ArtikelFeatured

Propaganda Rusia dan Raisa

Oleh Igor Dirgantara

Siapa tak kenal Raisa? Dara cantik bersuara merdu ini bisa buat ribuan warganet pria lunglai ketika pelantun lagu “mantan terindah’ ini menikah resmi dengan pria berpaspor Australia yang dicintainya pada bulan September 2017: Hamish Daud.

Pasca pernikahan Raisa, Presiden Joko Widodo guyon menyinggung soal aset nasional yang diambil alih asing – saat berpidato di acara Dies Natalies ke-60 Universitas Padjajaran Bandung di tahun yang sama. Tapi aset yang Jokowi maksud tidak berkaitan dengan sumber daya negara, melainkan tentang penyanyi Raisa yang menikah dengan warga negara Australia – keturunan Madura tersebut.

Raisa Andriana (foto IST)

 

Jokowi saat itu juga berbicara soal artis Laudya Chintya Bella yang juga menikah dengan warga negara asing dari Malaysia. Ini salah satu retorika guyonan apik Jokowi soal isu ‘antek/anti-asing’. Ringan, jauh dari kesan agresif-ofensif, apalagi blunder.

Sebelumnya, di bulan Maret 2017, Jokowi juga mengundang Raisa dalam rangka Hari Musik Nasional. Dalam kesempatan itu – seperti biasa – Jokowi memberikan kuis berhadiah sepeda. Dunia maya banjir dengan cuitan pernikahan Raisa, dan berita serta meme sepeda pemberian Jokowi kepada biduanita dengan nama lengkap Raisa Andriana ini. Sebutlah peristiwa ini sebagai propaganda Raisa. Saat itu, elektabilitas Jokowi naik.

Namun dua bulan jelang pencoblosan Pemilu 2019, kesan rileks Jokowi hilang entah disimpan di mana. Dulu Raisa sekarang Rusia. Dalam pidatonya di Solo 3 Februari 2019, Jokowi menyebut adanya Propaganda Rusia dalam kampanye di Pemilu 2019. Jokowi pun meminta propaganda Rusia dalam berpolitik harus dihentikan.

Propaganda Rusia yang dimaksud adalah teknik firehose of falsehood atau selang pemadam kebakaran atas sebaran kekeliruan (hoax) yang diutarakan oleh lembaga konsultan politik Amerika Serikat Rand Corporation tahun 2016. Tak ayal, Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Verobieva, tidak terima dengan penggunaan istilah propaganda Rusia yang disebut oleh Jokowi. Lyudmila Verobieva menjelaskan, istilah propaganda Rusia itu sebenarnya direkayasa pada 2016 oleh Rand Cooperation di Amerika Serikat dalam rangka kampanye pemilu presiden, dan sama sekali tidak berdasarkan pada realitas. Atase Pers Kedubes Rusia di Indonesia, Denis Tetiushin mengatakan bahwa pernyataan Lyudmila Verobieva menegaskan sikap Kedutaan Besar Rusia yang tidak mau istilah Propaganda Rusia digunakan dalam kontestasi politik di Indonesia (Pemilu 2019).

Raisa Andriana (foto IST)

 

Lucunya, Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin kemudian mengeluarkan pernyataan bahwa Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi telah sengaja memainkan polemik propaganda Rusia karena dianggap berupaya membenturkan Jokowi dengan Pemerintah Rusia. Padahal sederhananya begini, yang mengatakan sebutan “Propaganda Rusia” itu adalah Presiden Jokowi, lalu yang membalas atau konfirmasi langsung terhadap pernyataan tersebut adalah Duta Besar Rusia itu sendiri (bisa jadi karena tersinggung). Terus kenapa kubu Prabowo – Sandi yang disalahkan? Jelas ini adalah seni propaganda lain yang oleh William L. Benoit sebut sebagai “shifting the blame” atau mengalihkan kesalahan kepada orang lain karena telah melakukan kesalahan (blunder).

Belakangan ini blunder demi blunder memang dilakukan oleh kubu petahana. Sebut mulai dari batalnya pembebasan Abu Bakar Ba’asyir, soal ASN digaji siapa, masalah lagu Indonesia Raya yang wajib dinyanyikan di bioskop, janji 17 ribu penyuluh pertanian menjadi PNS, revisi doa Kyai Maemoen Zubair, sampai blunder tentang propaganda Raisa… eh Rusia. Saat ini, elektabilitas Prabowo-Sandi yang naik.

*Survey & Polling Indonesia (SPIN)

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up