Artikel

Puasa, Bukan Kesabaran Menuju Neraka

Oleh: Sabrur R Soenardi*)

Di dalam QS al-‘Ashr Allah bersumpah demi waktu, dan kemudian menyatakan dengan jelas bahwa syarat keselamatan (salvation) itu ada empat, yakni: beriman, beramal saleh, berwasiat tentang kebenaran, dan berwasiat tentang kesabaran. Tanpa keempat hal ini, manusia hanya rugi (fî khusr), rugi serugi-ruginya, baik di dunia maupun di akhirat.

Ada yang menarik kenapa keempat hal ini dikumpulkan menjadi satu kesatuan. Jika kita cermati dengan seksama, ada beberapa poin yang bisa kita jumput di sini. Pertama, iman adalah fondasi amal saleh. Tanpa keimanan yang melandasinya, alam saleh tiada guna dan tak diterima di sisi-Nya, sehingga tidak bisa menjamin keselamatan di akhirat. Kedua, sebaliknya, amal saleh adalah konsekuensi lebih lanjut dari keimanan. Buah dari iman adalah amal saleh itu sendiri. Iman yang tak membuahkan amal saleh yang nyata adalah keimanan palsu belaka. Tanpa amal saleh, iman tak akan berguna bagi pemiliknya, tidak akan menyelamatkannya di akhirat kelak.

Ketiga, keimanan dan amal saleh itu adalah kebenaran utama yang bersumber dari ajaran Allah, dan karenanya menjadi kewajiban setiap manusia Mukmin untuk menyampaikannya kepada seluruh manusia. Allah menegaskan dalam QS Ali Imran: 110, bahwa kita, kaum Muslim, kaum Mukmin, adalah sebaik-baik umat yang dimunculkan kepada manusia (khairu ummatin ukhrijat li al-nâs), yang mengajak kepada kebaikan dan menjauhkan dari kemungkaran (ta’murûna bi al-ma’rûf wa tanhauna ‘an al-munkar). Inilah yang urgens dalam Islam, bahwa setiap hamba wajib berdakwah kepada orang lain tentang kebenaran agama ini. Nabi SAW bersabda,“Sampaikan apa yang datang dariku meski hanya satu ayat (ballighû ‘annî walau âyah) [HR Al-Bukhari 3/1275 no 3274, dari Abdullah Ibn ‘Amr]. Artinya kurang lebih, bahwa meski sedikit yang kita tahu tentang kebenaran, meski sedikit waktu yang kita punyai untuk sampaikannya, kita berkewajiban untuk menyampaikannya.

Keempat, bahwa terkait dengan kerja dakwah kita kepada manusia, ada satu hal yang tidak bisa kita abaikan, yakni kesabaran. Kita butuh kesabaran saat menyampaikan risalah dakwah kepada semesta alam. Apa sebab? Karena keberhasilan dakwah itu butuh waktu. Tidak setiap manusia dengan mudah menerima dakwah kita. Ada yang langsung mengikuti jalan petunjuk. Ada yang mengabaikan dan bersikap masa bodoh. Lebih dari itu, ada yang menentang keras-keras dan resistens terhadap ajakan kita, bahkan menghalangi jalan dakwah kita. Kita bisa menengok jalan dakwah yang ditempuh para nabi di masa lalu. Adakah yang mulus dan lancar? Sama sekali tidak! Jalan dakwah para nabi adalah jalan yang penuh liku, penuh cucuran keringat dan air mata, bahkan tetesan darah yang tidak sedikit, juga perih luka yang menganga. Tetapi para nabi tetap tegar di jalan dakwah, meski harus menghabiskan seluruh waktu hidupnya. Nabi Muhammad SAW butuh 22 tahun untuk dakwahnya berhasil. Nabi-nabi yang lain sebelum beliau? Lebih lama dari itu. Ada yang sampai ratusan tahun berdakwah, meski hasilnya tidak maksimal sesuai harapan. Apa resep yang mereka pegang? Satu saja: kesabaran.

Kesabaran adalah suatu sikap moral dasar, yang akan menyebabkan kontinuitas dakwah bisa tetap berlangsung. Tanpa kesabaran dalam menyampaikan dakwah, mustahil risalah bisa terhujam di sanubari umat dan kemudian bertahan lama. Tanpa kesabaran, dakwah akan cepat mati dan risalah bisa menjadi layu. Ketika Nabi SAW dilempari batu oleh para penduduk Thaif, Jibril—yang datang bersama seorang malaikat penjaga gunung—menawari beliau agar pilih, siksa atau bencana apa yang mesti ditimpakan kepada orang-orang yang telah menjahati beliau itu. Jibril berkata bahwa Allah telah mengizinkan seandainya gunung Abu Qubais dan Qaiqa’an ditimpukkan ke penduduk Thaif. Namun, Nabi tidak dendam dan tak menginginkan Jibril membalas keburukan yang diperbuat oleh penduduk Thaif terhadap beliau . Beliau malah berharap, jikapun sekarang penduduk Thaif masih menentang ajaran Islam, itu karena semata-mata mereka belum tahu kebenaran agama ini. Tetapi, siapa tahu, kelak anak cucu mereka akan menerima ajaran Islam. “Siapa tahu dari rahim salah satu penduduk Thaif kelak ada yang mengucapkan kalimat ‘Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah’,” jawab Nabi SAW kepada Jibril.

Bergandengannya kata “kebenaran” dan “kesabaran”, selain bahwa dalam menyampaikan dan menegakkan kebenaran harus dengan kesabaran, wawasan ini juga berarti bahwa kesabaran yang sejati adalah kesabaran dalam kebenaran, atau kesabaran dalam meniti jalan taat kepada Tuhan. Kesabaran seperti itulah yang dicatat sebagai ibadah yang agung dan akan mendapatkan pahala tak terhingga di sisi Allah SWT. Allah berfirman: “Sesungguhnya tak lain, orang-orang yang bersabar dianugerahkan pahala kepada mereka tanpa terhitung.”(QS al-Zumar: 10).

Sebab, di sisi lain, ada juga kesabaran yang bukan dalam ketaatan, kesabaran bukan dalam menegakkan kebenaran. Ada orang yang antre membeli karcis tanda masuk untuk sebuah pertunjukkan maksiat, antre memberi nomor buntut, antre di kompleks pelacuran (lokalisasi), dsb (ini semua sebagai misal saja), apakah mereka sabar?Ya, tentu saja mereka sedang menjalankan laku sabar. Tetapi mereka sabar tidak dalam kebenaran, tidak dalam ketaatan, sehingga kesabaran mereka akan mengantarkan mereka ke jurang neraka. Di zaman kita sekarang, banyak orang yang dengan sabarnya, dengan penuh kehati-hatian dan ketelitian, di dalam menebar fitnah, menyebar hoax, mengajak manusia kepada kesesatan dan jalan setan, menjauhkan manusia dari jalan Islam, apakah mereka sabar? Tentu saja. Tetapi mereka sabar di dalam meniti jalan-jalan menuju neraka. Makanya Allah berfirman: “Betapa sabar mereka menuju neraka.” (QS al-Baqarah: 175).

Di dalam Ramadhan ini, kita selama sebulan penuh dilatih untuk bersabar. Seharian penuh kita harus sabar menahan diri dari makan dan minum, serta apa pun yang membatalkan puasa, sampai beduk magrib tiba. Kita harus sabar untuk tidak menyakiti sesama, baik dengan lisan ataupun anggota tubuh kita yang lain. Kita harus sabar untuk menjaga lisan kita agar tetap berkata dan bertindak yang benar. Kita harus bersabar untuk terus tadarus, membaca Alquran sebanyak-banyaknya. Kita harus sabar saat menjalankan salat taraweh, saat iktikaf, dan seterusnya. Yang jelas lagi, selama sebulan lamanya kita harus bersabar di dalam menjalankan kesemua rangkaian ibadah itu untuk bisa meraih kemenangan hingga tanggal 1 Syawal nanti.

Sebaliknya, jika di dalam Ramadhan ini puasa kita tak bisa cegah kita berkata dusta, berkata kotor, berbuat lacut, bertindak curang dan keji, memfitnah, mengadu domba, dst, maka tidak ada gunanya kita bersabar diri menahan lapar dan dahaga. Hanya lapar dan dahaga itulah, pastinya, yang kita dapatkan. Alih-alih, bisa saja di bulan suci ini, meski di satu sisi kita berpuasa menahan lapar dan dahaga, namun di sisi lain kita malah hanya mendapatkan dosa, dan bisa jadi dosa itu kemudian menjungkalkan kita ke kobaran api neraka, famâ ashbarahum ‘alâ al-nâr (QS al-Baqarah: 175)

Maka demikianlah, hendaknya Ramadhan menjadi madrasah ruhani bagi kita untuk menanamkan karakter yang kuat di dalam diri kita, yakni: kesabaran dalam menegakkan kebenaran, kesabaran di dalam meniti jalan taat kepada Allah. Bahkan ada hal yang menarik, bahwa tidak hanya kesabaran yang berbuah pahala tak terhingga(bighairi hisâb), tetapi puasa itu sendiri adalah ibadah yang pahalanya hanya merupakan hak prerogatif Allah untuk menentukan besarannya. Hanya Allah sendiri saja yang akan mengganjar ibadah puasa kita, karena puasa memang hanya untuk Dia semata. Semoga kita benar-benar tergolongkan sebagai orang-orang yang sabar dalam menjalankan ibadah puasa, dan kiranya kesabaran itulah yang kemudian menjadi ukuran diterimanya puasa kita di sisi Allah SWT. Amien. Wallahu a’lam.

*) Penulis adalah pegawai di DP3KBPMD Gunungkidul, pengajar STPI Bina Insan Mulia Yogyakarta dan PP Al-Hikmah Karangmojo, Gunungkidul, eksponen Pelajar Islam Indonesia (PII) Yogyakarta Besar.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up