Artikel

Ramadhan dan Dua Kegembiraan

Oleh: Sabrur R Soenardi*)

Ada sebuah hadis yang sangat populer, dan di saat-saat Ramadhan seperti sekarang seringkali dikutip oleh para khatib Jumat ataupun penceramah tarawih dan subuh. Dalam hadis tersebut diriwayatkan Nabi Saw bersabda: Li al-shaimi farhatani, farhatun ‘inda al-ifthar wa farhatun ‘inda liqai rabbih. Artinya kurang lebih: Bagi orang yang berpuasa akanmendapatkan dua kegembiraan, kegembiraan pada saat ia berbuka, dan kegembiraan pada saat nanti berjumpa dengan Tuhan-nya (ketika mati). (HR Bukhari Muslim).

Kegembiraan (farhah) yang pertama kita dapatkan sekarang di dunia ini, yakni pada saat kita berbuka (membatalkan puasa) ketika bedug magrib tiba. Kegembiraan ini bersifat material, ini karena terkait dengan kenikmatan fisikal-biologis manakala kita meneguk minuman, menyantap makanan, setelah lebih dari dua belas jam kita menahan lapar dan dahaga. Sesedikit atau sesederhana apa pun menu minuman atau makanan kita, terasa begitu enak, nikmat, dan sedap. Setelah sekian jam lamanya kita menahan lapar dan dahaga, kini bedug magrib tiba, dan kita dihalalkan makan dan minum apa pun sesuai selera kita. Kita telah lulus melewati ujian sehari lamanya tanpa makan dan minum. Alangkah senangnya. Itulah kegembiraan kita pada saat berbuka (‘inda al-ifthar), yakni perasaan senang karena kita akan melalui kenikmatan makan dan minum.

Sedangkan kegembiraan yang kedua akan kita dapatkan nanti, ketika kita mati menghadap sang Khalik Allah Swt. Berbeda dengan yang pertama, kegembiraan kedua ini bersifat spiritual, karena kita meraihnya kelak di alam eskatologis (barzakh, akhirat) yang nota bene berbeda dimensinya dengan alam material (duniawi) yang kita alami sekarang. Tidak ada seorang pun yang tahu, bagaimana formulasi kegembiraan (farhah) di alam eskatologis. Sebab, sebagaimana dikabarkan oleh Allah sendiri, segala nikmat ukhrawiah hanya Dia sendiri yang tahu, dan yang jelas punya ciri-ciri sebagai berikut: tidak pernah terbetik dalam hati, tak pernah terlihat mata, tak pernah terdengar telinga.

Untuk kegembiraan (farhah) yang kedua ini, karena bersifat spiritual, maka keimananlah yang membuat kita yakin bahwa hal itu ada. Maka sangat logis memang, jika dalam QS al-Baqarah: 183, Allah hanya memanggil orang-orang yang beriman untuk menjalankan puasa. Tanpa modal iman, tidak mungkin orang sudi melaksanakan puasa. Seseorang yang berpuasa bukan karena dilandasi oleh iman, tetapi karena lain hal—yang tidak diridhai Allah (misalnya: malu, riya, terpaksa, dll), menjadikan ibadah puasanya itu kurang sempurna, bahkan sangat mungkin berpotensi tidak diterima di sisi Allah Swt (mardud). Ia tidak mendapatkan ganjaran apa pun dari puasanya itu, kecuali rasa lapar dan dahaga (sebagaimana dinyatakan sebuah hadis: laisa lahum min syiyamihim illa al-ju’a wal-‘athasy). Orang yang puasanya macam begini, tentu saja tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan kegembiraan yang kedua itu: kegembiraan (farhah) ketika bertemu dengan Allah. Logikanya, jika Allah tidak menerima puasa seorang hamba (karena mengandung noda pamer, unsur terpaksa, faktor malu, dll), bagaimana mungkin Dia akan berkenan menemui hamba tersebut?

***

Di bulan Ramadhan, orang-orang beriman yang melaksanakan ibadah puasa terbagi menjadi dua kelompok dalam kaitannya dengan persoalan kegembiraan (farhah) ini. Pertama, adalah mereka yang terobsesi betul dengan “kegembiraan saat berbuka”. Karena saking terobsesinya dengan kegembiraan yang berhubungan erat dengan kepuasan biologis (makan minum) ini, maka dalam menjalankan puasa ini pikiran mereka hanya berkisar kapan bedug magrib tiba, apa saja menu makanan yang tersaji di meja makan, serta bayangan betapa enak dan senangnya kala menyantap dengan lahap aneka makanan dan minuman tersebut. Bagi orang-orang ini, bisa jadi puasa di siang hari, dengan menahan lapar dahaga, bukanlah sesuatu yang mengasyikkan, sebaliknya: menyiksa dan penuh derita. Bagi mereka, suasana atau pengalaman paling asyik, enak, dan menggembirakan adalah bersantap-santap di kala magrib. Begitupun ibadah malam seperti tarawih, tadarus, mengaji, dan semacamnya, bagi mereka bisa jadi bukan sesuatu yang menyenangkan. Apa sebab? Tentu saja, oleh karena kondisi perut mereka yang penuh makanan, maka membuat mereka agak malas beribadah.

Obsesi yang berlebihan terhadap “kegembiraan di kala magrib” inilah, di mana, sekali lagi, lebih banyak berhubungan dengan masalah kepuasan perut, yang kemudian secara sosio-ekonomis berdampak pada fenomena kenaikan harga bahan makanan (sembako, lauk pauk, dsb) di kala Ramadhan. Apa sebab? Karena, bagi orang-orang ini, Ramadhan lebih identik dengan makan seenaknya dan sepuasnya di saat magrib tiba. Sehingga, demi kebutuhan seperti ini membuat permintaan (demand) merangkak naik, sementara persediaan (supplay) kurang bisa memenuhi. Akibatnya sudah bisa ditebak, harga-harga menjadi naik.

Orang-orang ini, bisa jadi, sangat tidak nyaman dengan kehadiran Ramadhan. Berpuasa di siang hari, menahan ini dan itu (makan, minum, berhubungan seks dengan suami/istri, dll), bagi mereka sama sekali tidak mengenakkan. Dalam pikiran mereka, Ramadhan hendaknya segera berlalu saja, dan datanglah Idul Fitri, di mana mereka bisa bebas melakukan apa saja, terutama makan dan minum enak, sebagaimana kebebasan mereka di bulan Ramadhan ketika magrib tiba. Maka ketika Idul Fitri menjelang, orang-orang ini makin kurang konsentrasi beribadah. Sebab, pikiran mereka lebih banyak terkuras untuk persiapan hari raya, baik itu menyangkut menu-menu makanan di ruang tamu, baju lebaran, aneka perabot, dll.

Orang-orang seperti ini, yang profil puasanya seperti itu, mungkinkah cukup layak untuk mendapatkan kegembiraan (farhah) yang kedua kelak di akhirat: kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhan-nya (farhah ‘inda liqa’ rabbih)?

Kedua, adalah orang-orang yang lebih terobsesi dengan “kegembiraan saat bertemu Tuhan” ketika di akhirat kelak. Sehingga, mereka menjalani ibadah puasa Ramadhan ini, dengan segala pernak-pernik ibadah wajib dan sunnah di dalamnya, secara sebaik-baiknya, supaya puasa mereka menjadi sempurna, di mana itu menjadi syarat mutlak untuk bisa meraih kegembiraan spiritual: farhah ‘inda liqa’ rabbih (berjumpa Tuhan di akhirat kelak dengan penuh bahagia nan gembira). Oleh karena itu, mereka menikmati betul ibadah puasa yang mereka jalani.

Kenikmatan yang mereka raih adalah kenikmatan iman (halawatul-iman). Bagi mereka, menahan diri dari makan dan minum, bersebadan, berbicara keji, berbohong, dan lain sebagainya yang membatalkan puasa, adalah sebuah kenikmatan tersendiri; kenikmatan iman, yakni kenikmatan dalam taat kepada Allah untuk menjalankan perintahnya, di mana kenikmatan seperti itu hanya bisa dirasakan oleh hati dengan iman yang tulus nan kuat, dan tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan material-fisikal macam apa pun.

Bagi orang-orang ini, kenikmatan biologis di saat magrib tiba (farhah ‘inda al-ifthar), bukanlah sesuatu yang paling berharga, puncak, meskipun sebagai orang yang berpuasa mereka juga berhak menikmatinya, mengalaminya. Hanya saja, mereka tidak terlalu terobsesi. Mereka justru lebih terobsesi dengan “kenikmatan” dalam ketaatan menjalankan titah Tuhan melalui berpuasa. Oleh karena itu, mereka tak terlalu ambil pusing dengan bedug magrib, ataupun aneka menu berbuka. Sebab, mereka toh hanya akan berbuka sekadarnya saja, hanya sebatas untuk membatalkan puasa, mengganjal perut agar sedemikian hingga cukup kuat untuk beribadah lagi di malam hari, yakni tarawih, tadarus, dll. Andaipun akan makan cukup banyak, mereka akan mengatur sedemikian rupa jadwalnya, sehingga tidak mengganggu kekhusyukan beribadah di malam hari itu. Sebab mereka tahu, di bulan Ramadan, baik siang atau malamnya sama saja, yakni sama-sama menyuguhkan keberkahan dan karunia Allah Swt, sehingga pantang untuk dilewatkan dari kegiatan-kegiatan ibadah.

Jika Ramadhan akan segera berlalu, apalagi sudah memasuki hari-hari terakhir, orang-orang ini makin giat beribadah. Mereka ingin agar bisa memaksimalkan ibadahnya sebelum akhirnya bulan Ramadhan benar-benar pergi. Apalagi, di akhir Ramadhan Allah menjanjikan “malam seribu bulan” (Lailatul Qadar), di mana ibadah pada malam itu diganjar seumpama beribadah selama 80 tahun lebih. Maka mereka justru tidak ingin samasekali hari-hari terakhir Ramadhan, terutama di malam hari, justru kosong dari kegiatan ibadah. Mereka tidak terlalu pusing soal menu makanan dan minuman di hari raya, baju baru, atau tetek bengek lainnya, karena bagi mereka yang terpenting adalah bagaimana takwa mereka di saat hari raya nanti makin meningkat setelah digembleng satu bulan lamanya dalam “madrasah ruhani” Ramadhan. Bukankah bulan Syawal (pasca Ramadhan), secara harafiah artinya “peningkatan”?

Ketika Ramadhan akhirnya benar-benar berlalu, orang-orang ini sungguh sangat sedih. Sang “tamu agung” itu telah pergi, Ramadhan, yang membawa sejuta berkah dan karunia. Mereka sedih karena bulan yang penuh rahmat dan ampunan Tuhan, yang menyediakan malam Lailatul Qadar, itu, kini telah pergi. Mereka teringat sabda Nabi SAW: Seandainya umatku tahu keagungan di balik Ramadhan, niscaya mereka berharap kiranya Allah menjadikan satu tahun Ramadhan semua. Mereka sedih, karena bisa jadi merasa belum bisa maksimal dalam beribadah di bulan Ramadhan. Mereka sedih, karena jangan-jangan di tahun mendatang belum tentu bisa berjumpa dengan Ramadhan lagi.

Nah, akhirnya, silahkan kita semua “metani” pribadi masing-masing, masuk di kelompok manakah kita di bulan puasa ini? Yang sedih, atau yang senang, dengan datangnya Ramadhan? Yang senang, atau yang sedih, dengan saat kepergian Ramadhan—yang sudah menjelang? Wallahu a’lam.(*)

*) Penulis adalah alumnus Ma’had al-Wathoniyah al-Islamiyah Petanahan Kebumen & PPs UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, juga eksponen PII Yogyakarta Besar.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

One Comment

Scroll Up