Artikel

Mi’raj Dengan Buku

Oleh: Soenano

Isra’ mi’raj adalah perjalanan Rasulullah SAW dari Makkah ke Masjidil Aqsa, dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Perjalanan Rasulullah SAW untuk menerima perintah shalat 5 waktu tiap hari bagi umat Islam. Isra’ mi’raj juga merupakan ujian bagi bangsa Quraish umumnya dan umat Islam khususnya, apakah akan mempercayai kebenaran kisah perjalanan Rasulullah SAW, atau harus diverifikasi terlebih dahulu informasinya, atau diterima saja kebenarannya.

Masalah kebenaran Islam sampai sebelum Isra’ Mi’raj memang dalam masa krisis. Umat Islam waktu itu sedang diasingkan oleh bangsa Quraish di lembah Syib Abi Thalib yang terletak di sebelah timur Makkah. Sementara pelindung Muhammad SAW, pamannya Abu Thalib, dan istri tercintanya Khadijah, sudah meninggal dunia. Umat Islam menyebut sebagai tahun kesedihan. Ujian yang bertubi-tubi dan sangat berat dirasakan Rasulullah SAW. Sedangkan dakwah Islam tidak mengalami perkembangan signifikan.

Konsep pengetahuan dalam Islam ada hierarkinya. Level 1 adalah jahl, pengetahuan yang belum diverifikasi kebenarannya atau menurut Al-Ghazali level jahl adalah orang yang mengaku tahu padahal tidak tahu. Itulah kenapa orang Arab disebut Jahiliyyah. Pengetahun level jahl bisa sesat dan menyesatkan.

Level 2 adalah taklid. Yaitu orang yang tidak tahu dan dia tahu kalau dia tidak tahu, maka dia akan mengikut pada orang orang yang tahu.

Level 3 adalah dzon, belum sampai ilmu tapi masih prasangka. Dzon levelnya taklid berbasis ilmu pengetahuan walaupun masih pada kesimpulan kira-kira, seperti berita infotainment atau banyak media online yang menulis berita dengan sedikit sekali kebenarannya.

Level 4 adalah ‘ilm, sudah sampai makrifat, cirinya ada 2, yakni: ada bukti obyektif (korespondensi antara kesesuaian pernyataan dan kenyataan disertai buktinya) dan menenangkan jiwa (kepuasan jiwa).

Dalam Islam ada 3 sumber ilmu pengetahuan yaitu: akal, panca indera dan kabar (sumber otoritatif). Mode pengetahuan Islam memiliki 3 jenis: bayani (ilmu tentang teks), burhani (pakai akal, analisis, ushuli) dan irfani (pengalaman langsung, khuduri).

Hikmah Isra’ Mi’raj

Isra’ sebagai konsep perjalanan, tidak mungkin kita memperoleh level ‘ilm hanya dengan berdiam diri. Kita harus melakukan isra’ dengan mengunjungi sumber ilmu, seperti: tokoh otoritatif (ulama dan guru) serta perpustakaan (buku). Jika kita sudah melakukan isra’ kita bisa melakukan mi’raj, naik level dari jahl ke ‘ilm.

Coba bandingkan luasnya cakrawala yang bisa dilihat antara orang yang hanya naik gedung di lantai 1 dengan lantai 7. Lakukanlah mi’raj dengan membaca buku, jangan dibatasi, pelajarilah tiap bangsa yang hilang dan berkemajuan. Pemikiran tiap tokoh, dan berbagai pandangan tiap kelompok. dengan keluasan pandangan dan ilmu, kita akan mampu menemukan kebenaran.

Jika sudah melakukan mi’raj, turunlah kembali ke bumi dengan menjadi pelopor dan penggerak amar makruf nahi munkar dan mampu mendakwahkan. Konsepsi itulah yang kita kenal dengan ulama sebagai pewaris para nabi, yang akan langsung diwisuda oleh Allah subhana wata’alaa.

Penulis buku “Muslim Tionghoa di Yogyakarta”.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya
Scroll Up