Artikel

Pilgub Jateng: Jalan Terjal Bagi Rustriningsih

Oleh: Kang Juki

Masih ingat baliho para bakal calon gubernur dalam pemilihan gubernur (pilgub) Jawa Tengah tahun 2013? Salah satunya adalah baliho bergambar Rustriningsih, saat itu Wagub Jateng. Sebagaimana bakal calon gubernur (balongub) lainnya, baliho bergambar Rustri juga dipasang di berbagai pelosok Jawa Tengah, utamanya Kebumen, daerah asal Rustri. Kabupaten yang dipimpinnya dua periode berturut-turut, sebelum memutuskan ikut pilgub Jateng 2008 sebagai cawagub dan berhasil.

Uniknya dalam baliho tersebut, gambar Rustri tengah melambaikan tangannya. Meski slogannya cukup mengena sebagai balongub Jawa Tengah, yaitu: BERSIH, singkatan dari Bersama Rustriningsih, gambar tangan melambai sungguh tak lazim. Mestinya tangan mengepal melambangkan semangat, mengangkat jari telunjuk untuk mengingatkan atau mengacungkan dua jari membentuk logo v (victory), simbul kemenangan.

Melambaikan tangan, dengan telapak tangan terbuka penuh, kesannya ada dua kemungkinan, menyapa khalayak yang baru didatangi atau menyampaikan salam perpisahan karena mau pergi. Sebagai wagub petahana, tentunya Rustri sudah banyak dikenal masyarakat. Sehingga lambaian tangannya jadi lebih berkesan sebagai salam perpisahan. Dan ternyata Rustri memang harus melakukannya karena tidak kebagian partai pengusung dalam pilgub Jateng 2013. Rekomendasi DPP PDIP yang ditunggu-tunggu, pada hari-hari terakhir pendaftaran, jatuh ke pasangan Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko.

Sementara Gerindra, yang saat itu konon sempat ‘melamar’ Rustri, akhirnya mengusung pasangan Hadi Prabowo-Don Murdono. Gerindra berkoalisi dengan PKS, PKB, PPP, Hanura, dan PKNU. Pasangan lainnya adalah petahana Bibit Waluyo-Sudijono yang diusung koalisi Partai Demokrat, Partai Golkar dan PAN.

Menjelang pendaftaran bakal calon pilgub Jateng 2018, nama Rustri kembali disebut-sebut layak untuk maju lagi. Pak Dirman (Sudirman Said), saat sudah resmi diusung PAN dan Gerindra, sempat menyinggung kemungkinan menggandeng Rustri. Bahkan Pak Dirman juga menyempatkan diri mengunjungi rumah Rustri di Semarang.

Seiring bertambahnya partai pengusung, PKS, alternatif pasangan Pak Dirman juga bertambah. Pengusung Pak Dirman (Gerindra, PAN dan PKS) yang lebih merepresentasikan kalangan Islam modernis, jelas belum cukup untuk mengalahkan kandidat yang nanti diusung PDI-P, terlepas siapapun orangnya. Belajar dari dua kali pemilihan bupati Kebumen, salah satu kandang PDI-P di Jateng, kandidat yang diusung PDI-P bisa dikalahkan bila ada koalisi yang merepresentasikan Islam modernis dan tradisionalis, atau sederhananya Muhammadiyah dan NU.

Dalam konteks ini, Rustri jelas bakal kalah bersaing dengan alternatif pasangan Pak Dirman lainnya. Yang sudah disebut-sebut ada tiga orang dari PKB dan PPP. Gus Yusuf (K.H. Muhammad Yusuf Chudlori) pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren Salafi Tegalrejo, Magelang dan Ketua DPW PKB Jawa Tengah, salah satu yang disebut Pak Dirman. Dua lainnya putra sesepuh PPP Jateng, K.H. Maimun Zubair, yakni Gus Malik (Ketua DPRD Rembang) dan Gus Yasin (anggota DPRD Jateng).

Kabar terbaru, malah Cak Imin (Ketua Umum DPP PKB) mewacanakan pasangan Marwan Jafar dan Sudirman Said. Marwan Jafar sejak awal memang digadang-gadang menjadi cagub Jateng yang diusung PKB. Semakin kecil peluang Rustri untuk berpasangan dengan Pak Dirman.

Meski beberapa hari lalu ratusan petani menggerudug rumah Rustri di Semarang, disusul puluhan kades mendatangi rumah Rustri di Kebumen, memintanya maju dalam pilgub Jateng, tak banyak memberi pengaruh terhadap peluang Rustri. Apalagi kalau ada yang bermimpi mendorong Rustri tak hanya menjadi cawagub tapi juga cagub. Jika ide Cak Imin menduetkan Marwan Jafar-Sudirman Said atau sebaliknya Sudirman Said-Marwan Jafar terwujud, peluang Rustri nyaris tertutup untuk ikut pilgub Jateng.

Harapan yang masih ada, meski kecil, kalau koalisi yang sedang dirintis, Golkar, PPP dan Demokrat berminat mengusung Rustri. Kemungkinan Rustri mendapat rekom dari DPP PDI-P, meski hanya untuk mendampingi Ganjar, nyaris tidak ada. DPP PDI-P pastinya juga mengevaluasi, ketakberdayaan Rustri mendukung pilbup di Kebumen, sehingga dua kali berturut-turut kandidat yang diusung PDI-P selalu menempati posisi buncit, padahal sejak reformasi PDI-P selalu menjadi pemenang pemilu legislatif di Kebumen.

Dengan perkembangan politik seperti ini, kans Rustri untuk maju dalam pilgub Jateng cukup berat. Kalaupun pendukungnya masih bermanuver, mungkin hanya bisa menghasilkan deal-deal politik. Misalnya, Pak Dirman urung berpasangan dengan Rustri, tapi diakomodasi menjadi timses. Kompensasinya dalam pileg 2019 nanti Rustri didukung untuk menjadi caleg, entah itu DPR RI atau DPD RI. Selebihnya? Wallahu a’lam.

Penulis novel “Pil Anti Bohong” dan “Silang Selimpat”.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up