Artikel

OPPOSITIONAL DEFIANT DISORDER

Oleh Zeng Wei Jian

Mas Anies disorakin. Serba salah. Ga dateng ke resepsi putri presiden, dibilang ngga etis. Giliran dateng, dibully.

Para pembully itu bersikap kasar. Anies datang sebagai Gubernur DKI. Mewakili semua warga Jakarta. Beri hormat kepada Presiden Joko yang menikahkan anaknya. Malah disorakin.

Aktifis Geisz Chalifah bilang, “Hehehe jadi jelaskan kalau gue bilang mereka itu: Udik, kampungan, mental pecundang.”

Dalam bahasa Inggris, kelakuan mereka disebut “Booing”. Masuk kategori pelaku “Emotivism”.

Menurut AJ. Ayer dan Charles Stevenson, “Emotivism” holds that ethical sentences serve merely to express emotions.

Dalam kasus ini, mereka ngga gunakan kalimat. Tapi sebentuk bunyi-bunyian dalam rangka mengekspresikan emosi. Ternyata, ngga cuma simpanse yang begitu. Manusia juga.

“Booing” resmi dilarang di Parlemen Inggris. Erskine Maystates menyatakan “Members must not disturb a Member who is speaking by hissing, chanting, clapping, booing, exclamations or other interruption.”

Ngga cuma Anies yang jadi target. Karangan bunga Wakil Ketua DPR-RI, Fadli Zon, pun divandalisasi. Ugal-ugalan sekali.

Para pelaku vandalisme karangan bunga ini punya symptom penyakit mental Conduct Disorder (CD). Sedangkan pelaku “Booing” mengidap Oppositional defiant disorder (ODD).

Begini bedanya. ODD dikodefikasi sebagai penyakit DSM-5. Definisinya adalah “a pattern of angry/irritable mood, argumentative/defiant behavior, or vindictiveness lasting at least six months”.

Semoga saja, iritasi mereka lenyap 6 bulan pasca Anies dilantik jadi gubernur. Saat ini, baru 3 minggu, ya kita maklumi bila mereka nyorakin Anies. Bila gejala iritasi emosi mereka ngga ilang pasca 6 bulan, maka mereka mengidap reactive attachment disorder (RAD).

ODD tidak bersifat agresif merusak. Sedangkan expresi dari penyakit Conduct Disorder (CD) adalah destruktif. Merusak karangan bunga Fadli Zon masuk kategori CD.

Kalo menyitir Diagnostic and Statistical Manual (DSM-IV-TR), Signs and symptoms penyakit ODD adalah sebagai berikut:

Pertama: Actively refuses to comply with majority’s requests or consensus-supported rules;

Anies adalah pilihan mayoritas warga DKI. Mereka tetep tolak. Konsesus umum nyatakan “Booing” adalah ekspresi tidak santun, kasar, dan norak. Tetep mereka tolak. Jadi mereka telah memenuhi kriteri pertama signs and symptoms ODD.

Kedua, performs actions deliberately to annoy others;

Bunyi-bunyian “boo-boo” dan vandalisme karangan bunga punya motif mengusik Anies dan Fadli. Walau pun gagal. Anies dan Fadli cuma senyam senyum aja liat tingkah pola mereka.

Ketiga, they are angry and resentful of others; Ke empat: blames others for their own mistakes; frequently loses temper; is spiteful or seeks revenge;

Nah, jelas kan. Mereka memenuhi ke 4 kriteria menderita penyakit ODD. Lengkap. Perfect. Mereka marah-marah. Menyalahkan Anies dan Fadli atas kekalahan mereka di Pilkada Jakarta.

THE END

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up