Artikel

Ramadhan, Madrasah Akhlak

Oleh: Sabrur R Soenardi*)

Ramadhan adalah bulan kesabaran dalam beribadah dan menahan godaan. Pahala kesabaran itu tidak lain dan bukan adalah surga. Ramadhan juga bulan untuk menunjukkan sikap simpati, empati, solidaritas, dst. Itulah kenapa pula, Ramadhan juga bulan di mana rezeki orang mukmin bertambah. Inilah beberapa makna yang agung dari Ramadhan. Intinya, ada buah yang diharapkan setiap Muslim begitu keluar dari madrasah Ramadhan, sang bulan utama, setelah ia mempersiapkan diri sedemikian rupa untuk menyambut kedatangannya laksana menyambut tamu yang mulia dan telah lama menunggu, serta “menanggapi” sang tamu dengan bermacam ibadah dan kebajikan (suluk) dengan khusyuk dan ikhlas.

Sejak memasuki madrasah yang mulia ini, setiap Muslim menjinakkan dirinya untuk berpuasa, salat malam (tarawih), dan beramal saleh lainnya (di siang hari). Ganjaran akan ditulis bahkan ketika Muslim baru meniatkan amal-amal saleh ini. Begitupun ketika seseorang menyiapkan dirinya untuk membersihkan dari keburukan dosa, dengan pertama-tama meniatkan diri untuk melakukan hal itu, kemudian secara konsisten mengimplementasikannya dalam praktik (suluk) selama Ramadhan, sehingga selama sebulan penuh ia tidak menjadi lalai, tetapi khusyuk.

Niat untuk berbuat bajik ini menjadikan seseorang seakan-akan sudah menjalankannya. Jika kemudian karena sesuatu dan lain hal ia tidak berpuasa (misalnya karena sakit, bepergian), tidak masalah, karena niat orang Mukmin itu lebih baik daripada amalnya.
Tazkiyah atau penyucian adalah satu di antara level-level keimanan, dan merupakan satu di antara tujuan diutusnya para rasul. Allah SWt berfirman dalam Alquran: “Sebagaimana Kami telah mengutus di antara kamu seorang utusan dari golonganmu sendiri, yang membacakan kepadamu ayat-ayat Kami, menyucikanmu, mengajarkan kepadamu Kitab dan Hikmah serta mengajarkan apa yang kamu tidak tahu.” Dalam ayat Alquran di atas (QS Albaqarah: 151), dan juga ayat-ayat senada di surat yang berbeda-beda, Allah SWT menjelaskan bahwa tazkiyah (penyucian) adalah salah satu tujuan diutusnya Nabi SAW kepada para hamba.

Tazkiah atau penyucian berarti mendidik diri dari sifat sombong dan bangga, berakhlak dengan akhlak yang mulia, yang karena diutus Nabi Saw, sebagaimana sabda beliau: “Tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang baik (shalih al-akhlaq),” atau dalam riwayat lain: “Tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (makarim al-akhlaq).” (Dua hadis di atas, meski dengan versi yang agak berbeda, diriwayatkan antara lain oleh: Ahmad, Malik, Bukhari, al-Hakim, al-Baihaqi, juga dalam al-Silsilah al-Shahihah, 1/75).

Akhlak itu dibagi dua. Yang pertama adalah akhlak bawaan, yang kedua akhlak karena diupayakan, pembentukan. Akhlak bawaan haruslah dilandasi keimanan. Jika tidak dilandasi iman, sebaik apa pun akhlak, maka tak akan ada nilainya di sisi Allah SWT. Ada kisah suatu kali anak gadis Hatim al-Thai mendatangi Nabi dan meminta agar ayahnya dibebaskan. Ia kemudian menyebutkan bahwa sang ayah adalah orang yang selalu berakhlak mulia sejak kecil, sambil menyebutkan perbuatan-perbuatan luhur ayahnya: menolong yang kesulitan, menghormati tamu, membantu orang miskin, mencintai perdamaian, tidak pernah menolak peminta-minta, dst. Nabi SAW bersabda: “Nak, itu semua adalah sifat Mukmin sejati. Jika ayahmu adalah seorang Muslim tentu kami akan mencintainya.”

Lalu Nabi berkata kepada sahabat-sahabatnya: “Bebaskan gadis ini, karena ayahnya adalah manusia yang menyukai akhlakul karimah, dan Allah mencintai akhlak yang mulia.”

Lalu muncullah Abu Burdah bin Nayyar RA, berkata: “Wahai Rasulullah! Allah Yang Mahakuasa mencintai akhlak yang mulia?” Rasulullah SAW menjawab: “Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak ada yang akan masuk surga kecuali dengan memiliki akhlak yang baik.” (hadis ini ada dalam Dala’il al-Nubuwwah karya al-Baihaqi, hadis nomor 2099)

Sementara akhlak (etika) yang diusahakan, dibentuk, adalah apa yang ditampilkan oleh seseorang dengan cara berusaha menundukkan nafsunya di atas sifat-sifat mulia. Dalam hal ini Rasulullah SAW berdabda: “Sesungguhnya ilmu didapat melalui belajar, kesopanan diperoleh melalui bersikap sopan. Siapa yang mengejar kebaikan, akan diberikan kebaikan itu untuknya. Siapa yang menjauhi kejahatan, akan dijaga kejahatan darinya.” (Hadis dari Mu’awiyah RA, dalam Majma’ al-Zawa’id, 1/154).
Nabi SAW di kali yang lain juga bersabda: “Siapa yang berusaha menjaga kehormatan, Allah akan menjaga kehormatannya. Siapa yang merasa cukup, Allah akan mengayakannya. Siapa yang berusaha sabar, Allah akan menganugerahinya sifat sabar. Dan, tidak ada sesuatu pun yang diberikan kepada seseorang lebih baik dan lebih luas ketimbang kesabaran.” (HR Bukhari no. 1469, Muslim no. 1053, dari Abu Sa’id al-Khudri RA)

Itu semua menunjukkan bahwa akhlak yang terpuji itu harus diupayakan oleh setiap Muslim, dan setiap Muslim harus menjinakkan nafsunya demi meraih kemuliaan akhlak.

Bulan Ramadhan sebuah madrasah yang agung untuk mendidik nafsu, sehingga akhlak-akhlak buruknya tergerus, dan akhlak-akhlak mulianya bersemi. Sebab, orang yang berpuasa itu berada di puncak kedekatan dengan Tuhan-nya, Allah SWT. Seluruh badan dan keinginannya berpuasa dari apa pun yang dilarang oleh Allah. Ia tidak berkata kotor, tidak berucap jorok, dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, sebaliknya ia berkata: “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Sebab, dia sadar, jika dia tidak menjaga pendengaran dan penglihatannya, maka hakikatnya dia tidak berpuasa dan hanya sekadar lapar dan haus saja yang diperolehnya. Rasul SAW bersabda: “Siapa yang tidak bisa mencegah diri dari berkata dusta, bertindak dusta, maka Allah tidak butuh dengannya ketika menahan diri dari makan dan minum.” (HR Bukhari, dari Abu Hurairah RA).
Sementara di lain sisi, dia juga menyucikan diri dengan beribadah, baik itu salat, zakat, membaca Alquran, dan amal-amal kebajikan yang lain. Maka tumbuhlah akhlak mulia selama Ramadhan itu, terdidiklah nafsunya, sehingga menjadi kebiasaan dan karakter, dan manakala keluar dari madrasah Ramadhan ia memiliki akhlak yang mulia. “Akhlak itu sendiri,” kata penyair Ma’ruf al-Rashafi, “tumbuh layaknya tumbuhan, jika kausiraminya dengan kemuliaan” (hiya al-akhlaq tanbutu ka al-nabat, idza saqaita bi ma’ al-mukrimat).
Allah SWT telah berfirman menjelaskan alasan dan tujuan berpuasa: “Hai rang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kalian bertakwa.” (QS Albaqarah: 183). Allah menutup ayat-ayat tentang syariat puasa ini, di mana itulah yang diharapkan sebagai akhir dari kewajiban puasa, dengan firman-Nya: “…demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka bertakwa.” (QS Albaqarah: 187).

Takwa itu sendiri tingkatan tertinggi sebagai manifestasi akhlak. Karena, takwa mengandung arti menghapus keburukan dan menggantinya dengan tindakan-tindakan utama, sehingga seseorang tidak jatuh dalam hal-hal yang terlarang, serta tidak menentang kepada hal-hal yang diperintahkan. Kondisi atau profil seperti ini hanya mungkin diraih oleh orang yang berpuasa di bulan Ramadhan, karena dia berpeluang untuk membersihkan diri dan membentuk akhlaknya di bulan itu untuk kemudian bisa menjadi orang yang bertakwa.

Bahkan, dia berpeluang menjadi orang-orang yang dekat dengan Allah, yang Allah akan membanggakannnya di hadapan para malaikat, sebagaimana tersurat dalam sebuah hadis qudsi, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Semua amal anak Adam untuk dirinya, kecuali puasa, maka itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya. Tidak lain ketika dia meninggalkan makanan dan minuman adalah semata untuk-Ku, maka puasanya adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Setiap kebaikan diganjar sepuluh kali, hingga tujuh ratus kali, kecuali berpuasa, maka itu untuk Aku, dan Aku yang akan memberi pahala-Nya.” (Musnad Ahmad, 2/257).(*)

*) Penulis adalah alumnus Ma’had al-Wathoniyah al-Islamiyah, Petanahan, Kebumen & PPs UIN Sunan Kalijaga, serta eksponen PII Yogyakarta Besar.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up