ArtikelFeatured

Miss Sloane; Lobbyist Dalam Dinamika Politik Amerika

Oleh: Delianur

November 2015, awal priode Pemerintahan Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia ini menemui Presiden Amerika serikat, Barrack Obama, di Gedung Putih. Sebagaimana diketahui, salah satu isyu mencuat yang jadi bahan oposisi mengkritik Presiden adalah keputusannya untuk terlibat dalam TPP, Trans Pacific Partnership. TPP adalah aliansi perdagangan kawasan Pacific yang digagas Amerika. Bagi media Amerika, bergabungnya Indonesia ke TPP adalah kado manis untuk Amerika dibawah Obama. Sementara bagi oposisi, langkah ini hanya menguntungkan Amerika tapi merugikan Indonesia. SBY yang dianggap Amerika minded saja menolak bergabung.

Namun diantara kontroversi yang menarik bukan keterlibatan Indonesia ke TPP. Karena isyu ini berkaitan dengan ekonomi dan kerjasama internasional yang hanya dimengerti para akademisi dan pemerhati kebijakan publik bidang ekonomi. Bukan konsumsi kebanyakan masyarakat Indonesia. Hal yang menarik adalah ketika ternyata terkuak informasi bahwa pertemuan Presiden Obama dan Presiden Joko Widodo selama 80 menit ini, terlaksana karena pemerintah Indonesia memakai jasa lobbyist dari Singapura. Bukan karena kerja-kerja diplomatik pemerintah Indonesia.

Awalnya adalah sebuah artikel berjudul “Waiting In The White House Lobby” yang ditulis Michael Buehler di laman situs new mandala. Buehler adalah Dosen Ilmu Politik Asia Tenggara di School of Oriental and African Studies London. Berdasar artikel inilah kemudian media di Indonesia mengungkap proses dibalik kunjungan Presiden Joko Widodo ke Gedung Putih untuk bertemu Obama.

Dalam artikel itu disebutkan bahwa diplomat Amerika berusaha keras memahami permintaan pertemuan dari pemerintah Indonesia. Karena mereka kesulitan mengkaitkan dengan kebijakan luar negeri yang diajukan. Disamping itu juga ada kebingungan karena perbedaan tajam antara Retno Marsudi sebagai Mentri Luar Negeri dan Luhut Panjaitan sebagai Kepala Kantor Kepresiden yang disebut Buehler ambisius.

Hal menarik yang menjadi perhatian publik adalah ketika artikel ini menyebutkan bahwa pemerintah Indonesia memakai jasa konsultan PR, lobbyist, dari Singapura bernama Pereira International PTE LTD. Berdasar dokumen bulan Juni 2015 yang diisi US-Departement Justice dibawah ketentuan Foreign Agents Registration Act (FARA), konsultan Singapora inilah yang kemudian menghubungi konsultan PR berbasis di Las Vegas untuk mendapatkan kesempatan dan akses ke Washington. Konsultan PR Singapura membayar biaya lobby itu sebesar $80.000 dollar atau 1 Milyar dengan kurs saat itu.

Menurut Buehler, dalam dokumen itu disebutkan bahwa “Concretely, the foreign principal (ie Pereira) was “retained as a consultant by the executive branch of the Indonesian government.” The contract further lists the services provided by R&R partners’; Arranging and attending meetings with key policymakers and members of Congress and the executive branch including the Department of State; Attempt to secure opportunity to address joint sessions of Congress during Indonesian President Widodo’s visit to the US; and, Identify and work with influential individuals, media, public and private organisations and affiliates in the US to support efforts of President Widodo.’”

Sebagaimana kita ketahui, waktu itu Mentri Luar Negeri Indonesia menyangkal tulisan Buehler. Menurut Menlu Reto Marsudi tulisan dalam situs new mandala tidak valid. Indonesia tidak memakai konsultan komunikasi manapun untuk merancang pertemuan Obama dan Joko Widodo. Namun Retno Marsudi mengakui keberadaan konsultan politik seperti itu dalam politik Amerika.

Bagi kebanyakan orang Indonesia, ini tentunya peristiwa baru. Pertemuan bernilai $80.000 untuk pertemuan selama 80 menit tentunya sangat fantastis. Terlebih $80.000 itu angka minimal. Karena itu pembayaran dari konsultan PR Singapura ke konsultan PR Las Vegas bukan pembayaran dari pemerintah Indonesia ke konsultan PR Singapura.

Namun hal yang aneh adalah, kenapa pertemuan dua kepala negara mesti diatur konsultan komunikasi. Bukankah keduanya mempunyai Kementrian Luar Negeri beserta Dubes dan para diplomatnya. Bagi masyarakat kebanyakan, lobbyist atau konsultan komunikasi itu hanya bahasa kelas menengah ke atas. Sedangkan bagi masyarakat bawah, lobbyist tidak lain dari calo. Term bahasa yang kerap dianggap rendah dan bermakna pejoratif.

Namun bila kita mencoba menggali lebih jauh, praktik lobbyist dalam politik Amerika adalah hal yang lumrah. Calo politik, konsultan PR atau mediator politik adalah pekerjaan lumrah dan legal dalam kehidupan politik Amerika. Mereka bukan hanya mesti terdaftar di Departemen Kehakiman Amerika, tetapi juga tercantum sebagai pembayar pajak. Artinya, semua transaksi yang mereka lakukan legal dan diakui.

Miss Sloane, mungkin diantara film yang bisa menjelaskan keberadaan konsultan komunikasi politik dalam dinamika politik di Amerika. Dalam film ini diceritakan tentang Miss Sloane. Seorang perempuan lobbyist politik handal dan menjadi kepercayaan banyak orang untuk menggoalkan kepentingannya di senat Amerika. Sloane adalah seorang profesional dalam komunikasi politik. Dia bukan hanya pekerja keras yang penuh determinasi, tetapi juga seorang yang mempunyai kalkulasi sangat matang dan terukur dalam setiap langkahnya untuk memenangkan klien.

Mulanya Sloane (Jessica Chastain) didatangi produsen senjata. Mereka ingin Sloane membantu mereka menghadang lolosnya RUU Heaton-Harris di senat. Karena RUU ini menolak penjualan senjata secara bebas di masyarakat. Penjual senjata menghubungi Sloane bukan karena dia lobbyist handal, tetapi karena dia juga seorang perempuan. Sementara menurut data produsen senjata, penentang penjualan senjata secara bebas adalah perempuan.

Sloane menolak tawaran projek itu. Karena dia tidak pernah membayangkan sebagai seorang perempuan akan memperjuangkan penjualan senjata secara bebas. Penolakan Sloane ini jelas menimbulkan kemarahan George Dupont (Sam Waterson) bos kantor Lobbyist tempat Sloane bekerja. Ternyata penolakan Sloane ini menyebar.

Situasi ini dimanfaatkan Rodolfo Schmidt (Mark Strong). Pemilik konsultan PR yang mendapat projek untuk meloloskan RUU Heaton-Harris. Schmidt yang mengetahui reputasi Sloane, mendatangi Sloane dan menawarkannya untuk memimpin projek ini. Sloane pun menerimanya. Sloane pindah dari kantor Dupont ke kantor Schimdt yang lebih kecil. Maka jadilah Sloane berhadapan dengan mantan kantor dan anak buahnya dalam kasus RUU Heaton-Haris.

Bila kita melihat film ini, kita akan melihat bila konsultan komunikasi politik di Amerika bukan hanya bekerja untuk menaikan seseorang menjadi anggota Senat, Gubernur, atau Presiden, tapi dia juga bekerja untuk meloloskan sebuah Rancangan Undang-Undang. Dia bukan hanya menyebar press rilis dan merancang berbagai event di media untuk membangun opini publik, tapi juga menginfiltrasi sebuah event, mencatat setiap detail pengurangan dan pertambahan dukungan, sampai melobby anggota senat nya. Dalam kerja nya, lobbyist ini selalu berkata berdasar data dan analisa.

Selain mesti terdaftar, film ini juga menunjukan bahwa menjadi konsultan komunikasi politik di Amerika mesti mematuhi kode etik. Seperti bahwa dalam rangka memuluskan sebuah UU, mereka tidak boleh memata-matai, menyuap atau menyadap. Konsultan komunikasi politik tidak boleh mengatur dan membiayai perjalanan anggota senate untuk memuluskan UU yang ingin mereka goalkan. Bila dia tidak memenuhi kode etik, maka dia akan menghadapi sidang etik yang dipimpin oleh anggota senate. Dalam politik kita, ini seperti sidang MKD atau Mahkamah Kehormatan DPR. Tapi terdakwa nya adalah konsultan komunikasi politik bukan anggota DPR.

Mungkin hal menarik bagi orang Indonesia adalah ketika film ini menceritakan pelanggaran etik yang dilakukan Miss Sloane. Disebutkan Miss Sloane mendapat projek supaya Senat Amerika tidak menaikan pajak import sawit. Dalam rangka memuluskan projek ini, Sloane membiayai perjalanan salah satu anggota Senat Amerika ke perkebunan sawit di Indonesia. Karena projek itu berasal dari pemerintah Indonesia dan Sloane bertindak atas nama Pemerintah Indonesia. (Fn)

Selanjutnya

Artikel Terkait

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: