ArtikelFeatured

Pertanian Kita 25 Tahun Lagi

Oleh: Nu’man Iskandar (Ketua Brutal)

Kalau kita ditanya, kira-kira akan seperti apa pertanian kita 25 tahun lagi? Akan banyak orang akan kesulitan menjawabnya. Jangankan kita yang bukan siapa-siapa ini, seorang Kepala Daerah, Menteri, atau Presiden pun akan sulit menjawabnya. Mungkin mereka akan bisa menjawabnya, tapi biasanya hanya “kembang lambe”, pemanis belaka, karena kedudukan politiknya. Hasil untuk 25 tahun lagi, nol besar.

Membangun pertanian, bukan seperti permainan sulap. Sim salabim, lalu semua jadi, semua tersedia, semua beres. Membangun pertanian, tidak cukup dengan satu atau dua pernyataan politik. Membangun pertanian, harus dimulai dengan membangun paradigmanya. Paradigma besar membangun masa depan pertanian.

Untuk bisa melihat bagaimana pertanian kita 25 tahun mendatang, tidaklah sulit. Yaitu, mari kita tengok kembali jejak pembangunan pertanian kita pasca reformasi. Apakah selama dua dasawarsa ini pertanian kita telah mengalami kemajuan signifikan? Capaian apa yang sudah dicapai dalam pembangunan pertanian?

Sekarang, silahkan tengok kembali petani yang menjadi tetangga kita pada tahun 1998, lalu bandingkan dengan keadaan mereka tahun 2019 ini. Jika masih sama, maka sebenarnya kemajuan pertanian itu tidak pernah ada.

Selama pasca reformasi ini telah banyak berganti kepala daerah, menteri ataupun presiden, namun dunia pertanian kita tetap begitu-begitu saja. Ini artinya, kita harus mengakui bahwa selama ini pembangunan pertanian kita masih jalan ditempat. Ini yang saya sebut dengan “involusi pertanian”.

Pembangunan dunia pertanian pada kurun dua dasawarsa terakhir ini bisa kita gunakan untuk menjawab bagaimana pertanian kita 25 tahun lagi. Jika selama pasca reformasi keadaan mereka para petani tidak banyak perubah, maka pada kurun 25 tahun mendatang sebenarnya hampir sama.

Dalam Islam, harusnya hari ini lebih baik dari hari kemarin. Dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Harusnya ini menjadi spririt dalam membangun pertanian. Pertanian kita 25 tahun mendatang, tidak boleh sama dengan capaian dua dasawarsa reformasi.

Bagaimana caranya? Pembangunan pertanian harus dilakukan pada berbagai level.

Pertama, pada level kebijakan. Kebijakan pertanian mustinya berpihak kepada petani dengan memberikan proteksi. Impor pangan, ini menjadi pintu masuk kehancuran petani. Harusnya kebijakan berorientasi pada ekspor. Selama kebijakan hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, kita tidak akan pernah maju dalam pertanian.

Kedua, masalah distribusi dan pasar. Kesejahteraan petani sulit akan terjadi jika masalah distribusi dan mekanisme pasar tidak berubah. Harga pupuk, obat dan bibit ditentukan oleh pedagang. Dan demikian juga pasca panen mereka, juga ditentukan oleh pedagang. Petani nyaris sejak awal tidak memiliki kedaulatan atas apa yang dilakukan.

Ketiga, peningkatan kapasitas. Saya sering ke beberapa daerah untuk memberikan pendampingan. Pada tempat yang saya datangi, cara bertani petani kita masih seperti 50 tahun yang lalu. Hampir tidak ada alih teknologi pada cara bertani kita. Setelah saya berikan informasi dan pembekalan alih teknologi sederhana, mereka lebih giat bertani. Peningkatan kapasitas ini mutlak diperlukan.

Keempat, soal konsistensi pembangunan pertanian. Setiap ganti pemerintahan, maka akan ganti kebijakan. Terlalu banyak hal yang tumpang tindih dalam pertanian. Ini yang menjadikan pembangunan pertanian saling mengunci dan menjadi hambatan. Kebijakan yang baik tidak bisa dilaksanakan, baik pada level kebijakannya maupun impelementasinya.

Kelima, visi kepemimpinan. Pembangunan pertanian adalah visi politik. Selama visi pembangunan pertanian tidak menjadi orientasi utama kepemimpinan, kita tidak bisa berharap banyak pada capaian pertanian sebagaimana harapan.

Keenam, pertanian harus berorientasi industri. Petani kita tidak pernah diajari bahwa apa yang mereka lakukan harus berorientasi pada tujuan industri. Selama ini, orientasi industri hanya menyentuh mereka pada level pedagang, bukan pada petani itu sendiri. Akibatnya, bertani hanya pekerjaan sampingan dan sangat rawan dieksploitasi. Paradigma ini juga harus menjadi “paham” bagi petani kita sehingga bertani identik dengan profesionalisme.

Bagaimana dengan peran perguruan tinggi? Masih sangat sedikit hasil riset perguruan tinggi ini yang bisa diaplikasikan pada level teknis yang bisa dilakukan oleh petani. Malah lebih banyak, hasil-hasil riset yang justru “dijual” untuk kepentingan korporasi. Dan pada saat yang sama, korporasi justru sering meninggalkan petani. Ini sebuah ironi.

Tanpa ada perubahan signifikan dari pembangunan pertanian, keadaan pertanian kita tidak akan banyak berubah dan mungkin pada 25 tahun lagi problem pertanian kita masih sama. Jika masih sama, ini artinya kita jatuh kesekian kalinya pada lubang kedunguan.

Doha, 7 September 2019. Salam Brutal…

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait