Artikel

Pelajaran Berharga dari Aksi Bela Islam

Oleh: Fuad Bawazier

Terbukti Aksi Bela Islam 55 berjalan aman damai tertib sebagaimana Aksi-aksi sebelumnya 411 dan 212. Tuntutannya juga sederhana tapi konsisten, yaitu agar penista agama (Ahok) dihukum sebagaimana penista penista agama sebelumnya, tidak dilindungi ataupun di istimewakan. Jadi secara umum tidak perlu dikhawatirkan apalagi dituduh macam-macam seperti gerakan makar, intoleran, anti bhineka tunggal ika, anti NKRI, SARA, Indonesia Timur akan memisahkan diri dan lain sebagainya.

Tuduhan-tuduhan yang asbun seperti itu justru kontra produktif sebab bisa menakutkan publik, mengganggu perekonomian, menanamkan bibit-bibit permusuhan dan kecurigaan sesama anak bangsa, memancing konflik, dan melahirkan bibit-bibit radikalisme karena merasa dimusuhi penguasa atau diperlakukan tidak adil. Lebih seram lagi ada bisik-bisik dan hembusan ancaman bahwa Aksi Bela Islam akan menjadikan Indonesia perang saudara seperti di Syria atau Irak. Padahal para pendemo itu tuntutannya sederhana saja yaitu Ahok dihukum (tidak dilindungi penguasa). Pendemo tidak berpikir muluk-muluk atau jauh-jauh seperti yang dituduhkan.

Unjuk rasa atau demo memang dijamin undang-undang. Mudah-mudahan dengan pengalaman dan bukti-bukti kedamaian Aksi Bela Islam selama ini, penguasa tidak perlu lagi over-reaktif. Maksudnya aparat memang baik, tanggungjawab, dan berjaga jaga tapi dibaca masyarakat “wah ada apa ya“? Lalu ibu-ibu buru-buru beli beras extra lantaran takut kalau  akan ada keributan atau ada apa-apa. Anak sekolah diliburkan. Penguasa menuduh makar, yang dituduh menuduh balik bahwa aparat dibayar cukong dan seterusnya.

Persoalan sederhana ini menjadi komplek semata-mata karena kebetulan Ahok ini calon gubernur DKI yang sedang bersaing yang didukung the rulling parties. Karena itulah diyakini banyak pemainnya termasuk free riders, baik di eksekutif, yudikatif maupun legislatf. Kalau saja Ahok itu bukan siapa-siapa, mungkin tidak ada demo dan kalaupun ada demo, kecil saja. Pengadilannyapun relatif cepat dan sederhana, dan mungkin tidak ada tuntutan hukuman percobaan seperti sekarang ini. Anggaran negara untuk pengamanan mungkin tidak sebesar akhir akhir ini.

Kini saatnya SEMUA pihak, baik yang sederhana lugu dan tulus maupun para pemain dan dalang mengakhiri lingkaran setan, hiruk pikuk, saling tuding, saling lapor, tuduhan dan ancaman. Gunakanlah energi bangsa untuk mengurus negara bukan mengurus seorang Ahok.

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up