonton pemirsa sesuai dengan kepentingannya. Televisi tak lagi menyuguhkan “realitas sebagaimana adanya.” Televisi menyuguhkan “realitas yang terkonstruksi,” untuk memenangkan kepentingannya.

Melihat perangai televisi yang tidak otonom dalam pilpres 2014, membenarkan kata Schlesinger (1978) bahwa televisi bukanlah cerminan dunia ataupun “hasil rangkaian realitas.” Berita yang disiarkan bukan “jendela dunia” yang langsung, melainkan representasi yang terseleksi dan terkonstruksi yang menjadi bagian dan turut membentuk “realitas.” Pilihan berita. Kata-kata yang dibaca sang penyiar. Running text yang ditayangkan. Telop yang disuguhkan. Pilihan gambar yang disajikan. Jenis musik dan grafis. Gerakan teatrikal. Semua tidak ada yang netral. Semua telah diseleksi dan dikonstruksi untuk mendukung ideologi, untuk tidak mengatakan kepentingan pemiliknya.

Seleksi dan rekonstruksi tayangan media tentu saja sebuah keniscayaan, oleh karena itu tidak mungkin dihindari untuk tidak menyeleksi bahan dan bentuk tayangan mereka. Namun seharusnya berangkat dari fungsi dan peran media. Prinsip cover both side sebagai wujud otonomi media harusnya ditegakkan. Media adalah sang pencerah, bukan “penyesat.” Di sini pantas direnungkan kata-kata arsitek British Broadcasting Corporation (BBC), John Reith yang mengatakan bahwa siaran hanya difungsikan sebagai media hiburan saja, sama artinya dengan ’melacur.’ Media tidak selayaknya hanya memberi orang ’apa yang hanya mereka inginkan saja.’ Ia harus membawa ke sebanyak mungkin rumah tangga, apa yang terbaik dalam setiap pengetahuan, upaya dan pencapaian manusia’.
(ins)

ilustrasi: twitter fatkhul huda

Komentar Facebook

Sumber
inspirasi
Selanjutnya

Artikel Terkait

Check Also

Close