Artikel

OTT KPK, Bundo Kanduang Maluluang Menyayat Hati

Hakim Mahkamah Konstitusi adalah penjaga dan penjamin agar nilai-nilai pondasi Negara Indonesia, yaitu UUD 1945, dijadikan pedoman utama dan tidak boleh dilanggar sedikitpun oleh siapapun dan oleh apapun dalam menjalankan negara dan kehidupan berbangsa dan bernegara

 

Oleh: Hendra J Kede

“Maluuuuuu….. antah kamano muko ko kadilataan…. surang lai urang tuo kito tatangkok tangan KPK…. Iyo sabana tungkek nan mambao rabah… Ranah Minang maratok, Bundo Kanduang maluluang tinggi manyaik hati… Hatta, Syahrir, Buya Hamka, Natsir menangis dari kubur mereka”, begitulah salah satu WA yang masuk ke saya dari salah satu tokoh Minangkabau beberapa waktu lalu terkait kena OTT salah satu Hakim MK, Patrialis Akbar, yang berasal dari ranah Minangkabau, Sumatera Barat. Tidak berselang lama dengan tokoh Minangkabau lain yang juga kena OTT KPK, Irman Gusman, Ketua DPD.

Terjemahan bahasa Indonesianya kurang lebih Maluuuuuu…. entah kemana muka ini akan disembunyikan…. satu lagi tokoh kita kena tangkap tangan KPK… bener-bener laksana tongkat yang membawa jatuh… Ranah Minang menangis…. Bundo Kanduang melulung teramat pilu menyayat hati… Hatta, Syahrir, Buya Hamka, Natsir menangis dari kubur mereka ”

Hakim Mahkamah Konstitusi adalah penjaga dan penjamin agar nilai-nilai pondasi Negara Indonesia, yaitu UUD 1945, dijadikan pedoman utama dan tidak boleh dilanggar sedikitpun oleh siapapun dan oleh apapun dalam menjalankan negara dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan sekalipun UU, kalau bertentangan dengan pondasi negara tersebut haruslah dinyatakan tidak berlaku. Dan Hakim MK itulah yang diberi tanggung jawab dan wewenang yang sangat mulia itu. Tanggung jawab dan wewenang yang hanya bisa diemban oleh NEGARAWAN SEJATI.

[nextpage title=”Hakim MK Tiang Negeri”] Hakim MK itulah tiang negeri ini agar Negara Indonesia tidak jatuh kedalam kubang yang bertentangan dengan nilai-nilai Konstitusi Negara Indonesia. Karena itu tak ada satupun lembaga pengawas Hakim MK layaknya Komisi Yudisial pengawas Hakim dibawah naungan Mahkamah Agung. Hanya status kenegerawanan dan Kode Etik sajalah pengawas mereka. Begitulah besarnya kualitas kenegerawanan yang dituntut dimiliki seorang Hakim Konstitusi.

Namun apalah lacur…. masih terasa penatnya bangun kembali setelah Ketua MK Akil Muchtar merobohkan kewibawaan lembaga penjaga nilai-nilai konstitusi, salah satu Hakim MK kembali merobohkannya, dengan kasus yang sangat memalukan pula, KORUPSI.

Pantaslah tokoh Minang tadi menyampaikan ungkapan kesedihan Minangkabau yang teramat dalam dan pilu …. kesedihan bercampur malu…. kesedihan dan malu yang teramat sangat…. kesedihan dan malu yang sampai membuat Bundo Kanduang tidak hanya meneteskan air mata….. kesedihan dan malu yang sampai membuat Bundo Kanduang tidak hanya menangis…. namun kesedihan dan malu yang membuat meluluang dan meratap tinggi…. ratapan yang setara dengan ratapan saat mayat Ibu diturunka dari rumah….. Kesedihan dan malu yang hanya bisa ditebus dengan Harakiri dalam budaya Jepang.

Hendra J Kede adalah Sekjen Comnunity for Press and Democracy Empowerment (PressCode)

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up