Artikel

Prabowo Siap Lepas Tiket Capres?

Oleh : Said Salahuddin

Pengamat Politik

Kamis (26/7) lalu mencuat isu bahwa nama Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) telah disepakati sebagai pasangan capres dan cawapres dari kubu ‘oposisi’.

Sehari kemudian, tersiar isu lanjutan: Prabowo Subianto disebut siap melepas tiket capresnya untuk diserahkan kepada calon yang lebih baik dari dirinya.

Jika rentetan dari kedua isu itu dipertautkan, maka boleh jadi sebagian pihak mulai percaya, atau bahkan mungkin semakin tebal keyakinannya bahwa Prabowo Subianto hanya akan berperan sebagai ‘king maker‘ dan bukan sebagai ‘play maker‘ di Pilpres 2019.

Analisisnya, simpel saja: isu yang pertama, tervalidasi oleh isu yang kedua. Artinya, Prabowo akan menyerahkan tiket capresnya kepada Anies Baswedan.

Benarkah demikian? Prediksi itu mungkin bisa benar. Tetapi untuk waktu-waktu sekarang ini, tampaknya belum terbukti.

Alasannya, pertama, sampai hari ini parpol dari kubu’oposisi’ belum resmi berkoalisi. Bagaimana mungkin sudah ada nama capres-cawapres yang disepakati, sedangkan masing-masing parpol belum mengikatkan diri dalam satu koalisi.

Bahkan jika menyimak pidato Prabowo di acara Ijtimak Ulama kemarin (27/7), nama Partai Demokrat justru tidak disebut sebagai bagian dari parpol yang sudah berkoalisi secara ‘de facto‘.

Jadi, bagaimana mungkin AHY dikatakan sudah dipilih sebagai cawapres, sementara Partai Demokrat yang menjadi kendaraannya saja belum menyatu dalam koalisi ‘de facto‘ yang disebut oleh Prabowo.

Kedua, sumber informasi yang mengatakan bahwa Anies-AHY sudah disepakati oleh kubu ‘oposisi’, ternyata bukan berasal dari internal Partai Gerindra, PKS, PAN, dan Demokrat, melainkan datang dari seorang politisi yang justru menjadi anggota dari parpol pendukung petahana.

Sekalipun penyebar isu mengklaim infonya berskala ‘A1’, tetapi dari perspektif rivalitas politik kabar itu sulit dijamin kredibilitasnya.

Saya pun sempat bertanya mengenai isu itu kepada seorang petinggi partai dari kubu ‘oposisi’ saat kami sama-sama menjadi narasumber acara diskusi di salah satu stasiun televisi.

Dengan bahasa kiasan dia menyebut sang penebar info bak ‘dipegang ekor, mendongak kepala, dipegang kepala, menjungkit ekornya”. Saya langsung paham maksudnya. Itu artinya info mengenai duet Anies-AHY tidak layak dipercaya.

Argumen yang ketiga, sebetulnya tidak ada pernyataan tegas dari Prabowo bahwa dia siap menyerahkan tiket capres kepada calon lain yang lebih baik darinya.

Berikut ini adalah kutipan pernyataan Prabowo Subianto:

“Saya menyatakan di sini, di hadapan Saudara-saudara, saya siap jadi alat untuk perubahan sosial, untuk menjadi alat umat, dan alat untuk rakyat Indonesia. Tapi, kalau saya tidak dibutuhkan dan ada orang yang lebih baik, saya pun siap mendukung kepentingan rakyat dan umat Indonesia”.

Kalau pernyataan tersebut dipenggal-penggal sehingga membentuk kalimat: “kalau … ada orang yang lebih baik, saya pun siap mendukung …”, maka wajar jika interpretasi yang muncul: Prabowo memberi sinyal mundur dan siap mendukung orang lain sebagai capres.

Tetapi pemenggalan dengan cara yang seperti itu membuat pernyataan Prabowo menjadi tidak utuh. Padahal, jika dibaca lebih lengkap, boleh jadi ada intensi lain dari Prabowo.

Sebab, bahasa Prabowo, diplomatis sekali. Bahasa khas kaum politisi: samar dan bersayap. Seolah mau ke sana, padahal mau ke sini.

Misalkan saja pada saat Prabowo berkata: “saya pun siap mendukung”. Itu kan tidak bisa ditafsirkan tunggal bahwa Prabowo pasti memaksudkannya untuk mendukung “orang yang lebih baik” dari dirinya itu.

Bisa juga dukungan tersebut dimaknai dalam pengertian yang lebih umum. Sebab, Prabowo mengatakan, “Saya pun siap mendukung kepentingan rakyat dan umat Indonesia”. Coba saja perhatikan rangkaian kalimatnya.

Jadi, setelah menyebut “ada orang yang lebih baik”, Prabowo seperti langsung berbelok ke substansi yang lain. Dia tidak tegas mengatakan akan mendukung “orang yang lebih baik”, tetapi dia menyatakan akan mendukung “kepentingan rakyat dan umat Indonesia”. Itu kan bisa beda maknanya.

Oleh sebab itu, saya memperkirakan Prabowo tidak akan mundur dari bursa pencapresan dan menyerahkan tiket capres kepada orang lain. Sehingga untuk saat ini sepertinya belum terbuka peluang untuk menduetkan Anies dan AHY.

Duet Anies-AHY baru mungkin terealisasi dalam hal dua pasangan prioritas yang diharapkan oleb Gerindra tidak mendapatkan dukungan dari parpol lainnya, yaitu: opsi pertama Prabowo-Anies, opsi kedua Prabowo-AHY.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up