Artikel

Momentum Kebangkitan Kembali Umat Islam Indonesia

Resensi buku:

Judul      :  Dahsyatnya Aksi Bela Islam
Penulis   :  Adil Mastjik
Penerbit : Paramedia Press, Surabaya.
Cetakan  : 1, 2017, 222 hal.

Buku Dahsyatnya Aksi Bela Islam ini ditulis oleh seorang alumni peserta Aksi Bela Islam 411, 212, 112, 313 dari Surabaya, Adil Mastjik, anggota PW KBPII Jawa Timur. Karena itu Mastjik merasakan betul gejolak perjuangan ummat Islam dalam membela Al Qur’an saat itu sehingga lahirlah buku yg monumental ini. Buku ini, oleh penulisnya, dipersembahkan kepada peserta Aksi Bela Islam dan seluruh umat lslam lndonesia dengan selalu mengingat bahwa: lslam itu Agama Rahmatan Lil’alamin.

Inilah sebuah episode perjuangan monumental ummat lslam yg dahsyat -yang tak boleh dilupakan- ketika mereka harus membela Al Qur’an dan ulamanya, yang dinista dan dihina mentah-mentah oleh seorang Gubernur. Ia dikenal sebagai Ahok alias Basuki Tjahaya Purnana, Gubernur Jakarta (hal vii).

Jutaan umat lslam lalu bangkit menuntut keadilan. Ahok harus ditangkap, diadili dan dipenjara sama seperti penista Agana lslam lainnya yg sudah dihukum dengan hukuman maksimal (hal viii).

Buku ini terdiri dari enam (6) BAB, yaitu: BAB I – HEBATNYA AKSI BELA ISLAM; BAB II -ULAMA MEMBELA DEMOKRASI; BAB III – BABAK BARU JAKARTA TANPA AHOK; BAB IV – MERAJUT KEMBALI NEGERI MUKJIZAT; BAB V – AKSI BELA ISLAM DAN KESADARAN UMAT; BAB VI – MEMBANGUN EKONOMI UMAT.

Dalam BAB I, penulis menyatakan bahwa kebangkitan lndonesia yang kini dimotori umat lslam sebagai mayoritas yang sudah amat lama mendambakan keadilan di seluruh kehidupannya, telah muncul dalam kebersamaan untuk berbangsa dan bernegara. Kebangkitan yang sedang dan akan terus bergulir dalam berbagai bentuk dan gerakan massa lslam ini, sesungguhnya merupakan cerminan awal dahsyatnya ledakan energi yang memperoleh momentumnya pada Aksi 212 bertajuk Aksi Bela lslam III, 2 Desember 2016 di Monas, Jakarta, yang dihadiri sekitar 7 juta umat lslam. (Hal 1).

Dalam bab ini penulis juga merekam aneka macam kejadian yang humanis seperti: Warga Bandung yang tumpah ruah menyambut long march peserta aksi dari Ciamis (hal 11), ribuan muslim Lampung naik angkot karena ditolak perusahaan bus (hal 14), memborong makanan untuk peserta aksi (hal 14), seorang kakek ikut berjalan kaki dari Bogor ( hal 15) dan lain-lain.

Dalam BAB II penulis mencoba menjawab pertanyaan, kenapa Anis-Sandi menang dan Ahok-Djarot kalah? Jawaban paling sederhana, menurut penulis, adalah ini tidak lepas dari kebangkitan politik lslam di tengah dinamika politik Pilkada DKI (hal 53).

Selanjutnya dalam BAB lll, penulis berkisah tentang drama tuntutan Jaksa Penuntut Umum yang lucu terhadap terdakwa Ahok, di mana JPU menyatakan bahwa dakwaan penodaan agama pada Ahok tidak terbukti. Tetapi Majlis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara, yang masih punya hati nurani, tidak sependapat dengan JPU dan memutus Ahok sebagai tervonis 2 tahun penjara (Hal 79).

Sementara itu dalam BAB lV, Merajut Kembali Negeri Mukjizat, penulis menguti pernyataan Presiden Jokowi usai Pilkada DKI yang dimenangkan Anis-Sandi, “Jangan saling menghujat karena kita bersaudara, jangan saling jelekkan karena kita bersaudara, jangan saling fitnah karena kita bersaudara, jangan saling menolak karena kita bersaudara, jangan saling mendemo, habis energi kita untuk hal hal seperti itu, karena kita bersaudara”. (Hal 121)
Tetapi sayang sekali himbaun Jokowi itu telah dirusak oleh keputusan Jokowi itu sendiri dengan menanda tangani PERPPU No 2/2017 Tentang Perubahan UU No 17/2013 Tentang Organisasi Kemasyarakatan. Kini bangsa lndonesia, utamanya umat lslam, mulai retak kembali karena pro kontra terhadap PERPPU tersebut. (Sudono Syueb)

Tags
Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: