Artikel

Puasa, Wahana Mendidik Jiwa

Oleh: Sabrur R Soenardi*)

Kali ini kita sedikit mengupas kaitan puasa Ramadhan dengan upaya mendidik jiwa (tahdzîb al-nafs). Para ulama berpandangan bahwa setiap manusia memiliki satu jiwa (nafs wâhidah). Namun demikian, sang jiwa ini memiliki tiga kondisi, yang masing-masing punya sifat yang berbeda satu sama lain. Pertama, jiwa yang tenang dan tunduk kepada perintah Tuhannya, pasrah kepada-Nya, serta berusaha untuk memerangi syahwatnya, maka ia dinamakan “al-nafs al-muthmainnah” (jiwa yang tenang). Rujukan hal ini adalah firman Allah SWT: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha lagi diridhai” (QS al-Fajr: 27-28).

Kedua, ketika jiwa tidak sempurna ketenangannya dan condong atau berdiri pada syahwat dan kesenangannya, tetapi di sisi yang lain juga menentang syahwat dan kesenangan tersebut, maka ia berubah menjadi “al-nafs al-lawwâmah” (jiwa yang tercela, yang buruk), karena sang jiwa mencela pemiliknya saat lalai dari ibadah kepada Tuhan Penciptanya. Dengan kata lain, jiwa model ini sesungguhnya tahu mana yang baik dan mana yang buruk, mana hak mana batil; ketika ia berlaku buruk, ia menyesal dan ada keinginan kembali ke jalan Tuhan. Allah berfirman dalam hal ini: “Dan Aku bersumpah demi jiwa yang tercela” (QS al-Qiyamah: 2).

Ketiga, ketika jiwa meninggalkan keberpalingannya dari syahwat dan kesenangan, dan lebih taat kepada ajakan syahwat dan godaan setan, maka ia dinamakan “al-nafs al-ammârah bi al-sû’” (jiwa yang menyuruh kepada keburukan). Dalam hal ini kita bisa tengok firman Allah: “Aku tidaklah membebaskan jiwaku (dari kesalahan), sesungguhnya jiwa itu menyuruh kepada keburukan, kecuali yang dirakhmati Tuhanku” (QS Yusuf: 53).

Allah SWT menguji manusia dengan dua jiwa ini: lawwâmah dan ammârah, sebagaimana Allah memuliakan manusia dengan jiwa muthmainnah yang dimilikinya. Maksudnya, bahwa jiwa tunggal (nafs wâhidah) milik manusia itu bisa berpotensi menjadi lawwâmah, ammârah, dan muthmainnah. Kondisi yang ketiga, muthmainnah, adalah puncak kesempurnaan dan kebaikan jiwa. Wawasan tentang (ujian) ini bisa dilihat dalam firman Allah SWT: “Demi jiwa dan penyempurnaannya. Maka Allah sudah mengilhaminya, kedurhakaannya dan ketakwaannya. Sungguh beruntung siapa yang menyucikan jiwanya. Sungguh celaka siapa yang mengotori jiwanya.” (QS al-Syams: 7-10). Dari ayat-ayat di atas jelas tergambar, bahwa Allah menunjukkan kepada jiwa tentang dua jalan: jalan kebaikan dan jalan kejahatan. Kemudian Allah menentukan, bahwa keberuntunganlah bagi manusia yang menyucikan jiwanya melalui ketaatan kepada Allah, sehingga Allah akan membersihkan jiwanya dari segala kekotoran dan dosa. Dan sebaliknya, kehinaan dan kerugianlah bagi siapa yang mengotori dan menistakan jiwanya; ia akan dijauhkan dari hidayah sehingga hidupnya hanya bergelimang maksiat dan mengabaikan ketaatan kepada Allah.

Satu hal yang jelas dan prinsipal dari QS al-Syams di atas, bahwa jiwa menerima kemungkinan untuk disucikan atau sebaliknya, dikotori. Dengan iman, dengan amal saleh, jiwa akan menjadi suci, mulia, dan tenang (muthminnah). Sebaliknya, karena kekafiran dan amal buruk, jiwa menjadi hitam dan kotor, dan itulah yang menjadikan kehinaan dan kerusakan jiwa itu sendiri.

Kita bersyukur dengan adanya bulan Ramadhan. Sebab, Ramadhan memberi kesempatan yang luas bagi kita untuk mendidik dan menyucikan jiwa. Derajat manusia, sebagaimana ditegaskan Imam al-Ghazali dalam Ihyâ’ Ulûm al-Dîn, berada di atas binatang, karena manusia mampu menaklukkan syahwatnya dengan pancaran akal budinya. Di sisi lain, derajat manusia berada di bawah malaikat karena keberadaan syahwat yang meliputi dirinya dan posisi manusia yang diuji untuk berjuang mengalahkan syahwat tersebut. Ketika manusia kalah oleh syahwatnya, maka dia jatuh ke tingkatan terrendah (asfala sâfilîn), lebih rendah dari binatang. Sebaliknya, jika dia bisa menaklukkan syahwatnya, maka derajatnya terangkat ke tingkatan tertinggi (a’lâ ‘illiyyîn),setara atau bahkan lebih tinggi dari malaikat.

Malaikat adalah makhluk yang dekat dengan Allah SWT. Maka manusia yang meneladani malaikat, meniru akhlak-akhlak mereka, ia akan mendekat kepada Allah sebagaimana para malaikat. Orang yang menyamai “yang dekat”, dia dianggap “dekat” juga. Akan tetapi, deka di sini bukan dalam arti posisi, melainkan dalam hal sifat-sifatnya. Maka inilah sesungguhnya rahasia puasa bagi orang-orang yang memiliki akal budi (arbâb al-albâb) dan hati nurani (ashâb al-qulûb). Apa bedanya mengakhirkan makan di petang hari (magrib), atau bahkan kemudian mengulanginya sehabis isyak, dengan menahan hawa nafsu sepanjang siang hari? Apa makna sabda Nabi SAW: “Bisa jadi orang yang berpuasa tidak ada baginya, dari puasanya, kecuali rasa lapar”(HR Ahmad, dari Abu Hurairah, disahihkan oleh al-Albani)? Maka yang dimaksud di sini, puasa bukan sekadar persoalan mengubah waktu makan atau sarapan, namun yang utama ini adalah soal menaklukkan syahwatnya, sehingga ia bisa menaiki derajat atau tingkatan malaikat.

Yang mesti dipahami, bahwa jika kita ingin baik dan berubah, maka yang harus diperbaiki dan diubah adalah, pertama-tama, jiwa kita, sesuai dengan firman Allah: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada diri suatu kaum, sebelum mereka mengubah jiwa mereka sendiri” (QS al-Ra’d: 11). Tentu saja, tujuan perubahan atau pembenahan itu tidak lain, pada level tertingginya, untuk membentuk jiwa yang muthmainnah (tenang, sakinah), tunduk pada perintah-Nya, dan pasrah pada kehendak-Nya; berjuang untuk meraih cinta (mahabbah)-Nya, dengan cara melaksanakan segala titah-Nya (imtitsâli awâmirih) dan menjauhi semua larangan-Nya (al-ibti’âd ‘an nawâhîh), penuh harap dan juga khawatir jika Allah tidak menerima amal salehnya, khawatir jika keberuntungannya di sisi Allah runtuh, khawatir akan ancaman Allah atas orang-orang yang menyelisihi perintah-Nya.

Ibadah puasa membantu seorang Muslim untuk mencapai tujuan spiritual ini. Puasa membantu seseorang untuk mengatasi kelemahan manusiawinya (al-dla’f al-basyariyyah) di hadapn hawa nafsu dan kesenangan-kesenangan syahwatiahnya. Dalam diri orang yang berpuasa tumbuh suatu keyakinan dalam jiwanya bahwa dia, dengan izin Allah, akan mampu untuk menaklukkan godaan nafsu, mengekang syahwat, bukan sekadar dalam soal menghindari hal-hal yang diharamkan: makanan haram, zina, minum khamar, merokok, atau berkata dusta (qaul al-zûr), tindakan zalim dan aniaya, tetapi bahkan menghindari hal-hal yang dihalalkan semenjak azan subuh dikumandangkan hingga azan magrib dikumandangkan.

Apa tujuan dari lelaku atau riyadhah seperti itu? Tidak lain adalah agar terpatri di relung jiwa terdalam setiap Muslim dan Muslimah bahwa sepanjang eksistensinya sebagai insan yang  memiliki fitrah, dan yang berjiwa, maka dengan pertolongan Allah jiwanya bisa berubah, bisa menyucikan diri, dengan jalan taat kepada Tuhannya. Melalui laku puasa, dia bisa mengekang jiwa (nafs)-nya untuk menghindari yang halal demi tunduk pada perintah Tuhannya, maka seyogianya dia bisa pula menjauhi hal-hal yang diharamkan, menjauhi syahwat, atas dasar ketundukan pada perintah Allah. Nah, pada posisi itulah, kebaikan dan kesucian jiwa akan tercapai.

Terakhir, sebagai penutup, marilah kita banyak berdoa di bulan yang mulia ini. Sebab, doa akan memiliki pengaruh yang besar untuk pembenahan jiwa. Ada doa khusus dalam hal ini, di mana Nabi SAW pernah mencontohkan, yakni: Allâhumma âti nafsî taqwâhâ, wa zakkihâ anta khairu man zakkâhâ, anta waliyyuhâ wa maulâhâ (Ya Allah anugerahkan ketakwaan pada jiwaku, sucikanlah ia, karena Engkau sebaik-baik yang menyucikannya, Engkau pemilik dan pelindungnya). [HR Muslim]. Amin. Wallahu a’lam.

*) Penulis adalah alumnus PPs UIN Sunan Kalijaga, pengajar di STPI Bina Insan Mulia Yogyakarta & PP Al-Hikmah Karangmojo Gunungkidul, eksponen PII wilayah Yogyakarta Besar.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up