Artikel

Pentingkah Jiwa Corsa di Kampus?

Oleh Prof Suteki

Ketika persekusi atas diri saya dengan dugaan keji bahwa saya anti Pancasila, UUD 1945 anti NKRI dan pemerintah dari “oknum pemerintah” menyeruak, sebenarnya saya berharap ada PERLINDUNGAN KHUSUS BAIK HUKUM maupun psikologis dari “punggawa penggedhe” UNDIP serta teman sejawat khususnya dosen lebih khusus lagi para guru besarnya.

Alih-alih perlindungan atas diri saya dilakukan, justru saya makin dipojokkan seolah saya telah melakukan “MAKAR KUBRO” terhadap negara ini. Pemeriksaan yang melampaui stratifikasi atau hirarki kepegawaian justru terjadi. Peredaman masalah tidak dilakukan bahkan terjadi blow up pemberitaan ke media sosia WA dan media cetak melalui pesan khusus serta press release dari pihak Humas Undip. Api yang kecil yang mestinya dipadamkan tetapi oleh Undip sendiri ditiup hingga menjadi dahana merah menyala-nyala. Tidak menghangatkan intelektualitas tetapi justru membunuh karakter saya sebagai pengajar Pancasila dan Filsafat Pancasila selama 24 tahun.

Syahdan, pembelaan terhadap diri saya justru datang dari “negeri” dan para sahabat dari luar Undip. Mengapa tidak muncul jiwa corsa dari peer group dosen dan guru besar? Bukankah guru besar itu mesti melakukan aktifitas intelektual yang mendasar, mengakar, yang radikal sehingga membantu universitas untuk menjalankan tugasnya MERUHANIKAN ILMU? Ataukah teman sejawat itu sebenarnya juga punya jiwa corsa tetapi malu dan takut menampakkannya karena takut “di-suteki-in”?

Pembelaan dan simpati terhadap persekusi yang menimpa saya antara lain diwujudkan dengan PETISI UNTUK MENOLAK TINDAKAN REPRESIF DARI MENRISTEK DIKTI hingga mencapai 22 ribu tanda tangan dalam petisi tersebut. Jumlah yang menurut saya tidak kecil terlepas dari pengaruh petisi terhadap suatu kebijakan. Apatah arti sebuah petisi? Bagi saya sangat berarti untuk memberikan support dan membesarkan bathin saya yang tengah tercabik.

Jiwa corsa sebagai sesama dosen yang mengagungkan nilai intelektualitas tercabik dan menjadi terkesan tidak berguna ketika sesama kolega justru mendorong persekusi keilmuwan kepada saya. Cara itu misalnya dengan menggelar petisi tandingan yang merepresentasikan pesan bahwa: SEOLAH KITA TIDAK PERNAH BERKAWAN DAN BEKERJA SAMA. Jiwa corsa, luluh lantak karena ego dan kepentingan serta nafsu menghukum dan memukul. Bukan ghirah untuk membina dan merangkul. Apatah arti jiwa corsa bila persekusi dianggap lebih tinggi dibandingkan dengan diskusi untuk memahami sehingga ada kesamaan persepsi dalam keragaman berpikir sebagai seorang intelek.

Kampus itu berdiri sebagai universitas yang memang diakui, diyakini akan ada dan muncul keragaman berpikir para penghuninya. Keragaman itu bukan hanya ada perbedaan, bahkan akan ada pertentangan hingga kesalahan pengetahuan, hingga ideologi yang dianutnya. Tugas teman sejawat adalah mengajak diskusi untuk menemukan narasi kebenaran meski itu pun relatif. Bukan dengan cara persekusi yang seringkali blunder tanpa solusi. Kampus pun perlu jiwa corsa sebagai cara melindungi sistem pencarian kebenaran melalui kebebasan berpikir dan berpendapat warga, baik di dalam maupun di luar kampus.

Tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Apakah petisi tandingan berikut ini—-petisi yg mendorong tindakan represif oleh Menristekdikti terhadap saya yang dipelopori oleh kolega sendiri— makin mendewasakan kita, ataukah justru sebaliknya?

#tuduhankejimengoyakjiwacorsa

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

google.com, pub-7568899835703347, DIRECT, f08c47fec0942fa0
mgid.com, 469747, DIRECT, d4c29acad76ce94f