Artikel

Performa Partai Islam dari Waktu ke Waktu

Oleh: Ikhsan Kurnia

Pemilu legislatif 2019 sudah semakin dekat. Ada baiknya kita mereview sejarah performance partai-partai Islam dari pemilu ke pemilu. Pada Pemilu tahun 1955, gabungan suara semua partai Islam mencapai 43,7%. Dalam sejarah partai Islam hingga hari ini, tahun tersebut adalah pick achievement yang selama ini mampu dicapai. Bagi sebagian aktivis Islam, Pemilu tahun 1955 adalah momen “keramat” yang masih dibanggakan dan dijadikan best practice hingga hari ini.

Di masa Orde Baru, beberapa partai Islam seperti Partai Nahdlatul Ulama (NU), Partai Serikat Islam Indonesia (PSII), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) dan Parmusi berfusi mendirikan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di tahun 1973. Namun, sebagai satu-satunya partai Islam yang mengikuti Pemilu, PPP hanya mampu meraih suara tertingginya sebanyak 18.743.491 (29,29%) di tahun 1977. Di era ini, partai Islam hanya dijadikan sebagai alat legitimasi kekuasaan Orba, sehingga tidak diberikan ruang untuk tumbuh besar. Bahkan, jika dilihat secara makro berdasarkan pada jumlah total suara dalam Pemilu yang pernah diselenggarakan di Republik ini, di era inilah partai Islam mengalami titik nadirnya. Pada Pemilu tahun 1987, PPP sebagai satu-satunya partai Islam hanya meraih suara sebesar 13.701.428 (15,96%).

Di era Reformasi, partai Islam diharapkan mengalami titik balik (turning point) dari keterpurukan yang dialaminya selama era Soeharto. Namun, di awal-awal periode ini, umat Islam bukannya memilih untuk mengkonsentrasikan kekuatan politik dalam satu wadah partai, namun justru seakan berlomba-lomba untuk mendirikan partai baru. Memang banyak diantara mereka yang dapat berpartisipasi dalam Pemilu, namun hanya beberapa partai Islam yang mampu meraih suara signifikan. Al hasil, dalam Pemilu demokratis pertama di era Reformasi yang diselenggarakan pada tahun 1999, gabungan suara partai Islam memperoleh angka sebesar 36,8%. Jumlah ini dipandang lebih baik dibandingkan dengan perolehan suara partai Islam di era Orde Baru. Namun, masih belum mampu menyamai angka yang pernah dicapai pada Pemilu 1955.

Pada Pemilu tahun 2004, sebenarnya gabungan suara partai Islam sudah menunjukkan trend kenaikan sebesar 1,3% dari Pemilu sebelumnya, dengan perolehan suara sebanyak 38,1%. Namun sayangnya trend kenaikan tersebut tidak konsisten dipertahankan pada ajang pesta demokrasi periode berikutnya. Sehingga tahun 2009 dinilai sebagai “kuburan” bagi partai Islam, karena gabungan suaranya hanya mencapai 25,1%. Angka ini masih di bawah angka pada Pemilu tahun 1977 dalam suasana di bawah rezim otoriter.

Meskipun kembali mengalami kenaikan pada tahun 2014 dengan perolehan suara gabungan sebanyak 31,4%, namun partai Islam belum dapat lepas dari posisi sebagai objek penderita. Hal ini karena partai Islam hanya menjadi pemain “kelas dua”, bukan pemain utama. Sebagai pemain kelas dua, konsekuensinya partai Islam memiliki banyak keterbatasan dalam mengendalikan kekuasaan, termasuk kelemahan dalam menentukan kebijakan dan memilih pemimpin.

Di Pemilu 2019 nanti, komposisi partai-partai Islam yang lolos seleksi di KPU (menjadi peserta Pemilu) agaknya masih sama dengan Pemilu 2014. Dengan komposisi yang sama tersebut, bisakah partai Islam menggenjot suaranya hingga di atas 31,4%?

Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: