Artikel

Serangan Asimetris di Tanah Pasundan

Oleh Hendrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute

Mega proyek kota baru seperti Meikarta, LIPPO Karawaci, dan sebagainya, sejatinya merupakan jalur sejarah perlawanan Sultan Agung terhadap VOC Belanda ke Batavia. Jadi sesungguhnya ini adalah penghancuran budaya nusantara dan ingatan kolektif bangsa atas nama pembangunan ekonomi dan modernisasi.

Karawang dulu adalah daerah kekuasaan Pajajaran. Karawang sudah dikenal luas karena merupakan daerah perlintasan antara kekuasaan Pajajaran di Pakuan (Bogor) dan Galuh Ciamis. Setelah Pajajaran runtuh Karawang di bawah kekuasaan kerajaan Sumedang Larang yang meliputi Karawang, Bekasi, Purwakarta, Subang.

Saat masa kekuasaan Mataram Islam, Karawang menjadi Kabupaten di mana Adipatinya yang terkenal bernama Raden Singaperbangsa.

Saat Sultan Agung ingin menyerang VOC di Batavia, pasukan mataram berhenti di Karawang untuk menyiapkan logistik yaitu dengan membuka persawahan. Itulah kenapa Karawang akhirnya dikenal sebagai Lumbung Padi Jawa Barat.

Bukan hanya itu, banyak tentara Mataram yang tidak kembali ke Mataram tetapi hidup turun temurun di Karawang. Saat penyerbuan Batavia, pasukan Mataram diperkuat pasukan dari Priangan, Madura, Bali bahkan Bugis.

Pasukan via laut dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa sedangkan pasukan via darat dari Priangan dipimpin Adipati Ukur. Mereka bertemu di Karawang sebelum menyerang Batavia.

Daerah Bekasi, Cikarang dan Karawang adalah jalur sejarah perlawanan terhadap VOC. Penduduk yang tinggal di sana dulunya adalah sisa-sisa prajurit gabungan Mataram. Dan penduduk asli di situ sekarang adalah keturunan prajurit-prajurit yang melawan VOC.

Di Bekasi sekarang marak pembangunan perumahan oleh Sumarecon. Di Cikarang ada Meikarta milik Lippo sedangkan di Karawang ada Grand Taruma dan Taruma City milik Podomoro.

Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: