Artikel

Primitifnya Semboyan Kerja Kerja Kerja

Oleh Amir Faisal

Semboyan kerja kerja, terlepas dari ideologi klasik yang pernah menggunakannya, sudah klise dan jadul, serta tidak sesuai lagi dengan semangat revolusi industri 4.0, melainkan masih berorientasi dan romantisme masa revolusi industri pada tiga abad yang silam.

Seharusnya semboyan yang digaungkan bukan “kerja-kerja”, tetapi “Kinerja-kinerja”

Kenapa?

Karena semboyan “kerja, kerja” atau anjuran “Ayo kerja !” akan dikilah, “Mana lapangan kerjanya? Oleh Rakyat yang pada menganggur, atau yang terkena PHK. Semboyan itu mengacu pada pola pikir dari kaum buruh pada Abad ke 18 dan 19, sedangkan “kinerja-kinerja” berientasi pada output, efisiensi serta efektivitas/produktivitas. Kinerja juga berfokus pada keunggulan (competitive advantage ) dan ekspertise.

Semboyan “Kerja, kerja” juga masih berorientasi pada kebutuhan. Bukan keinginan, apalagi dream. Jadi ini sangat primitif. Sejak Nabi Adam turun ke dunia, bahkan pada zaman manusia purba, begitu bangun dari tidur di dalam goa, secara naluriah mereka pasti bekerja untuk memenuhi kebutuhan makan dan sandang. Namun sejak revolusi industri abad ke 18, awareness kinerja yang berorientasi pada efisiensi dan efektifitas mulai muncul. Apalagi pada era milenial saat ini.

Era milenial dan industri 4.0 membutuhkan mindset baru tentang kinerja, yang berorientasi pada competitive advantage – keunggulan daya saing yang berupa kemampuan/karakteristik yang dimiliki perusahaan/bisnis kita dibandingkan dengan kompetitor, baik berupa produk, teknologi, keahlian ataupun yang lain, seperti finance market dan distribusi, sehingga bisa memenangkan persaingan. Intinya jika bisnis kita ingin sukses dan terus berkembang maka bisnis itu harus memiliki competitive advantage ini. Sebagai contohnya: Google memiliki competitive advantage yang berupa “mesin pencari” yang bisa mencari dengan hasil yang akurat dengan kode pemrograman canggih dan database yang besar. Di dunia ini belum ada mesin pencari lain yang mampu mengungguli google.

Bangsa ini memerlukan seorang pemimpin bangsa yang memiliki awareness dan konsep yang jelas tentang hal-hal yang dibicarakan diatas, kendala-kendala yang dihadapi, mindset yang harus dibangun, lalu diedukasikan pada rakyatnya supaya menggugah dan mendapatkan resonansi, sehingga bangsa yang besar ini akan bergerak secara serentak pada satu visi yang sama.

Seorang pemimpin tidak perlu kelihatan terlalu sibuk bekerja. Buat apa kerja, kerja, kerja, tetapi STM? (Sibuk Tak Menentu). Sibuk tetapi target jauh dari pencapaian, janji tidak terpenuhi. Program berbiaya tinggi tetapi dampaknya tidak signifikan. Pencitraan itu baik, tetapi untuk “dijual” kepada bangsa lain (alias promosi Indonesia). Pencitraan yang ditujukan kepada rakyatnya sendiri adalah kebohongan yang dibiayai oleh negara dan bisa berdampak mismanagement yang bisa mengacaukan BUMN-BUMN. Karena korporasi milik pemerintah punya parameter bisnis yang tidak bisa dicampuri oleh kepentingan politik.

Lalu apa pekerjaan seorang pemimpin bangsa, dan bagaimana tolok ukur kinerjanya?

Seorang pemimpin bangsa dianggap sukses jika :
Memiliki visi dan mampu meraihnya. Seorang pemimpin bangsa yang sukses adalah yang punya konsep yang ingin diimplementasikannya, sehingga bersama rakyatnya dia bisa mewujudkan hal-hal besar (pengertian besar tidak harus berbiaya besar seperti misalnya infrastruktur, tetapi bisa juga beprestasi besar lainnya, misalnya dalam hal kreatifitas, budaya ataupun values, atau pemikiran besar yang bisa meresonansi rakyat untuk melakukan hal-hal yang besar). Oleh karenanya, dia perlu memiliki visi yang kuat, agar bisa menjadi ”mata” bagi para pengikutnya. Seorang pemimpin seperti ini sekaligus menjadi “guru bangsa”, karena memiliki ketajaman intuisi, pengetahuan alami, dan kecerdasan untuk melihat sesuatu yang belum mampu dilihat oleh rakyatnya.

Henry Kisinger pernah mengatakan bahwa dunia ini dibagi menjadi dua jenis. Pertama, dia yang hanya berpikir dan melakukan hal-hal pragmatis yang bisa dilihat dan diraba dengan pancaindra. Sedang jenis kedua adalah orang yang bisa berpikir dan melihat hingga hal-hal yang ada di masa depan. Seseorang tidak bisa disebut sebagai pemimpin jika hanya memikirkan dan melakukan hal-hal yang sifatnya kerja pragmatis, sebab hal-hal seperti itu bisa dilakukan oleh Rakyat biasa.

Mampu membuat perubahan. Selain memiliki kemampuan untuk ”membuka mata” orang-orang yang dipimpinnya, seorang pemimpin juga dituntut menjadi change maker dari situasi yang sedang dihadapi. Melakukan perubahan-perubahan yang dibutuhkan, guna mengatasi keadaan, menanggulangi krisis, dan kemudian menghasilkan progres-progres yang nyata bagi kemajuan.

Para pemimpin hendaknya berfokus pada tindakan dan solusi-solusi cerdik. Bukan terbelit dengan masalahnya sendiri, atau bahkan memanfaatkan potensi kekuasaannya untuk dikerahkan supaya terpilih kembali.
Seorang pemimpin bukan hanya dapat bekerja sesuai SOP (Standard Operating Procedure). Peraturan perundang-undangan yang dibuat atas dasar kejadian masa lalu, sementara di masa depan sering terjadi peristiwa yang belum diantisipasi oleh aturan itu. Maka, seorang pemimpin dituntut untuk menemukan solusinya.

Mampu menggerakkan banyak orang. Seorang pemimpin dituntut memiliki kapasitas primal leadership, yaitu memancing tumbuhnya perasaan positif (positive feeling) dalam diri orang-orang yang dipimpinnya. Ini akan terjadi jika seorang pemimpin mampu menciptakan resonance—sifat-sifat kepribadian positif dalam dirinya sendiri guna menggerakkan orang lain untuk mengeluarkan upaya terbaiknya—sebab suasana hati dan tindakan seorang pemimpin akan berdampak besar pada orang-orang yang dipimpinnya. Penemuan ini memberi kerangka baru tentang kekuatan kepemimpinan yang tidak hanya mampu menginspirasi, tetapi juga mampu membangkitkan gairah dan antusiasme, serta membuat orang-orang tetap termotivasi dan berkomitmen, menumbuhkan inovasi kreatif dan kinerja setinggi-tingginya (Daniel Goleman, 2004).

Resonance berasal dari bahasa Latin, resonare, yang berarti menggemakan. Dalam bahasa Indonesia, resonansi berarti penguatan atau pemanjangan suara melalui pemantulan atau lebih spesifik lagi, melalui getaran atau vibrasi yang selaras. Analogi getaran yang selaras untuk manusia terjadi apabila dua orang atau lebih yang secara emosional berada pada frekuensi atau gelombang yang sama, ketika mereka merasa selaras, akan berdampak memperpanjang gelombang itu. Di bawah kepemimpinan yang resonan, akan tercipta suasana saling belajar dalam suatu organisasi, saling berbagi ide, membuat keputusan bersama, menyelesaikan tugas bersama, dan mencapai tujuan dengan bersama-sama pula.

Dengan kecerdasan pemimpin seperti itu, orang-orang akan merasakan tingkat kenyamanan yang saling menguntungkan. Kesadaran seorang pemimpin (self awareness) atas hubungannya dengan Tuhan, dengan dirinya sendiri, dengan orang yang dipimpinnya serta cara seorang pemimpin mampu memanfaatkan energi positifnya yang dimilikinya akan meresonansi orang-orang yang dipimpinnya.

Mampu membangun tim yang solid. Kepemimpinan karismatis yang berfokus pada figur, saat ini jumlahnya semakin sedikit dan digantikan oleh kepemimpinan yang sifatnya kelompok di mana masing-masing anggota kelompok memiliki kompetensi yang unik dan beragam. Oleh karenanya seorang pemimpin bisa menjadi perekat bagi anggota kelompok, memanajemeni konflik agar tidak mengganggu produktivitas. Dalam hal ini, seorang pemimpin sekaligus bertindak sebagai Internal Coach. Dia juga Komandan, yang perlu terus mendisplinkan anak buah, sehingga antar stafnya tidak tumpang tindih dan saling bertengkar atapun saling memaki.***

Amir Faisal
Amir Faisal, Business Inspirator & Marketing Coach

Jika ingin membaca buku versi lengkapnya, bisa didownload pada link dibawah ini :
https://ebooks.gramedia.com/books/semut-mengalahkan-gajah-ii

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya