Artikel

Politikus Sontoloyo Vs Demokrasi Idiot

Oleh: Dian Anggraeni Umar

Sontoloyo dan idiot sedang menjadi trending topic di media sosial. Secara leksikal kata sontoloyo yang diucapkan Presiden Jokowi dan kata idiot yang diucapkan oleh Ahmad Dhani memiliki arti yang kurang lebih sama. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sontoloyo memiliki arti konyol, tidak beres, bodoh, dan dipakai sebagai kata makian. Tersisip makna kekesalan bagi yang mengucapkannya. Sedangkan idiot artinya tingkat kecerdasan berpikir yang sangat rendah atau daya pikir yang lemah sekali.

Namun ironisnya gara-gara kata idiot yang diucapkan Ahmad Dhani saat nge-vlog di lobi Hotel Majapahit Surabaya beberapa waktu lalu, dilaporkan telah melakukan pencemaran nama baik oleh Koalisi Bela NKRI kepada Polda Jatim pada 30 September. Dan saat ini Ahmad Dhani resmi ditetapkan sebagai tersangka.

Saya mengamati rekaman video keduanya, bagaimana dua kata ini diucapkan. Ketika Jokowi mengucapkan kata sontoloyo, Jokowi sedang menyampaikan sambutannya di forum publik resmi pembagian sertifikat tanah untuk warga di Jakarta Selatan. Kata sontoloyo diucapkannya dengan ekspresi wajah dan vokal bernada kesal. Sementara dalam rekaman video vlog Ahmad Dhani, kata idiot diucapkannya dengan ekspresi wajah yang tenang dan suara bernada santai, tidak terlihat ada emosi meluap-luap mau pun rasa benci.

Kalau kita menilik kejadian sebenarnya, musisi dan politikus Gerindra ini adalah korban persekusi dari para pendemo yang menolak aksi deklarasi #2019gantipresiden di Surabaya akhir Agustus lalu. Ratusan massa mengepung hotel Majapahit tempat dia menginap. Saat massa berdemo dan berteriak-teriak di luar hotel, Dhani membuat vlog dan mengutarakan massa tersebut sedang membela penguasa, sementara Dhani hanya musisi yang tidak memiliki backing polisi lantas didemo. Kata idiot yang diucapkan Dhani pun tidak secara spesifik ditujukan kepada siapa. Kasus ini seperti dipaksakan, tidak jelas dimana unsur pencemaran nama baiknya.

Mari kita bandingkan kasus ini dengan yang terjadi di Amerika. Penggunaan kata ‘idiot’, ‘dope’, ‘moron’ sempat menghebohkan Gedung Putih, bagaimana para pembantu Trump memakai kata-kata itu untuk menghina bosnya. John Kelly Kepala Staff Gedung Putih menyebut Donald Trumph “idiot”, beberapa kali Kelly membuat pernyataan presiden sebagai orang bodoh. Mantan Menteri Luar Negeri Rex Tillerson pada Juli 2017 menyebut Trump sebagai “orang tolol”. Komentar itu muncul setelah Tillerson mengadakan pertemuan dengan anggota tim keamanan nasional di Gedung Putih. Bahkan Menteri Pertahanan Jimm Mattis mengatakan Trump hanya memiliki pemahaman anak kelas lima atau enam di sekolah dasar.

Di Amerika kebebasan berpendapat masih dijunjung tinggi, kata idiot tidak dikategorikan sebagai ujaran kebencian meski sangat jelas kata-kata tersebut ditujukan kepada pemimpin negara. Di Indonesia kata “idiot’ dipolitisasi untuk menekan lawan politik oleh penguasa. Ahmad Dhani adalah korban kriminalisasi. Kalau kata idiot dianggap sebagai ujaran kebencian, lantas bagaimana dengan kata sontoloyo yang diucapkan Presiden? Kata tersebut tidak sepantasnya keluar dari bibir seorang pemimpin negara apalagi diucapkan dalam sambutan di forum resmi di hadapan warga dan pejabat publik.

Rizal Ramli dalam Talk Show Menuju Indonesia Baru beberapa waktu lalu di Jakarta mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini sedang menghadapi demokrasi kriminal. Banyak terjadi persekusi dan kriminalisasi terhadap pihak oposisi. Pesta demokrasi yang didengungkan sebagai ajang adu gagasan dan kreatifitas oleh presiden akhirnya kandas diciderai dengan intimidasi dan penindasan terhadap lawan politik. Aparat tidak berperan sebagai pengayom dan pelindung masyarakat tetapi cenderung menjadi alat politik penguasa.

Letakkanlah nalar pada tempatnya, sisakan ruang di kepala kita untuk selalu berpikir logis. Kata-kata yang diucapkan merupakan refleksi dari pemikiran kita.

Jangan sampai era ini kelak tercatat dalam sejarah sebagai demokrasi idiot, refleksi ketidakmampuan berpikir, meminjam istilah Rocky Gerung yang menyebut era ini sebagai era “dongokrasi” dikuasai oleh politikus-politikus sontoloyo.

Communication Strategist di Holistic Reputation Advisory
Kandidat Doktor Ilmu Komunikasi Unpad Bandung

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up