Artikel

Piala Presiden 2018: Blunder Bagi Jokowi, Booming Bagi Anies

Oleh Habil Marati

Tapi semestinya final piala Presiden semalam menjadi hiburan sportivitas jauh dari kognitif politik. Tapi sayangnya Blunder yang dilakukan oleh Maruara Sirait cs tidak menyebut nama Anies dan tidak meminta Anies untuk mendampingi Jokowi justru telah menggelincirkan Jokowi jauh dari kesan sportivitas dan menjauhkan Jokowi di hadapan pencinta sepak bola nasional. Hanya orang orang picik saja yang mengemas final piala Presiden semalam untuk menjatuhkan Anies. Justru Jokowi telah dijatuhkan oleh Panitia Final Presiden semalam, saya yakin Jokowi tidak tau menahu soal ini.

Jangan lagi mengulangi sejarah kelam. Ketika Megawati menjadi Presiden 2004, SBY sebagai Menkopolkam mengalami loncatan kepopuleran luar biasa. Tentu sangat menghawatirkan bagi Megawati sebab Megawati masih ingin maju kembali pilpres 2004. Untuk mengerem laju popularitas SBY maka beberapa kewenangan SBY dipreteli dan diambil alih Presiden Megawati. Akibat curhatnya SBY pada wartawan Almarhum Taufik Kiemas menyebut SBY Jendral kenak kanakan. Puncaknya 11 Maret 2004 SBY mengundurkan diri dari Kabinet Presiden Megawati. Dan kenyataannya meskipun Megawati berpasangan dengan Ketua Umum PB NU KH. Hasyim Muzadi berhadapan dengan Pasangan SBY- JK, suara SBY-JK 69 juta atau 60.4% Sementara Megawati – KH. Hasyim Muzadi 44,6Jt atau 39,3%. Apakah sejarah akan berulang? Mungkinkah Jokowi akan mengalami hal yang sama seperti yang pernah dialami Megawati 2004?

    Feeling saya seandainya Persija kalah, Pasti Anies akan dipanggil mendampingi Jokowi menyerahkan Piala pada Persija. Harapan bagi orang orang yang belum move on atas kekalahan Ahok- Djarot yang sangat-sangat menemukan hati pendukungnya mengharap ketika Anies turun dari tribun ke podium akan ada suara teriakan dari Jack Mania atau dari eks Ahoker Cs huhuhuhuhuhu. Tapi karena Persija menang pasti Jack mania akan teriak Anies …anies … anies … Anies … dan nama Jokowi bisa tenggelam, inilah yang dikhawatirkan Maruara Sirait , ini hanya analis saya belum tentu juga benar.

Berpolitik itu butuh kecerdasan spritual karena dari sinilah politik itu diurai untuk membangun hubungan Illahiyah dan Insyaniah. Sayangnya perpolitikan Indonesia saat ini menjauh dari kecerdasan spritual akibatnya Indonesia seperti di persimpangan jalan.

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

google.com, pub-7568899835703347, DIRECT, f08c47fec0942fa0