Artikel

Nasi Goreng Megawati

Oleh Dhimam Abror Djuraid, Wartawan Senior Penggemar Nasgor

ini bukan menu baru di sebuah kafe. Tapi, nasi goreng Megawati adalah masakan yang suka dimasak oleh Megawati Soekarnoputri dan sering disuguhkan kepada Prabowo Subianto ketika keduanya masih kompak menjadi pasangan capres-cawapres pada pilpres 2009.

Dalam acara HUT PDIP ke-46 Kamis (10/1) Mega mengaku puyeng kepalanya memikirkan Prabowo, tepatnya anak buah Prabowo. Kata Mega, dia masih menyimpan kenangan manis dengan Prabowo, terutama saat mereka masih mesra sebagai pasangan capres dan cawapres 2009.

Mega mendengar bahwa Prabowo kangen kepada masa-masa ketika Mega suka memasak nasi goreng dan menyuguhkannya kepada Prabowo. Mega mengaku menyimpan memori manis itu.

Kalau Mega menyimpan kenangan manis dari momen 2009, apakah Prabowo juga menyimpan memori yang sama? Apakah nasi goreng Megawati itu benar-benar nasgor, atau sekadar gorengan isu yang sekarang sering disuguhkan kepada Prabowo?

Mega mengaku masih berhubungan baik dengan Prabowo, tapi merasa puyeng oleh ulah anak buah Prabowo. Sebaliknya, Prabowo pasti masih tetap hormat kepada Megawati, dan mungkin juga kangen kepada nasi goreng Mega. Tapi, Prabowo tidak bakal kangen terhadap gorengan yang disajikan anak buah Mega yang selama ini suka menggoreng isu-isu lama.

Ihwal memori 2009, tentu saja Prabowo tidak merasakan sweet memory, tapi malah merasakan memori yang pahit. Salah satu yang paling pahit adalah dikhianatinya kesepakatan Batu Tulis yang menjadi komitmen mereka berdua.

Bagaimana Prabowo bisa punya memori manis, kalau kemudian yang terjadi adalah pengkhianatan-pengkhianatan. Dari tujuh poin kesepakatan Batu Tulis, yang paling menyakitkan Prabowo adalah poin terakhir, yang menyatakan Mega akan mendukung Prabowo sebagai capres pada pilpres 2014. Alih-alih mendukung Prabowo, Mega malah mendukung petugas partai yang disebutnya “Si Kerempeng”.

Ketika Prabowo mempertanyakan komitmen Batu Tulis maka seribu satu alasan bermunculan. “Alas” (hutan) sangatlah luas. Tapi “alasan” ternyata jauh lebih luas dibanding “alas”.

Prabowo bisa kangen kepada nasgor Mega kalau nasgor itu dibumbui kejujuran dan saling percaya. Tapi, nasgor yang dibumbui pengkhianatan dan kebohongan tentu sama sekali tidak nikmat dan tak pantas dikangeni.

Pada pilpres 2014 bukan sekadar nasi goreng bumbu basi yang disajikan, kubu Megawati malah menyajikan berbagai jenis gorengan isu yang lebih basi lagi. Salah satunya adalah gorengan isu pelanggaran HAM yang dituduhkan kepada Prabowo.

Semua orang tahu gorengan isu itu basi. Masyarakat jadi bertanya-tanya mengapa pada 2009 isu pelanggaran HAM tidak muncul, tapi saat Prabowo running presiden pada 2014 digoreng dan disajikan lagi.

Isu-isu yang digoreng pada pilpres 2009 umumnya isu lama yang sengaja disajikan untuk mendiskreditkan dan memfitnah Prabowo. Seolah belum puas dengan pengingkaran komitmen itu, Prabowo pun dicurangi dalam pemilu itu. Bagaimana Prabowo akan punya kenangan manis kepada nasgor Mega kalau sudah begini?

Apakah Prabowo dendam? Tidak. Orang-orang dekat dan pendukung Prabowo kecewa dan marah. Adik Prabowo, Hashim Djojohadikusumo, memilih menghindar ke luar negeri daripada melihat pemerintahan yang dihasilkan dari pengkhianatan terhadap kakaknya.

Tapi, Prabowo berbesar jiwa. Ia tetap menghormati hasil pilpres, meskipun menyakitkan. Ia tetap hadir di acara pelantikan presiden terpilih. Dan, pada beberapa kali kesempatan Prabowo tetap menjaga komunikasi. Tak ada dendam yang disimpan.

Ini tanda kematangan jiwa. Sebuah bukti kejujuran dan ketulusan jiwa. Ini beda dengan sikap pendendam yang tak bisa luntur sampai 10 tahun. Ini tentu beda dengan sikap yang tidak tulus, yang seolah-olah mengatakan kangen, tapi diam-diam menusuk dengan gorengan lama.

Kini, 10 tahun sejak peristiwa Batu Tulis, Prabowo move on. Ia muncul lebih segar dan lebih kuat. Gorengan-gorengan basi tidak menggoyahkannya, malah membuatnya makin kokoh. Gorengan lama seperti pelanggaran HAM, isu soal agama, dan isu soal temperamen yang keras, masih akan terus digoreng dan digoreng lagi.

Prabowo tidak bakal puyeng oleh gorengan itu, justru Mega yang sekarang makin puyeng.

Bagaimana tidak puyeng? Gorengan lama sudah basi dan tak laku jual. Sementara si presiden petugas partai justru tergoreng gosong sendiri oleh kepalsuan simulakra pencitraannya. Nasi goreng cap infrastruktur yang menjadi menu andalannya ternyata palsu dan basi, sehingga rakyat memuntahkannya.

Kacung..eh..kucing dalam karung sudah ketahuan belangnya. Prabowo makin hari makin kokoh, sedangkan sang kucing makin hari makin kerempeng dan terlihat mengenaskan sambil menghitung hari..

Tak pelak Megawati makin puyeng dibuatnya. (*)

Malam Jumat Legi, 10 Januari 2014.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Check Also

Close