Artikel

Santri Sontoloyo

Oleh A Jojon Novandri 

Peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober 2018 kemarin mendunia. Bukan karena riuh ramai pesta peringatannya tapi insiden yang mewarnai hajat satu tahunan itu: Aksi membakar bendera bertuliskan lafadz La ilaha illallah.

Kejadian ini sontak viral setelah beredar video pembakaran bendera oleh beberapa oknum di hari santri nasional. Aksi yang kemudian sangat sukses menenggelamkan semua isu besar yang sedang hangat dibicarakan masyarakat luas, antara lain: suap pengembang Lippo Group dalam mega proyek Meikarta. Skandal besar “Buku Merah” yang kuat dugaan melibatkan pimpinan Polri. Indikasi kecurangan Pemilu dengan 31 juta data pemilih fiktif dan tentu saja aksi heroik petahana yang akan membagi-bagikan uang kelurahan menjelang Pileg dan Pilpres 2019.

Santri adalah pribadi hebat. Ia tidak hanya terdidik dengan penguasaan ilmu pengetahuan umum dan sains tapi juga belajar nilai-nilai keagamaan dengan tugas utama memperbaiki akhlak (etika) dalam segala aspek kehidupannya.

Santri yang baik adalah figur yang mestinya memberi contoh dan teladan. Gerak-geriknya menjadi panutan, sosok yang dalam dirinya terpancar sikap dan tutur kata sejuk yang menjenjam siapa saja yang melihatnya atau sedang bersamanya.

Jika santri bersikap sebaliknya. Sama sekali tidak punya akhlak dan etika maka dia bukan santri yang baik. Atau bisa juga dibilang santri Sontoloyo.

Santri yang menyulut kemarahan umat dan aksinya menjadi ruang para musuh Islam untuk mengadu domba dan melemahkan perjuangan Islam mungkin bisa juga kita sebut Santri Sontoloyo. Santri yang tidak berakhlak, bringas, bahkan brutal.

Namun bagaimanapun pahitnya perbuatan santri ia tetap manusia pembelajar. Siswa yang masih menuntut ilmu, pribadi yang masih perlu dibimbing. Sudah selayaknya dan sepantasnya bagi yang berbuat salah meminta maaf dan yang merasa kecewa, greget, geram terhadap aksi itu juga memberi maaf. Sikap maaf memaafkan adalah cermin akhlak mulia.

Terhadap aksi ini agar tidak berlarut-larut maka sebaiknya dilakukan:
Pertama, Pihak Banser/Ansor melalui ketua umumnya meminta maaf atas aksi beberapa oknum Banser yang melakukan pembakaran bendera yang berlafadz kalimat tauhid (bukan bendera HTI). Kemarin sudah meminta maaf atas kegaduhan yang ditimbulkannya. Alhamdulillah

Kedua, organisasi keagamaan besar seperti Muhammadiyah, NU, Persis, Alwashliyah, Al-Irsyad, Mathla’ul Anwar dan lainnya berkumpul dan menyatakan sikap bersama yang intinya menyayangkan aksi-aksi sejenis yang menyulut kemarahan umat dan meminta semua pihak agar dapat menahan diri. Serta menjadikan kasus ini pelajaran berharga untuk tidak lagi mengulangi aktifitas sejenis.

Ketiga, untuk pak presiden yang sedang sibuk bekerja, sebaiknya mengimbau masyarakat luas untuk menahan diri dan pentingnya menjaga persatuan bangsa dan umat jangan sampai karena “tinta setitik rusak susu sebelanga”. Mending umat diajak untuk fokus dan seluas-luasnya memikirkan bagaimana terlibat agar ekonomi kita bertumbuh, lapangan kerja luas tidak banyak menganggur, utang terbayar lunas minimal cicilan lancar.

#santrimilenial

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya
Scroll Up