ArtikelFeatured

Rahasia di Balik Kemeja Putih Pak Jokowi

Oleh : Nasruddin Djoha

Mengapa Jokowi sering bolos dari forum-forum internasional? Rahasianya sekarang baru terbuka.

Alasannya sangat sederhana, tapi cukup prinsipil. Dia ingin tetap menjadi orang Indonesia. Bukan menjadi orang Eropa. Kalau harus hadir di forum-forum internasional, kan harus pakai jas. Harus berbahasa Inggris pula. Benar-benar jadi orang Eropa.

Biar Wapres Jusuf Kalla yang jadi orang Eropa. Pakai jas dan cas cis cus berbahasa Inggris. Karena itu dia yang diutus ke semua forum internasional. Mulai dari Sidang Umum PBB, pertemuan G-20, pertemuan OK, dan pertemuan-pertemuan lain mempersayaratkan jas dan bahasa Inggris.

Jokowi memilih fokus urusan dalam negeri. Cukup menggunakan kemeja putih, dan tentu saja tetap berbahasa Indonesia.

Rahasia itu secara tidak langsung dibuka Jokowi belum lama ini. Kepada para pendukungnya Jokowi mengajak pada tanggal 17 April mengenakan kemeja putih. Pakaian orang Indonesia. Jangan memakai jas. “Jas itu mahal, itu pakaian orang Eropa,” katanya.

Soal ajakan memakai kemeja putih dan menolak memakai jas ini sekarang sedang ramai di media dan medsos. Sebuah meme yang beredar, Presiden Jokowi terlihat sedang menggunakan pakai sipil lengkap dengan jas dan dasi. Di bawahnya ada komentar, “Awas ada orang Eropa mau lewat.”

Di foto yang lain, Jokowi tampak turun dari pesawat. Dia terlihat menggunakan kain sarung tapi mengenakan jas. Di bawahnya ada komentar “ Ada orang Amerika sedang belajar pakai sarung.”

Itulah perlawanan gaya milenial. Bercanda, tapi mengena.

Ajakan Jokowi kepada para pendukungnya mengenakan kemeja warna putih seharusnya tidak perlu dipermasalahkan. Gaya ini memang jadi ciri khas Jokowi. Kemeja putih tangan panjang, dengan lengan digulung, dipadukan celana warna hitam jadi semacam merek dagang Jokowi.

Memasuki massa kampanye kemeja itu ditambahi tulisan “ Bersih, Merakyat, Kerja Nyata.”

Sampai disitu tidak jadi masalah. Dalam marketing disebut sebagai diferensiasi. Dia ingin berbeda dengan kompetitornya, pasangan Prabowo – Sandi yang sering mengenakan jas. Atau Sandiaga Uno yang mempopulerkan kemeja biru, celana cream. Warna biru adalah simbul pekerja kelas bawah (blue colour).

Yang jadi masalah ketika Jokowi mengeluarkan pernyataan bahwa jas itu mahal, pakaian orang Eropa. Pakai kemeja putih saja, murah harganya.

Padahal sebagai presiden, dalam acara-acara resmi kenegaraan, apalagi ketika menerima tamu asing, tak terhindarkan Jokowi harus menggunakan jas, pakaian sipil lengkap ( PSL). Aturan protokolernya memang begitu.

Urusan kemeja putih ini menunjukkan bagaimana sebenarnya dialektika dan cara berpikir Jokowi. Dia sering menggunakan teknik mempertentangkan kelas. Sebuah teori yang diperkenalkan oleh filsuf Karl Marx dan sering disebut sebagai teori kelas Marxisme : Orang Kaya Vs Orang Miskin. Orang Indonesia Vs Orang Eropa. Kalau di zaman Orla ada istilah Setan Kota, Setan Desa.

Jokowi mencoba menempatkan diri sebagai orang miskin, kelas bawah berhadapan dengan Prabowo orang kaya. Kaum kapitalis versus kaum pekerja. Pemilik modal versus buruh. Kaum borjuis versus kaum proletar.

Coba perhatikan ketika dia menyerang kepemilikan tanah Prabowo. Dia ingin menggambarkan Prabowo sebagai orang kaya jahat yang memiliki tanah sangat luas, tapi berteriak-teriak membela rakyat miskin.

Karena itu dia menantang Prabowo untuk mengembalikan tanah itu ke negara, untuk dibagi-bagikan ke rakyat miskin. Cara berpikir khas kaum proletar yang populis.

Menyebut jas itu mahal dan pakaian Eropa juga cara berpikir mempertentangkan kelas. Prabowo adalah orang kaya mengenakan pakaian mahal, dan pro asing. Sebaliknya dia mengenakan pakaian putih, merakyat dan sederhana.

Cara berpikir Jokowi ini kalau diterus-teruskan sangat berbahaya. Dia akan membuat rakyat semakin terbelah. Pendukung saya, versus pendukung Prabowo. Pendukung saya versus pendukung musuh.

Lebih ngeri lagi bila benar seperti diinstruksikan Jokowi bahwa semua pendukungnya ramai-ramai ke TPS mengenakan kemeja putih. Itu akan menjadi semacam proses pembelahan. Menjadi semacam intimidasi.

Yang tidak memakai pakaian putih adalah penentang Jokowi. Yang tidak memakai kemeja putih adalah penentang pemerintah dan anti NKRI.

Wahai seluruh rakyat Indonesia, mari pada tanggal 17 April kita mengenakan kemeja putih. Kenakan ikat kepala merah putih. Karena pendukung Jokowi maupun Prabowo adalah rakyat Indonesia. Jangan mau dipecah belah!

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Check Also

Close
Scroll Up