Artikel

Pemimpin Tak Boleh Mencla-mencle, Sabda Pandita Ratu, Tan Kena Wola Wali

Oleh: Didik Akhmadi, Ak. MComm

Ada istilah Jawa yang cukup dikenal masyarakat yaitu “Sabda pandita ratu tan kena wola wali” atau “Sabda brahmana raja tan kena wola wali” yang artinya seorang raja atau pemimpin tidak boleh berganti ganti ucapan atau keputusan, karena kata kata seorang raja atau pemimpin itu sekali diucapkan, ucapannya akan menjadi pedoman, sumber rujukan dan putusan hukum. Bila kata yang telah diucapkan dengan mudahnya diubah maka masyarakat atau rakyat menjadi bingung mana yang harus dipedomani. Seorang pemimpin dituntut harus berhati-hati dan memikirkan matang matang dalam berucap.

Istilah “sabda pandita ratu, tan kena wola wali” bisa merupakan refleksi dari tuntunan hadits Rasulullah Saw “falyaqul khoiron au liyasmut” atau “falyaqul khoiron au liyasqut“, “Seandainya kamu tidak bisa berucap baik, sebaiknya cukup berdiam saja”.

Lalu, bagaimana dan apa yang perlu dilakukan seandainya seorang raja atau pemimpin telah berucap, tetapi apa yang diucapkannya itu terjadi kesalahan akibat informasi yang kurang lengkap?

Kesalahan Ucap

Destaratra terlanjur menunjuk Duryudana sebagai pewaris kerajaan Astina. Keputusan itu diambil karena keberadaan para Pandawa tidak jelas. Apakah hidup apa mati setelah ada peristiwa pembakaran Balai Sigolo Golo. Apalagi Sengkuni atas persetujuan Dewi Gendari terus mengojokojoki (memprovokasi) agar Destaratra segera menunjuk pengganti. Tak elok bila Destaratra terus memimpin kerajaan Astina dalam kondisi buta, sementara anak sulungnya telah menginjak dewasa. Anak anaknya yang lainnya pun sudah bisa diberi amanat kepemimpinan.

Namun tidak disangka sangka, saat ada musyawarah kerajaan yang dihadiri para sentana praja-Begawan Bisma, Durna, Sengkuni, Duryudana, Dewi Gendara- tiba tiba forum musyawarah kerajaan kedatangan Bima/Bratasena. Inti maksud kedatangan Bima adalah meminta kerajaan Astina sebagaimana dulu pernah dititipkan ayahnya Pandu Dewanata kepada Destaratra.

Kedatangan Bima disambut senang oleh Destaratra selaku pamannya. Tapi, permintaan atas titipan kerajaan menimbulkan persoalan yang pelik karena kerajaan telah ditetapkan untuk dikuasakan kepada anaknya-Duryudana. Seraya menyadari atas kesalahannya, Destaratra meminta pengertian Bima agar Bima bersedia menerima tanah pengganti yaitu Hutan alas Wanamerta, sebagaimana yang diusulkan oleh Sengkuni.

Bima/Brotoseno dengan gagahnya menerima apa yang menjadi keputusan pamannya. Dia tidak merasa perlu dibantu oleh kerabat Astina, karena khawatir nantinya akan menjadi celaan diujung waktu karena babad alas Wanamerta sebagai awal pendirian kerajaan turut dibantu oleh berbagai pihak. Yang diminta hanyalah restu dari Destaratra.. cukuplah restunya yang diharapkan. Destaratra menjadi trenyuh atas keluhuran budi anak anak Pandawa, sebegitu rasa hormatnya kepada orang orang tua. Mereka tidak menyalahkan salah ucap yang terjadi, tetapi justru tetap bisa bersabar dan terus berjuang menggapai asa.

Destaratra hanya bisa menyesali salah ucapnya dan mengutuk Sengkuni atas segala perilaku culasnya. Hanya karena Sengkuni adalah adik Dewi Gendari, Destaratra tidak bisa berbuat banyak. Sesungguhnya Destaratra pun bisa membaca batin Sengkuni bahwa pemberian atas Wanamerta itu sebetulnya juga bukan sebagai tanah pengganti tetapi Wanamerta diharap bisa menjadi kuburan baru para Pandawa karena hutan itu merupakan hutan yang angker yang dihuni para raja jin dan peri perayangan.

Inti Kisah

“Sabdo Pandita Ratu Tan Keno Wola Wali” atau “Sabda Brahmana Raja tan kena wola wali” yang selalu dikisahkan dalam gelaran wayang merupakan ajaran budaya politik Jawa. Ajaran itu menuntut bahwa setiap pengambilan keputusan harus dilandasi dengan pertimbangan yang matang dan sebaiknya keputusan itu terlebih dulu dimusyawarahkan dengan pihak-pihak terkait. Pada sosok pemimpin, sikap yang harus dimiliki adalah hati-hati dalam berucap. Ajaran ini merupakan refleksi dari tuntunan Hadits Rasulullah Saw: ‘falyaqul khoiron au liyasmut’ ‘berkatalah yang baik atau diam’.

Jika sebuah keputusan sudah diambil dan ternyata keputusan itu ternyata salah akibat kekurang-lengkapan informasi maka keputusan awal sebaiknya tidak perlu diubah. Namun, sang pemimpin perlu menyesali diri dan secara ikhlas meminta maaf kepada pihak yang dirugikan seraya berupaya mengganti kerugian yang terjadi, sebisanya sebesar nilai kerugian.
Pihak yang dirugikan siap menerima keputusan yang telah diambil dengan terus menjaga penghormatan terhadap pihak tetua-tetua yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan, sambil ber-khusnudzon kepada Allah-Tuhan Penguasa Alam bahwa Allah pasti akan mengganti segalanya dengan ganjaran yang lebih baik.

“Walal akhiratu khoirullaka minal ula”.”Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan”. Bima yakin bahwa hari akhir itu lebih dari pada permulaan. Seandainya Negeri Astina itu belum bisa diminta meski itu adalah haknya; negeri yang baru pasti akan didapatkan. Lewat babad Alas Mertani, Bima berhasil membangun negeri yang baru, yaitu Negeri Indraprasta atau Amarta. (SS)

* Didik Akhmadi, A.Comm, Pengamat Budaya Politik lslam, KB PII Yogbes

Tags
Selanjutnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker