Artikel

Prabowo, Trump versi Indonesia?

Di seluruh planet ini, kemapanan politik dan media arus utama pendukungnya sedang terganggu. Disaat revolusi populis bergejolak di bawah permukaan selama bertahun-tahun, pemilihan Donald J. Trump menguatkan dan memberdayakan oposisi terhadap elite penguasa dan menggerakkan titik balik politik di seluruh dunia.

Pertarungan berikutnya dalam perjuangan internasional melawan pemerintahan akan terjadi besok di Indonesia. Presiden petahana Joko Widodo yang memainkan kampanye semu “perubahan dan harapan” seperti Obama pada tahun 2014, telah memanfaatkan strategi politik yang dominan pada saat itu untuk meraih kemenangan di negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.

Widodo sekarang ini menghadapi tantangan atas rezimnya yang gagal melawan penantang seperti Trump, yaitu Prabowo Subianto. Akan banyak yang harus dihadapi.

Ekonomi yang stagnan. Korupsi merajalela. Dan Widodo sekarang telah berubah menjadi makhluk yang menentang apa yang ia perjuangkan sendiri pada tahun 2014 – dan hanya mempertahankan kekuasaannya.

Lebih buruk lagi, Widodo dikenal sebagai bagian dari Republik Rakyat Tiongkok. Dikala para pendahulunya menentang invasi modal dan penduduk Tiongkok, Widodo telah memfasilitasi Tiongkok untuk menancapkan kekuatannya di negara kepulauan yang terdiri lebih dari 17.000 pulau ini.

Walaupun para pengkritik kebijakannya belum mampu membuktikan bahwa Widodo secara pribadi telah mendapat keuntungan dan kompromi melalui hadiah-hadiah dari pemerintah Tiongkok, namun invasi dari Tiongkok telah mengacaukan koalisi politiknya.

Masalah rumit lainnya bagi petahana adalah ketidakmampuannya untuk menangani isu intoleransi beragama di negara Muslim terbesar ini.

Widodo yang mencoba mencari keuntungan dengan memanfaatkan ketakutan masyarakat terhadap fundamentalis Islam, ia dilemahkan oleh kesalahan langkahnya sendiri dan orang-orang yang menjadi pengikutnya. Dunia terus membicarakan kasus buruk pemenjaraan mantan gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, seorang etnis Tionghoa dan seorang Kristen, yang mana merupakan provinsi basis politik Widodo. Purnama telah dipenjara hanya karena dia adalah seorang Kristen, membuat orang-orang yang membantu Widodo menjadi ketakutan.

Entah kenapa, Widodo ibarat menuangkan bensin ke api ketegangan agama dengan memilih mantan ulama Islam Ma’ruf Amin sebagai pasangannya. Pendekatan Islam Amin yang keras menciptakan keraguan pada mitra Indonesia, meningkatkan kekhawatiran di kalangan komunitas bisnis Jakarta, apakah Widodo mampu menyegarkan kembali kondisi bangsa yang bermasalah ini.

Dalam Pemilu yang lalu, Widodo menang dengan koalisi kaum muda, kelompok liberal dan banyak pemilih perempuan serta non-Muslim, tetapi kegagalannya untuk memberikan reformasi yang moderat dan kombinasi korupsi yang merajalela serta ekonomi yang stagnan telah membuat banyak pendukungnya yang kecewa meninggalkannya, dan memilih untuk abstain pada Pemilu kali ini. Gerakan melawan Widodo dari kalangan mantan pendukungnya begitu kuat dan bahkan mereka menamakan ketidakberpihakan mereka dengan sebutan golput.

Bahkan di basis massanya Widodo yang sangat kuat di Sulawesi, pendukung fanatiknya menyatakan bahwa mereka akan “golput,” kata yang berasal dari bagian kosong surat suara berwarna putih.

Dengan angka survei Widodo yang terus menurun, dan dengan lonjakan saingannya Probowo, partai koalisi Widodo tampaknya meminjam lembaran lain dari Partai Demokrat Amerika.

Dalam beberapa hari terakhir, rakyat Indonesia terkejut dengan ditemukannya 17,5 juta daftar calon pemilih invalid yang diajukan dan disetujui oleh pemerintahan Widodo. Angka ini hampir 10% dari total jumlah pemilih. Sayangnya bagi Widodo, para pemain di partainya tidak sepintar teman mereka di Amerika. Semua daftar pemilih invalid ini diantaranya memiliki tanggal lahir yang sama! Pasti pada hari itu rumah sakit di Jakarta sangat sibuk – atau mungkin lebih sibuk lagi di markas partai koalisi Widodo!

Kalau “BirthdateGate” atau skandal tanggal lahir menjadi bagian paling lucu dari permainan penguasa, yang paling dapat diprediksi – setidaknya bagi orang Amerika – adalah pandangan media arus utama Amerika untuk Pemilu ini.

Tanpa bermaksud ingin mengabaikan Obama palsu ala Indonesia ini, koran New York Times telah menyerang penantangnya, Prabowo, sebagai kandidat elit yang sebenarnya. Terdengar akrab dengan cara seperti ini? Mereka menggunakan serangan yang sama terhadap kandidat saat itu, Donald J. Trump.

Berdasarkan survei beberapa hari terakhir, mereka menghadapi kejutan tekanan yang sama – berharap Widodo dan gengnya tidak mencuri hasil pemilihan dari rakyat Indonesia. End

Sumber : https://dailysurge.com/2019/04/the-trump-of-indonesia/

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up