ArtikelFeatured

Prabowo Naik Ojek

Oleh M. Nigara (Wartawan Senior, Mantan Wasekjen PWI)

Sekitar 10.000 para pengemudi Ojol (Ojeg Online) berkumpul di Sentul, Bogor, Jawa Barat. Warna hijau mendominasi kumpulan itu, marak dan membahagiakan. Satu lagi bukti bahwa rakyat telah terpanggil hatinya.

Dari kesemarakan itu, ada catatan paling menarik yang saya lihat. Sungguh, bagi saya pemandangan Prabowo naik ojeg adalah sesuatu yang semakin memperkuat acara deklarasi itu. Sekali lagi, acara menjadi semakin indah karena Prabowo yang selama ini diposisikan sebagai orang yang selalu hidup glamour itu, runtuh sudah.

Penyematan pada diri Prabowo sebagai orang atas yang tak mau bergaul dengan rakyat jelata, sirna sudah. Hari itu deklarasi benar-benar lengkap. Hebatnya, apa yang dilakukan Prabowo (dijemput naik ojeg) bukan dalam rangka pencitraan, tidak juga menggunakan pemeran pengganti (stunment dari Thailand) agar terlihat hebat. Maklum, untuk terlihat mellenial, ada orang yang terpaksa menggunakan peran pengganti agar motornya bisa melompati mobil, ngbeut dan meliuk-liuk dengan kecepatan pasti di atas 100 km/jam. Seluruh adegan itu patut dapat diduga telah melanggar UU lalu-lintas yang berlaku. Tapi, dia tenang saja karena polisi pun dijamin tidak berani menindak.

Kembali ke Prabowo yang tidak keberatan dijemput dengan ojeg, sekali lagi, insyaa Allah bukan untuk pencitraan. Jika niatnya pencitraan, pasti timsesnya akan meminta tvone, satu-satunya media elektronik yang masih memiliki jiwa atau ruh pers yang sebenar-benarnya, agar berada di tempat. Semua tidak ada dan tidak disiapkan.

Adegan pencitraan itu sangat mudah dilihat. Ingatkah kita ketika ada seseorang yang masuk ke gorong-gorong? Sebelum adegan dimulai, terlihat semua kamera televisi dan kamera wartawan foto sudah tersedia. Maka seluruh adegan terekam dengan baik dan disebarkan.

Pers tentu tidak salah, situasi yang membuat mereka terpaksa melakukan hal itu. Maklum, jika tidak, bukan tidak mungkin sanksi dari kantor pusat akan dijatuhkan. Jika itu terjadi, maka berat memang untuk menafkahi diri apa lagi keluarga.

Prabowo naik ojek
Prabowo naik ojek menuju deklarasi Ojol untuk Prabowo Sandi

Untuk rakyat Indonesia
Dalam sambutan singkatnya, di antara pekik gemuruh yang terus-menerus menyebut namanya: “Prabowo, Prabowo, Prabowo!”. Sang paslon presiden nomer urut 02 dari koalisi Gerindra, PAN, PKS, Demokrat, dan Berkarya itu mengawalinya dengan kalimat pendek.

“Saya….., terserah mau dibilang apa. Tapi, sisa hidup saya akan saya gunakan untuk rakyat saya. Sisa tenaga saya, sisa usaha saya, adalah untuk membela rakyat Indonesia!”

Kata-kata Prabowo yang keras dan tegas itu disambut pekik yang tak kalah keras dari para pengemudi ojeg. Sambutan hangat itu diakhiri dengan doa yang kalimat-kalimatnya membuat para peserta meneteskan air mata.

Semua adegan itu merontokkan sikap nyinyir media-media yang pernah mengangkat pidato Prabowo beberapa lalu. Sama seperti tampang Boyolali, maksud hati ini membela tapi justru digoreng jadi petaka. Prabowo pernah mengatakan bahwa lulusan SMA hanya bisa jadi tukang ojeg. Jika kita cermati maksudnya adalah, pemerintah harusnya memberikan lapangan pekerjaan seperti yang dijanjikan saat kampanye 2014 lalu. Lapangan pekerjaan di ojol atau ojeg online bukanlah lapangan pekerjaan yang dilahirkan oleh pemerintah.

Para arsitek penggorengan tampaknya tak sabar dengan keadaan. Mereka segera memotong dan mengemasnya dan segera melebelinya sebagai penghinaan dari Prabowo. Dilempar dan disambut oleh saudara-saudara kita pengemudi ojeg. Mereka protes. Beruntung banyak juga pengemudi ojol yang coba menjelaskan kepada sesama mereka, sama persis seperti banyak juga warga Boyolali yang menjelaskan maksud pidato Prabowo itu.

Ya, sebaik-baik rencana dan strategi manusia, tak akan mampu menghadapi keputusan Allah. Ahad (16/12/18) di Sentul Bogor, sekitar 10 ribu pengemudi ojeg online telah mendeklarasikan dukungannya untuk Prabowo-Sandi Uno.

Semoga apa yang terjadi Ahad ini, menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Dan, saya percaya, saat ini, rakyat sudah tidak bisa dibodohi lagi.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia, ” (QS, Ar-Ra’d 13 ayat 11).

Semoga bermanfaat
(Sekali lagi, mohon dimaafkan jika ada yang tersindir. Sesungguhnya saya hanya ingin menuliskan fakta, dan semoga Allah melimpahkan rahmat yang seluas-luasnya untuk kita, aamiin)

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait