Artikel

Para Pengritik Zaadit

Oleh Tarli Nugroho

UGM sudah mengirim tim Disaster Response Unit (DERU) ke Asmat. Isinya para dosen berpengalaman dari berbagai bidang yang pernah terlibat menangani sejumlah bencana. Unhas juga sudah mengirim tim dosennya untuk membantu penangan KLB di Asmat. Isinya adalah para dokter. Dua informasi itu sebenarnya menunjukkan cepatnya respon perguruan tinggi kita atas KLB gizi buruk yang terjadi di Asmat. Mestinya perguruan tinggi lain menirunya, terutama yang memiliki sumber daya cukup.

Jadi, apakah dua informasi tadi dapat mempermalukan anak-anak BEM UI, atau bisa digunakan untuk mempermalukan mereka?! Tentu saja tidak! UGM dan Unhas tidaklah apple to apple dengan BEM-UI. Jikapun ada yang harus merasa tersindir atas ikhtiar yang sudah dilakukan UGM dan Unhas, mestinya itu adalah UI, dan bukannya BEM-UI.

Tapi, kita juga harus menyadari bahwa Asmat bukanlah ladang kompetisi tunggal di mana semua orang harus terlibat dan jadi ukuran satu-satunya tentang kepedulian sosial. UI, di tempat dan persoalan lain, mungkin melakukan hal tertentu yang tak dilakukan UGM atau Unhas. Begitu juga perguruan tinggi lainnya.

Seperti yang kemarin saya bilang, hanya orang-orang brengsek yang berusaha untuk mempermalukan anak muda yang sedang belajar mengkritik kekuasaan. Dari kasus Zaadit Taqwa, kita jadi tahu kualitas orang-orang itu.

Sebenarnya, tanpa mereka sadari, mereka sedang menjatuhkan dirinya lebih kecil dari anak muda bernama Zaadit Taqwa. Sebab, saat anak muda itu berusaha menyampaikan kritik pada kekuasaan, alih-alih menanggapi dan membahas kritiknya, mereka lebih suka mengkritik si anak muda tersebut.

Mereka pikir mereka sedang mempermalukan Zaadit. Padahal tidak. Mereka sebenarnya sedang mempermalukan dirinya sendiri. Persis di situ kita patut merasa kasihan.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Check Also

Close
Scroll Up