Artikel

Pengajian, Pengaosan, Pengkeosan

Oleh Dhimam Abror Djuraid

Pengajian, dari kata “ngaji” dan kata dasar “kaji”, berarti mengaji ilmu-ilmu agama Islam.
Pengaosan, dari kata dasar “kaos”, berarti pemakaian kaos pada seseorang atau bagi-bagi kaos untuk promosi atau kampanye.
Lain lagi dengan pengkeosan, dari kata keos (chaos), berarti tindakan untuk menimbulkan situasi kerusuhan alias keos.

Pengajian dan pengaosan menjadi fenomena umum di tahun politik ini. Jangan keliru, pengajian beda dengan pengaosan. Orang Jawa memang menyebut pengajian sebagai pengaosan dalam bahasa kromo.

Pengaosan punya makna konotatif dan denotatif. Pengaosan, dari kata ngaos, berarti mengaji ilmu agama Islam. Tapi pengaosan dari kata dasar “kaos” artinya bagi-bagi kaos. Kita banyak melihat pengajian dan pengaosan setiap hari di sekitar kita sekarang ini.

Bagaimana dengan pengkeosan? Upaya menimbulkan situasi kerusuhan, tidak bisa kita lihat kasat mata di sekitar kita. Tapi, tidak berarti tidak ada.

Tiga faktor itu, ngaji, kaos, dan keos, menjadi faktor yang saling berkait dan dua faktor pertama bisa menjadi penyebab situasi keos.

Fenomena pengajian merepresentasikan kebangkitan kesadaran beragama di kalangan masyarakat belakangan ini. Kebangkitan kesadaran beragama ini bertransformasi menjadi kesadaran politik kelompok Islam kelas menengah perkotaan yang terbukti menjadi kekuatan politik praktis yang efektif pada pemilu gubernur DKI 2016.

Kekuatan Islam ini, oleh Hefner (2000), disebut sebagai “Civil Islam” sebagai kekuatan Islam yang moderat, inklusif, dan toleran yang sejak awal dipromosikan oleh Cak Nur dan Gus Dur yang memperkenalkan konsep Islam Madani.

Dalam perkembangannya kemudian muncul kekuatan Islamis yang diasosiasikan dengan Islam politik, yang antara lain, ditandai dengan munculnya FPI (Front Pembela Islam) yang menjadi kekuatan penting dalam menumbangkan Ahok dalam pemilu gubernur DKI, 2016.

Kekuatan ini menjadi semakin besar seiring dengan semakin hangatnya situasi politik menjalang pilpres 2019. Reuni 212 Desember 2018 menunjukkan bahwa kekuatan ini mempunyai potensi besar untuk mengulang sukses pilkada DKI di ajang kontestasi pilpres tahun ini.

Fenomena kedua, pengaosan, adalah fenomena kekuatan modal besar yang berkaitan dengan kekuatan oligarkis yang mendukung presiden petahana.
Kemampuan pengaosan petahana didukung oleh kekuatan logistik yang masif. Semua resource ada di petahana, termasuk anggaran negara yang bisa dimanfaatkan untuk mendongkrak keterpilihan kembali petahana.

Dalam hal kemampuan melakukan “pengaosan” petahana bukan hanya mempunyai resource yang berlebih, tapi juga sekaligus mempunyai kekuatan koersif untuk mematahkan perlawanan oposisi. Tapi, penggunaan kekuatan hukum yang represif untuk mematahkan oposisi justru menimbulkan front perlawanan baru. Penahanan Ahmad Dhani dikira akan membungkam musisi itu. Yang terjadi justru sebaliknya suara Dhani semakin lantang. Menahan Dhani bukan membungkam malah memberi panggung baru.

Serangkaian blunder yang dilakukan kelompok pengaosan semakin membuat solid kelompok pengajian. Pembebasan Abu Bakar Ba’asyir yang diralat adalah salah satu saja dari rangkaian blunder yang makin merapuhkan kekuatan kelompok pengaodan dan memperkokoh kekuatan kelompok pengajian.

Fenomena ketiga adalah pengkeosan, yaitu munculnya berbagai hal yang dikaitkan dengan situasi keos, yang puncaknya adalah batalnya pemilu 2019. Para pendukung teori konspirasi percaya bahwa sekarang ada upaya “bulsit”, penimbul situasi, untuk membuat rusuh sehingga pemilu gagal dilaksanakan. Mereka yang tidak percaya kepada teori konspirasi mengatakan bahwa skenario pemilu batal adalah “bullshit”, omong kosong.

Di pihak mana pun Anda kemungkinan bulsit atau bullshit tetap ada. Kecurigaan adanya skenario kecurangan besar-besaran yang disiapkan oleh petahana sudah cukup untuk menjadi bulsit yang bisa mengarah ke pengkeosan. Kasus 31 juta DPT yang bermasalah bisa menjadi bom waktu yang destruktif.

Kekecewaan dari berbagai kalangan terhadap kondisi sosial ekonomi nasional menjadi faktor bulsit yang bisa memicu pengkeosan. Ketimpangan dan ketidakadilan yang meluas juga menjadi faktor pemberat. Skenario rusuh melalui gagal pemilu bukan hanya ditudingkan ke petahanana yang disebut akan mengeluarkan

Kubu petahana pun menuduh oposisi menyiapkan skenario rusuh kalau sampai kalah pemilu.

Jadi, apakah pengkeosan ini akan memunculkan keos betulan? Tergantung Anda pesimistis atau optimistis. Kalau Anda pesimistis Anda akan percaya bahwa kalau oposisi kalah maka akan muncul keos karena mereka dilalahkan oleh kecurangan.
Kalau petahana kalah maka akan diumumkan situasi darurat sipil untuk membatalkan hasil pemilu.

Kalau Anda optimistis percayalah bangsa Indonesia sudah sangat dewasa dan matang dalam menghadapi berbagai situasi krisis. Andai oposisi kalah (kecil banget kemungkinannya) maka akan kita terima kekalahan yang terhormat.

Tapi, kalau petahana tumbang (insyaAllah sudah tertulis di Laukh Mahfudh), lalu tidak terima dan mengumumkan keadaan darurat sipil, tenang sajalah, gak perlu panik. Kita minta tolong Romy untuk meralat keputusan itu. Okay? (*)

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up