ArtikelFeatured

Pindah Ibukota, Mendadak Dangdut?

Oleh Muhammad Izzul Muslimin
(Rakyat Indonesia)

Aneh, berbulan-bulan diberi kesempatan kampanye tak satupun ucapan mau mengagendakan pindah Ibukota Negara. Baru setelah dinyatakan menang oleh KPU, tiba-tiba muncul wacana mau pindah Ibukota Negara. Ada apa sebenarnya? Apa takut kalau dalam kampanyenya ada usulan pindah Ibukota Negara bakal tidak menang Pemilu? Apa ide pindah Ibukota Negara adalah pikiran yang tidak punya dasar sehingga takut diperdebatkan dalam Pilpres?

Saya bukan alergi pindah Ibukota Negara. Malah sebenarnya saya termasuk orang yang setuju suatu saat kita perlu pindah Ibukota Negara. Tapi tidak begini caranya! Adanya Kampanye dan debat publik Calon Presiden adalah untuk mengetahui apa yang mau dilaksanakan para kandidat Presiden. Supaya kita sebagai rakyat juga tahu apa yang ada di otak dan pikiran mereka. Sebab, kita sudah tidak punya lagi GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara) yang wajib dijadikan pedoman oleh Presiden. Makanya kita tahu dari apa yang mereka kampanyekan dan perdebatkan. Ini negara bukan milik Presiden sendiri, sehingga kalau mau jadi Presiden dia harus sampaikan apa yang jadi agendanya jika nanti terpilih. Apa yang dikampanyekan itulah nanti yang akan ditagih rakyat jika dia terpilih menjadi Presiden.

Mungkin saya yang salah baca atau salah dengar, sehingga selama mengikuti proses kampanye dan debat Capres saya tidak pernah mengetahui ada rencana mau pindah Ibukota Negara. Atau mungkin urusan pindah Ibukota Negara adalah persoalan yang sepele dan nggak penting sehingga tidak perlu diagendakan dalam kampanye dan debat Capres? Atau mungkin memang janji-janji kampanye itu bukan sesuatu yang penting sehingga bisa saja seorang Presiden terpilih mengagendakan apa yang dulu tidak pernah dia janjikan, dan sebaliknya tidak melaksanakan apa yang pernah dia janjikan?

Bila begini caranya maka jangan salahkan kalau ada yang berpikir bahwa ada udang dibalik bakwan dalam hal usulan pindah Ibukota Negara. Pindah Ibukota Negara bukanlah kehendak rakyat Indonesia tetapi hanya menjadi kehendak para cukong dan para calo yang akan mengambil untung dari proyek yang ratusan triliun anggarannya. Ah, semoga Pilpres kemarin saya tidak salah memilih orang yang berbeda antara kata dan perbuatan. Wallahu a’lam.

Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker