Artikel

Pemimpin Berbohong

Oleh: Aswandi (Dosen FKIP UNTAN, Pontianak)

BEBERAPA hari ini, ramai dibicarakan pemimpin telah berbohong (hoax), peristiwa tersebut membuat rakyat kecewa dan tidak simpatik terhadap pemimpin pembohong yang selama ini mereka kagumi. Penulis yakin sepandai-pandai pemimpin menutupi kebohongannya, pada akhirnya senang berbohong terungkap juga. Mereka lupa nasehat orang bijak, bahwa “Janganlah merasa hebat, Kita terlihat hebat karena Allah SWT menutup aib kita”.

Kita ini manusia biasa, bergelimang dosa, sedikit saja aib kita terungkap, sudah tidak ada artinya lagi kita ini. Dari hari ke hari ditemukan semakin banyak pemimpin berbohong, bahkan tidak jarang diantara mereka yang saat ini belum kering keringatnya, belum lunas utangnya, berjuang bersama-sama untuk terpilih menjadi pemimpin, Namun sangat disayangkan sesama pemimpin mereka mulai berdusta, mulai berbohong dan mulai sembunyi-sembunyi, tidak jarang saling menyalahkan.

Fenomena pembohongan (hoax) yang dilakukan oleh pemimpin akhir-akhir ini mengingatkan penulis pada bohongnya para pemimpin sebelumnya. Penulis mencatat beberapa diantaranya, Presiden AS Bill Clinton diimpeach atau dimakzulkan bukan semata-mata karena perselingkuhannya dengan Monica Lewensky melainkan karena kebohongannya bersaksi. Masyarakat Amerika marah kepada Gary Hart calon presiden Amerika Serikat bukan semata-mata karena hubungan gelapnya dengan Dona Rice, melainkan karena ia melakukan kebohongan pemalsuan identitas diri. Masyarakat dan pemilihnya mempermasalahkan kebohongan pemimpinnya.

Bambang Widjanarko selaku ajudan presiden dalam buku berjudul “Sewindu Bersama Presiden” menceritakan pengalamannya. Ketika mendampingi presiden pada sidang Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) beberapa tahun lalu, ia mendengar secara langsung bapak presiden menyampaikan pidatonya dengan menyebut angka-angka, artinya semua pernyataan (stateman) yang disampaikan presiden didasarkan angka-angka, dimana angka-angka tersebut tidak terdapat pada isi pidato yang beliau siapkan. Pernyataan disertai angka-angka tersebut membuat peserta sidang terkagum-kagum, tepuk tangan hadirin menggema membuat ruang sidang dalam suasana bergemuruh. Dalam perjalanan pulang ke penginapan, saya selaku ajudan memberanikan diri untuk bertanya (mengklarifikasi) data atau angka-angka yang beliau sampaikan pada pidatonya. “Terkejutnya saya”, katanya, ketika bapak presiden mengatakan data dan angka-angka ditambah-tambahi sesukanya. Ia lakukan karena beliau paham bahwa peserta sidang pada umumnya berpandangan pragmatis, hanya percaya jika bicara disertai data dan angka.

Penulis pernah mendengar sebuah kisah di seputar bergabungnya Aceh ke Wilayah RI. Semoga kisah tersebut benar adanya. Ketika bapak presiden melakukan lobby politik agar Aceh mau bergabung ke dalam wilayah Republik Indonesia, pertemuan demi pertemuan dilakukan, namun tidak membuahkan hasil. Pada pertemuan berikutnya, dihadiri oleh para tokoh agama karismatik Aceh, bapak presiden menegaskan bahwa kemerdekaan RI bukan hadiah dari Jepang, sejak lama saya ingin memproklamirkan negeri (Indonesia) ini, namun saya harus mencari waktu yang tepat. Akhirnya, saya nyatakan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Dipilihnya tanggal 17 adalah angka yang sesuai dengan jumlah rakaat shalat fardhu. Mendengar penjelasan tersebut, para pimpinan Aceh menjadikan bahan pertimbangan untuk sepakat bergabung ke wilayah RI. Menurut penulis, dua kisah presiden di atas bukanlah hoax, melainkan sebuah retorika dalam berkomunikasi yang harus memperhatikan karakteristik komunikan.

William Davis (1998) dalam bukunya “Great Myths of Business” menegaskan bahwa “angka tidak berbohong hanyalah sebuah mitos”. Ia mengingatkan “agar kita tidak terlalu percaya terhadap data berupa angka dan memberikannya kedudukan penting yang berlebihan. Banyak yang menciptakan ilusi dari realitas angka yang kejam dan dapat dengan mudah disalahgunakan, Jangan sampai kita membiarkan diri sendiri dibodohi dan dibujuk bahwa angka adalah segalanya”.

Keth Stephens and Davidowitz (2018) menulis buku berjudul “Everybody Lies” puluhan tahun beliau bekerja di data google (pemilik big data terbesar), akhirnya ia menyimpulkan bahwa “Semua Orang Berbohong”, anehnya di era modern yang katanya era rasional tersebut, umat manusia mempercayai kebohongan itu.

Sebuah tesis mengatakan, “Pemimpin tidak boleh salah, namun ia boleh berbohong. Sementara akademisi, boleh salah, namun tidak boleh berbohong”.

Penulis tidak setuju pada tesis tersebut di atas, dan bahkan tesis tersebut menyesatkan dan merusak. Berdasarkan penelitian panjang dan mendalam terhadap para pemimpin dihampir semua bidang kehidupan, disimpulkan bahwa “Pemimpin adalah seseorang yang memiliki pengaruh (Influencer), pengaruh tersebut karena orang percaya kepadanya (credibility), dan orang percaya kepada pemimpin karena mereka memiliki karakter berikut: jujur (tidak berbohong), visioner, ispiratif dan cakap”, diutip dari Kouzer dan Posner dalam dua bukunya; “The Leadership Challenge” dan “Credibility”.

Walters (2005) dalam bukunya “The Truth about Lying” atau kebenaran tentang kebohongan menegaskan bahwa “Suatu kebohongan selalu dilakukan berdasarkan pilihan, bukan karena kebetulan”, artinya berbohong itu disadari, disengaja atau direncanakan, tidak ada kebohongan tanpa disadari, tanpa disengaja atau tanpa direncanakan, Ia mengingatkan bahwa “Anda tidak bisa menghentikan seseorang berbohong kepada Anda, tetapi Anda bisa menghindari menjadi korban kebohongannya. Dan satu-satunya faktor kunci yang dapat Anda kendalikan adalah peluang berbohong orang lain, diantaranya tidak memberi tahu kepadanya secara khusus mengenai tanda-tanda atau gejala tindakan yang menguak kebohongan mereka” ()

Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: