ArtikelFeatured

Politisi Muslim Berbasis Masjid

Oleh: Sudono Syueb

(Alumni UGM, Yogyakarta dan Konsultan Senior Prajatama Consulting, Yogyakarta)

Meminjam paradigmanya mas Kuntowijoyo (2001), dengan pemahaman terbalik (mafhum mukholafah), bahwa era reformasi ini telah lahir politisi muslim baru dari rahim sejarah dengan kehadiran sang ayah, ditunggui saudara-saudaranya sesama muslim. Kelahirannya bahkan terdengar oleh muslim lainnya. Mereka kini bermekaran dan kebanyakan ada di partai partai lslam Politik, sebagian juga ada di partai sekuler. Pengetahuan agama mereka didapat dari lembaga lembaga konvensional, seperti masjid, pesantren, atau madrasah, dengan metode talaqqi dan bersanad kepada para syaikh, ustadz dan ulama baik dalam negeri maupun luar negeri.
Pengetahuan agana mereka bukan hanya dari sumber anonym, seperti kursus, seminar, buku, majalah, kaset, CD, VCD, internet, radio, televisi dan medsos.

Para politisi muslim bebasis masjid itu sangat mencintai masjid dan memakmurkannya sebagai aplikasi dari imannya kepada Allah dan hari akhirat, sebagaimana firman Allah dalam QS At Taubah ayat 18 berikut ini,

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ}

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allah, maka merekalah yang termasuk golongan orang-orang yang selalu mendapat petunjuk (dari Allah Ta’ala)” (QS At-Taubah: 18).

Ayat yang mulia ini menunjukkan besarnya keutamaan memakmurkan masjid yang didirikan karena Allah Ta’ala, dalam semua bentuk pemakmuran masjid, bahkan perbuatan terpuji ini merupakan bukti benarnya iman dalam hati seorang hamba.

Imam al-Qurthubi berkata: “Firman Allah Ta’ala ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa mempersaksikan orang-orang yang memakmurkan masjid dengan keimanan adalah (persaksian yang) benar, karena Allah Ta’ala mengaitkan keimanan dengan perbuatan (terpuji) ini dan mengabarkan tentanganya dengan menetapi perbuatan ini. Salah seorang ulama Salaf berkata: Jika engkau melihat seorang hamba (yang selalu) memakmurkan masjid maka berbaiksangkalah kepadanya”.

Ada hadits dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang menyebutkan hal ini, diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi (5/12 dan 277), Ibnu Majah (no. 802), Ahmad (3/68 dan 76) dan al-Hakim (1/322 dan 2/363) dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Jika engkau melihat seorang hamba yang selalu mengunjungi masjid maka persaksikanlah keimanannya”, kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam membaca ayat tersebut di atas.

Mereka para politisi muslim berbasis masjid itu hendaknya memiliki karakter yang sangat kuat, seperti himbauan peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro, generasi milenial yang terjun ke dunia politik harus memiliki karakter yang kuat. “Jangan sekali-sekali jadi yang tidak berkarakter, ujung-ujungnya jadi politikus busuk,” kata Siti dalam talkshow Milenial Memimpi(n) di Grand Slipi Tower, Jakarta, Senin, 26 Februari 2018.

Untuk menjadi politikus berkarakter, Siti menyarankan kepada anak muda untuk memiliki bekal. Salah satunya ialah dengan banyak membaca tentang perjuangan pendiri bangsa sampai memerdekakan negara dan suasana kebatinan sampai konstitusi tertulis. Pasalnya, kata dia, pemimpin harus dekat dengan filosofi.
Karakter yang dimiliki oleh para politisi berbasis masjid, menurut Prof. Yunahar Ilyas, seperti dilansir republika.co.id, hendaknya mencontoh empat (4) karakter Nabi Muhammad. Pertama Siddiq, saat ini dapat diartikan sebagai integritas, baik sebagai rakyat maupun pemimpin. Orang yang berintegritas berarti bertingkah laku sesuai dengan ucapannya.

Sifat kedua Rasulullah adalah Amanah. “Berarti memiliki kredibilitas. Tidak hanya jujur, tetapi juga harus dapat dipercaya. Ketika di hadapkan dalam satu pilihan, maka harus memilih dengan hati nurani. Ketika pemilihan misalnya, seharusnya money politic sudah tidak ada lagi yang mencerminkan sifat amanah,”

Ketiga, Tabligh artinya komunikatif. Bagi politisi seharusnya dapat menyampaikan pesan dengan baik. “Tidak hanya jujur, tetapi juga baik, sudah seharusnya dapat memiliki sifat balaghah.”

Ketika berbicara dengan kaum intelektual, mereka yang berkampanye misalnya harus dapat memiliki konsep-konsep yang sesuai. Begitu juga ketika berbicara dengan orang awam, harus dapat menyampaikan dengan bahasa yang membumi.

Keempat, Fathonah dengan meneladani kecerdasan Rasulullah. Di tahun ini umat Islam harus kreatif begitu juga dengan pemimpin dan mereka yang sedang berkampanye.

“Jangan sampai kampanye yang ditonjolkan adalah emosional, mencela, memancing, menyerang kepribadian.”

Sebagai calon pemimpin hendaknya mengemukakan konsep yang cerdas. Perlu banyak dialog sehingga rakyat yang memilih dapat mengerti dengan pilihan konsep yang terbaik.

Saat ini yang harus dikedepankan adalah kebersamaan. Semangatnya adalah semangat kebersamaan bukan semangat perang. “Saat ini kita bukan dalam perang tapi berlomba-lomba dalam kebaikan.” tandas buya Yunahar llyas.

Sementara itu, Ahmad Subagya, Direktur Prajatama Consulting, Yogyakarta, mengatakan, Politisi masjid harus mampu mencerminkan sifat rahmatal lil alamin. Kehadirannya memang dibutuhkan oleh masyarakat, tidak menimbulkan penolakan pada masyarakat, harus mampu ikut menyelesaikan problem sosial kemasyarakatan dan tidak justru sebaliknya menambah persoalan, politisi masjid harus menjadi pioner pusat peradaban yang menjunjung tinggi harkat kemanusian yg dibimbing nilai-nilai ilahiyah.

Ahmad Subagya juga nengharapkan agar Politisi masjid sekaligus menjadi pendakwah yang sejuk penuh hikmah terpancar dari seluruh ucapan dan tindakannya. Sebagaimana dicontohkan melalui baginda Rasul. (Fn)

Selanjutnya

Artikel Terkait

google.com, pub-7568899835703347, DIRECT, f08c47fec0942fa0