ArtikelFeatured

Prabowo Memanfaatkan Ulama 212, Atau Sebaliknya?

Oleh : Amir Faisal (Penulis Buku Leadership dan Psikologi)

Dalam perspektif psikologi sosial sebenarnya gejala identifikasi sosial terhadap simbol dan nilai Islam, sudah dimulai sejak pra reformasi, ketika munculnya gerakan berjilbab.

Menjadi lebih intens pada paska reformasi, dimana para Ustadz semakin gencar dan massive dalam berdakwah, dan diterima di semua segmen. Walaupun diakui dalam penyampaian ajaran Islam terdapat friksi antara yang fundamental dengan yang moderat, tetapi absorsi ajaran Islam telah memuaskan dahaga umat. Dan umat yang telah tercerahkan dengan ajaran yang hanief itu tidak mau melepasnya lagi.

Alhamdulillah Allah SWT ber Irodat menyatukan kedua kelompok ini dengan menggelincirkan lidah Ahok di pulau seribu. Jadilah ABI 212.

Kita masih ingat, sesudah 4 / 11, SAS sesumbar :”Jika NU ikut aksi bela Islam, Jakarta tidak muat. Dan benar-benar terjadi dalam ABI 212, jutaan massa NU, FPI, muhammadiyyah dll membanjir dari Jatim, Jateng, Jabar, Jabotabek dan seluruh penjuru Nusantara, yang gaungnya mendunia.

Jokowi menyadari hal itu. Maka paska Pilkada DKI segera berusaha melakukan rekonsiliasi dengan HRS via YIM. Tetapi tidak berhasil, karena kebodohan aparatnya sendiri yang sudah kadung mengkriminalisasi HRS dengan fitnah chatt palsu.

Jadi saya setuju apa yang terjadi sekarang ini bukanlah proses politik semata, melainkan proses identifikasi sosial, dari kesamaan pencinta dan penikmat ajaran Islam dan Al-Quran dan Sunnah. Mereka menjadi sensi sekali ketika ajaran yang mereka muliakan, dan telah mencerahkan hidup mereka itu dihina.

Kita saksikan bersama, bahwa ABI 212 tidak digerakkan oleh parpol. Tetapi lebih banyak dilakukan oleh para Ulama seperti HRS, UBN, dan Ulama GNPF.

Sudah terlanjur tercipta identifikasi bahwa Ahok yang menjadi musuh bersama ABI 212 ada di pihak 01 dan tentu saja karena kontestan nya cuman 2, maka dengan sendirinya 02 dianggap teman, dimana dalam politik ada adagium “Lawannya musuh adalah teman”. Ini adalah bonus untuk 02. Jadi percuma saja, Prabowo mau di didiskreditkan kayak apa saja, tidak akan mempan. Karena tidak ada alternatif lain yang menjadi teman yang memusuhi lawan.

Sebenarnya inilah situasinya. Maka dengan konstelasi itulah, para politisi segera menangkap peluang emas itu, dan segera memainkannya. Kubu 02 segera ke Saudi menemui HRS. Konon kubu 01 berusaha merapat juga, tetapi kayaknya udah canggung. Menurut saya performance Kapitra dan Ngabalin yang tidak faham psikologi sosial itu justru merusak strategi pendekatan kubu 01 ke 212.

Juga lucu sekalu bila ada orang yang menyederhanakan proses identifikasi ini hanya sekedar proses politik antara pecinta Prabowo atau Jokowi

Saya yakin, kaum Nahdliyyin pendukung 02, secara psikologis belum nyaman sekali dengan HRS. Tetapi dikarenakan identifikasinya lebih dekat kepada 02 ketimbang 01. Apalagi dengan sering ditampilkannya Ahokers dan tokoh liberal di media, maka identifikasi itu menjadi semakin mengental. Selain itu kaum Nahdliyyin juga dikecewakan atas performansi ulamanya sendiri. Kasus Pencawapresan yang diiringi oleh nyanyian Mahfudz MD, kasus terkuaknya korupsi RH dan seterusnya (Fn).

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait