Artikel

Pendidikan Kita di Tengah Politik dan Kekuasaan

Oleh: Himawan Sutanto 

Belum juga usai berita tentang ribuan karyawan honorer kategori dua (K2), yang mayoritas guru, melakukan aksi demonstrasi menuntut agar diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS). Para guru yang berasal dari sejumlah daerah di Indonesia itu menggelar aksi demonstrasi di seberang Istana. Muncul kejadian video yang viral tentang murid melakukan pemukulan kepada gurunya di media sosial.

Dalam video yang berdurasi 24 detik itu, Joko (demikian nama guru tersebut) seolah dikepung para siswa dan saling tendang hingga sebelah sepatunya lepas. Kemudian dari kasus video tersebut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) turun tangan dan berkoordinasi dengan Kadisdik Provinsi Jawa Tengah terkait video viral guru di-bully murid di Kendal. Hasil pertemuan itu, para murid diminta tidak mengulangi perbuatan mereka kembali dan yang lebih menarik ternyata kejadian tersebut sebuah candaan alias guyonan belaka. Demikian kata Muhaidi Kepala Sekolah SMK NU 03 Kaliwungu peristiwa itu terjadi di kelas X TKR pada Kamis 8 November 2018 lalu.

Persoalan di atas adalah contoh dari sekian kasus yang melanda nasib pendidikan kita dewasa ini. Pendidikan di Indonesia sebenarnya bertujuan membentuk peserta didik yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia. Namun kalimat ini manis didengar, susah untuk mencapainya. Karena rincian sistem dan prakteknya justru jauh dari nilai-nilai keimanan dan ketakwaan. Apalagi soal akhlak mulia, seperti sopan santun dan hormat kepada guru yang telah memberinya ilmu, hanya diajarkan sebatas teori. Bagaimana mungkin bisa membentuk manusia berkarakter dan berakhlak mulia?

Dunia pendidikan yang sampai kini tidak kunjung selesai, selalu ada saja perubahan mendadak tanpa berkesinambungan, kesan negatif di mana ganti menteri selalu diikuti oleh kebijakan baru sampai sekarang terus berlanjut, bahkan kurikulum harus berganti di tengah jalan, tarik ulur masalah ujian nasional dan lain-lain. Akibatnya guru yang menjadi ujung tombak selalu dibuat bingung dengan perubahan tersebut. Karena perlu sosialisasi perlu pelatihan lagi dan perlu beradaptasi dengan sistem yg baru tersebut, sementara murid terus menjadi kelinci percobaan.

Jika dianalisa secara mendalam, kebijakan seperti ini sebetulnya hanya menyentuh bagian kulitnya saja. Sementara isi yang perlu disikapi dengan serius dan perlu di prioritaskan malah sering terabaikan. Persoalan pendidikan di Indonesia yang paling serius saat ini adalah moralitas anak didik dan kualitas keteladanan para pendidiknya.

Kita tengok saja kata Ki Hajar Dewantara, bahwa mendidik anak adalah mendidik rakyat. Artinya pendidikan sangat penting bagi maju mundurnya sebuah bangsa terhadap kepemimpinan dan nasib rakyatnya. Ki Hadjar Dewantara sesungguhnya memiliki pandangan yang berbeda dengan sistem pendidikan nasional yang kita jalankan saat ini. Saat ini kita lebih banyak mencontoh dan mengacu pada sistem pendidikan negara lain. Padahal, Ki Hadjar Dewantara dahulu menginginkan sistem pendidikan kita berakar dari budaya, kebiasaan dan norma Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Lalu apakah sistem pendidikan di Indonesia saat ini adalah salah? Belum tentu. Karena tentu saja sistem pendidikan juga harus mengikuti arus dan perkembangan zaman. Namun tetap harus berpacu pada benang merah, tujuan dan arah, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, sesuai dengan yang tertuang pada Pembukaan Undang-Undang 1945.

Kita bisa melihat bahwa pendidikan hari ini tentu saja berbeda dengan pendidikan di masa lalu. Perbedaan cara mendidik, cara berpikir, bahkan mata pelajarannya-pun banyak berbeda. Meski pengkolonian sistem pendidikan kolonial begitu terasa, tetapi di masa lalu lembaga pendidikan berhasil mencetak karakter siswa dengan begitu kuatnya. Keterbatasan fasilitas dan masih berkobarnya semangat juang, memberi motifasi moril kepada peserta didik. Pendidikan menjadi kunci utama dalam pembangunan sumber daya manusia.  Pendidikan menjadi salah satu solusi dari sekian banyak masalah dan persoalan yang dilanda bangsa. Jika pendidikan mampu menghasilkan kualitas manusia yang semakin baik, niscaya, bangsa ini akan mampu bangkit menuju sebuah peradaban yang lebih baik.

Karena bicara tentang kualitas pendidikan bukan hanya bicara soal sekolah, guru, dan para murid. Namun, bicara tentang sebuah kualitas pendidikan yang lebih baik menjadi tanggung jawab kita semua, orang-orang yang merasa peduli dengan nasib bangsa ini, orang-orang yang peduli dengan masa depan kualitas pendidikan di negeri ini. Konsep ilmu untuk diamalkan secara praktis harus kita jalankan, sebab ada dua hal yang dipakai pendidik dalam mempengaruhi kepribadian para siswanya, yaitu: rekonstruksi dan konstruksi.  Rekontruksi adalah membongkar persepsi pemikiran yang salah secara menyeluruh (revolusioner) sampai ke akarnya, kemudian dibangun kembali konstruksi pemikiran yang benar, kokoh dan kuat. Sehingga mampu berpengaruh dalam moralnya.  Sedangkan  konstruksi  bermakna menyusun suatu persepsi pemikiran yang kokoh dengan mengoptimalkan unsur-unsur kekuatan berfikir yang akan mendorong dia untuk memiliki moral dengan benar.

 

Pendidikan milenial

Di Indonesia, sistem pendidikan konvensional masih banyak dilakukan dalam civitas akademi. Khususnya daerah yang masih tergolong pedesaan. Karena di luar negeri seperti Perancis, Finlandia dan negara Eropa lainnya juga telah menggunakan layanan pendidikan modern yang menjadi bukti pergeseran arah dunia pendidikan. Sekarang, zaman yang menuntut perubahan besar dalam dunia pendidikan. Di mana pendidikan dijadikan patokan dalam sebuah bermasyarakat. Sehingga pendidikan bermutulah yang mempunyai pengetahuan luas untuk mentransfer ilmu.

Generasi milenial (millennial generation) adalah generasi yang hidup di pergantian millennium, bersamaan dengan merasuknya teknologi digital ke segala sendi kehidupan. Teknologi digital yang telah menjadi kebutuhan dasar pada generasi sekarang ini. Pada generasi milenial, yaitu generasi yang sudah melek teknologi digital, dimana tiap informasi dengan mudah diakses lewat internet. Sehingga banyak orang berpandangan telah terjadi pergeseran nilai-nilai sosial ketimuran. Karena lebih terbuka pemikirannya dengan mudah mengadopsi nilai-nilai sosial daerah barat yang lebih modern. Memang benar, hal tersebut juga telihat jelas dalam kehidupan kita. Banyak remaja yang mulai bergaya layaknya orang barat, sehingga kehidupan sosial mereka semakin tergerus.

Hal itu juga menjadi perhatian Muhadjir Effendy Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Mempersiapkan generasi milenial menghadapi tantangan ke depan diperlukan pendidikan karakter. Selain itu, diperlukan juga memberi kemampuan adaptasi serta memiliki pondasi yang kuat sehingga setiap mengalami perubahan tidak akan kehilangan arah. Sebab generasi milenial yang bercirikan teknologi perlu kita apresiasi. Para pendidik dan pengajar harus dapat mengisi konten teknologi dunia maya internet dengan konten yang dapat menguatkan karakter positif bagi generasi milenial. Teknologi informasi sebenarnya bebas nilai, tergantung siapa yang mengisi teknologi tersebut.

Pendidikan memang merupakan kegiatan utama dalam proses humanisasi, di mana manusia dilahirkan untuk selalu berkembang di lingkungannya. Berbeda dengan hewan yang harus menerima nasib dilahirkan seperti itu lalu menyesuaikan diri dengan habitatnya. Merunut dari pendapat para ahli pendidikan bahwasannya memang kita dilahirkan sebagai manusia, namun belum dianggap sebagai manusia yang seutuhnya. Kita harus menjalani proses pemanusiaan manusia yakni humanisasi. Proses humanisasi sangat berkaitan dengan pembentukan karakter dan budaya pada diri seseorang menjadi seorang manusia seutuhnya. Memang kita ditakdirkan hidup untuk memenuhi kebutuhan hidup, kebutuhan hidup akan terpenuhi bila kita bekerja. Untuk mendapatkan pekerjaan yang layak kita membutuhkan pendidikan yang tinggi.

Tentunya memperbaiki sistem dan mutu pendidikan ini bukan tugas yang mudah bagi pemerintah. Perlu upaya dari kita sebagai warga negara untuk berpartisipasi memajukan pendidikan, yang bisa dimulai dari hal paling kecil, yaitu kejujuran. Kalau sistem pendidikan di Indonesia patut meniru sistem pendidikan Finlandia, sehingga pemerintah yang berwenang bisa merumuskan ulang sistem pendidikan di Indonesia yang belum maksimal seperti kurikulum 2013. Di mana kurikulum 2013 memiliki empat aspek penilaian, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan, aspek sikap, dan perilaku. Di dalam Kurikulum 2013, terutama di dalam materi pembelajaran terdapat materi yang dirampingkan dan materi yang ditambahkan. Persoalannya adalah kurikulum itu belum dilaksanakan secara maksimal, tetapi sudah tidak dipakai lagi karena pergantian kekuasaan. Jadi kita kembali pada bapak pendidik kita Ki Hajar Dewantara, yang mengatakan bahwa semua kemajuan dalam ilmu pengetahuan, serta segala peri kehidupan itulah kemurahan Tuhan untuk segenap manusia di seluruh dunia.

Tulisan ini saya dedikasikan kepada guru-guru dan pendidik pada umumnya. Selamat hari guru nasional, semoga hari ini kita bisa bersikap yang tegas dan jelas, agar arah pendidikan menjadi maju dan terus berkesinambungan.

*) Penulis adalah caleg DPRD DKI Jakarta dapil 4 Jakarta Timur.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up