Artikel

Prabowo, Mencari sosok Cawapres yang Tepat

Oleh In’am eL Mustofa

Sejak bergaungnya novel Ghost Fleet dan bubarnya Indonesia di tahun 2030 serta pidato soal ‘Maling-Maling’, saat itu pula Prabowo Subianto yang kini sudah menerima mandat sebagai capres dari Partai Gerindra sekaligus mendapat bonus panggung.

Dengan novel Prabowo efektif merebut kalangan menengah terpelajar untuk mengkaji sekaligus membicarakannya, tema itu sampai kini juga belum berhenti meskipun mulai terdengar sayup. Bahkan di Kabupaten Magelang kelompok studi LSIM (lembaga Studi Islam dan Masyarakat) Muntilan, sebagai contoh bahwa gemanya sampai di dareah-daerah—akan menggelar panel diskusi berkait novel Ghost Fleet dari berbagai sudut pendekatan.

Tampilnya Prabowo dalam pidato tersebut memberi kesan bahwa ia adalah figur dari kalangan militer yang memiliki visi dan prinsip yang kuat. Secara ideologis Prabowo bisa dikategorikan ultra nasionalis. Tanpa kompromi dengan para kaum serakah dan koruptor secara vulgar ia sampaikan. Dua hal tersebut sangat mencolok dalam diri Prabowo Subianto.

Pendek kata, ia belum berubah terus konsisten dan berkomitmen tinggi untuk menegakkan keadilan dan memperjauangkan kesejahteraan rakyat semesta.

Persoalannya adalah visi dan komitmen Prabowo dari sisi cara penyampaianya belum berubah, dalam hal cara menyapa. Berapi-api, tensi tinggi, dan amat sangat jarang dengan nada rendah maka bolehlah disebut masih sangat kental bahkan cenderung temperamen. Tentu ini sebagai kritikan bagi Prabowo Subianto dan juga konsultan politiknya. Padahal sejauh yg penulis tahu dari orang-orang dekat Prabowo, ia adalah orang yang sangat mudah iba—orang jawa menyebut mudah ‘trenyuh’ . Ini baru dari sisi sosok Prabowo.

Membicarakan Cawapres selain untuk dapat melengkapi dari sisi kepribadian juga masih ada pertimbangan koalisi partai, keterwakilan daerah dan juga elektabilitas.

Sehingga yang perlu dipikir masak-masak oleh tim/konsultan politik Prabowo menutupi kekurangannya. Pribadi yang soft, berpengetahuan luas dan manajerial, mewakili Indonesia timur dan dari salah satu parpol koalisi. Akan sangat bagus jika memiliki elektabilitas middle Up. Merupakan syarat penting bagi cawapres yg akan dampingi Prabowo ( jika ia benar-benar dicalonkan ). Dan dengan syarat tersebut yang masuk kategori adalah Dr. TGH Muhamad Zainul Majdi M.A. yang akrab disapa Tuan Guru Bajang/TGB, sangat cocok untuk tak menyebut ideal. Dan mensyaratkan untuk melanjutkan komunikasi politik secara intensif dengan parpol yang belum merapat ke kubu Jokowi, yakni PKS, Demokrat, PAN dan PKB. Kenapa demikian sebab jika komunikasi tak terbina dangan baik sangat memungkinkan muncul calon alternatif selain Prabowo dan Jokowi. Di PKS ada Anis Matta, PKB punya Muhaimin, demokrat ada AHY begitu juga PAN memiliki Zulkifli Hassan. Tidak lupa pula ada Gatot Nurmantyo. ( INM )

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait