Artikel

Pemimpin, Jejak Digital dan Hoax

STAMP: Jejak Digital Fingerprint di Dunia Maya, Hindari Hoax

Oleh Jusman Syafii Djamal

A man is the sum of his actions, of what he has done, of what he can do, nothing else“, begitu kata Mahatma Gandhi pada suatu waktu.

Jejak pengabdian seseorang pada anak, isteri, orang tua, masyarakat bangsa dan negara ditentukan oleh kumpulan tindakan yang telah dilakukan dan apa yang mampu ia perbuat untuk kemaslahatan bersama.

Seperti bunga sakura, tiap tahun kehadirannya ditunggu banyak orang karena alam menjadi indah dengan warna cerah yang ditampilkannya. Bunga ini bunga musiman, sekali mekar esoknya layu.

Begitu kurang lebihnya makna nasihat tokoh besar Gandhi. Dengan kata lain ia menganjurkan kita untuk bekerja lebih keras dan membuahkan hasil karya amaliah yang nyata dan bermanfaat selagi masih bernafas.

Kalimat Gandhi diatas merupakan kata pembuka sebuah buku menarik berjudul: “Digital Leader: 5 Simple Keys to Success and Influence“, karangan Erik Qualman, 2012, yang diberikan seorang teman pada saya karena ia lihat saya sekarang rajin nulis di facebook.

Dalam buku itu, Qualman menganjurkan agar siapapun yang ingin menjadi calon pemimpin masyarakat masa depan perlu memiliki kesadaran akan pengaruh dahsyat dari media digital saat ini. Henry Paulson Menkeu AS tahun 2008, mengatakan:”we have got to integrate the internet into our basic business“.

Kalau dulu Neil Amstrong merupakan orang pertama yang menjejakkan kakinya di bulan, rekam jejak kaki itu tak pernah dapat dihapus sepanjang jaman.

Begitu juga jejak atau “Footstamp” singing and dancing of Elvis Presley, Koes Ploes, Panbers, Ungu, Beatles, Queen, Led Jeppelin, John Mayall, dalam bentuk suara rekaman indahnya tak mudah dihapus karena tersimpan dalam vcd atau kaset baik asli maupun bajakan yang banyak terdistribusi dan disimpan sebagai arsip kenangan penggemarnya. Jejak itu kini tersimpan dalam file Mp3 di tiap handphone. ESA hilang dua terbilang. Dihapus satu muncul lainnya.

Kini jejak digital rekaman semua file WA atau email atau facebook dan twitter tiap orang telah dengan mudah dimiliki dan tersimpan dalam pojok internet tanpa bisa dihapus.

Cukup dengan gunakan “googles”, apa yang dikatakan, dilakukan dan ditulis oleh seseorang dapat digali ulang dengan mudah.

Kini era digital telah membuat “digital footprint” dan “shadow digital stamp” menempel seperti prangko dan amplop sebuah surat.

Digital foot print adalah semua cerita, kata kata dan tindakan yang kita tulis sendiri secara online tentang diri kita.

Sementara shadow of digital stamp adalah persepsi, pandangan dan komentar orang lain yang ditulis pihak ketiga tentang diri kita.

Dua duanya tersimpan rapi dalam web dan pojok online lainnya dan seperti juga jejak tapak kaki Neil Amstrong di bulan, sukar dihapus sepanjang masa.

Karenanya semua penyebar Hoax hanya mungkin bersembunyi dalam batas waktu tertentu. Ada kalanya sepandai-pandai tupai meloncat dari pohon ke pohon, satu saat terjerembab jatuh.

Karena itu kalau tidak salah Obama pernah mengatakan jika mau main Blackberry, atau Sms, Twitter atau Facebook jangan cepat cepat menekan tombol enter.

Think before you click. Don’t act to press ENTER if you do not think appropriate.

Jangan memencet tombol enter atau upload sesuatu jika lagi marah. Dulu ada pepatah mengatakan Mulutmu Harimaumu, kini harus dilengkapi jempol jarimu di tombol enter adalah anak singa yang bisa menerkam balik tanpa diduga.

Baik digital footprints maupun digital shadow stamp, kata Qualman telah menjadi “game changer” pengubah landskap tingkah laku calon pemimpin.

Dalam era digital yang serba transparan hidup seorang calon pemimpin ibarat ikan hias di akuarium, lengang lenggoknya dinikmati banyak pengamat.

Karena itu Qualman memberi rekomendasi lima kata kunci untuk beradaptasi dengan pengaruh dunia digital itu.

Ia menyebutnya dalam akronim STAMP (Jejak) yakni singkatan S untuk kata Simple, T untuk kata True, A untuk kata Act, M untuk kata Map dan P untuk kata People.

Pertama, Digital Leader harus memedomani hidupnya pertama dengan hurup S dari kata Simple atau Sederhana. Keberhasilan kata Qualman, adalah buah dari keahlian untuk menyederhanakan masalah yang rumit dan kompleks sehinga mudah menjadi pusat perhatian bersama. Simplicity is the foundation of Being Focus on our Vision and Mission.

Kedua, singkatan T dari kata True, sebuah tekad dan upaya untuk selalu berjalan di tempat yang benar dan lurus. Karena rekaman jejak itu bisa lahir di dunia maya dalam bentuk “digital footprints atau digital shadow stamp“.

Berbuat baik dan benar harus menjadi “passion” atau tekad yang ditekuni dengan sungguh-sungguh. Kalau terpeleset dan jatuh, bangun kembali.

Ketiga, singkatan A dari kata Act. Tak mungkin ada perubahan dapat dilahirkan tanpa tindakan nyata yang kadangkala penuh resiko. Cobalah untuk laksanakan semua hal besar dengan langkah kecil pertama kemudian bismillah kerjakanlah dengan sepenuh hati. Act is more important than talking.

Keempat singakatan M untuk kata MAP atau Petakan Jalan masa depanmu. Sebab calon pemimpin hendaknya selalu tidak boleh lupa untuk tiap kali membuat peta jalan kemana Anda hendak melangkah sebagai seorang calon pemimpin. Tujuan yang jelas dan terang benderang merupakan pelita yang menerangi kegelapan jika ia hadir,

Kelima singkatan P untuk kata People. Dalam sejarah tak ada pemimpin lahir tanpa pengikut. Lokomotif baru disebut begitu ketika ia menggandeng gerbong yang panjang untuk dibawa ke tujuan. Tanpa gerbong lokomotif disebut kereta langsir. Begitu kata masinis kereta api.

Kini tak mungkin ada keberhasilan jika bekerja sendirian di ruang terisolasi seperti jagoan serba bisa sambil menebar berita lewat internet. Network is imperative. Membangun jaringan dialog jadi sebuah keniscayaan .

Tanpa orang lain, kita tak mungkin punya tujuan bersama. Karenanya, berita Hoax jangan diforward agar harmoni bisa terjaga. Buku ini menarik untuk disimak.(fb)

Komentar Facebook

Sumber
facebook
Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait