Artikel

MERAJUT KERAGAMAN

Oleh: Imam Shamsi Ali*

Di masa kecil saya tidak pernah bermimpi untuk hidup di sebuah kota yang disebut kota dunia. Bahkan sebagian menyebutnya sebagai “the capital of the world” atau ibukotanya dunia. Betapa tidak, di kota ini bertengger semua hal yang mendunia. Dari Wall Street, Perserikatan Bangsa-Bangsa, bank-bank dan perusahaan kaliber dunia, hingga live show-live show yang bayarannya berjuta-juta untuk sekedar menonton sejaman.

Saya teringat seorang konglomerat dunia yang tinggal di New York, Michael Bloomberg. Jauh sebelum menjabat sebagai walikota New York beliau diwawancarai oleh sebuah televisi nasional, dan salah satu pertanyaan ketika itu adalah “anda sukses, kaya, terkenal dan dihormati. Kalau seandainya anda masih ada cita-cita, apa yang anda ingin lakukan?”.

Menjawab pertanyaan itu beliau mengatakan: “ada tiga hal yang masih menjadi cita-cita saya dalam hidup. Pertama, jadi Sekjen PBB. Kedua, jadi Presiden Amerika. Dan ketiga, jadi Walikota New York”.

Ketika ditanya kenapa ingin mencapai satu dari tiga itu? Jawabannya singkat, karena jika anda menjadi salah satu dari tiga hal itu maka anda telah menjadi penguasa dunia. Sekjen PBB jelas adalah pejabat organisasi negara-negara dunia. Presiden Amerika menurutnya menguasai dunia karena kekuasaan Amerika di mana-mana. Dan walikota New York menguasai dunia karena dari New York bisa menentukan wajah dunia.

Sungguh banyak faktor yang menjadikan kota ini menjadi kota kebanggaan warganya, termasuk gedung-gedung klasik pencakar langitnya. Di kota inilah terletak Empire State Building, Crystal Building, dan tentunya yang saat ini sangat digandrungi oleh Turis karena letaknya di kawasan daerah yang paling masyhur dunia saat ini, WTC (World Trade Center). Gedung itu adalah Freedom Tower (atau gedung kebebasan). Gedung ini menjadi sangat populer karena gedung inilah yang tertinggi di kota New York saat ini. Dan yang terpenting karena gedung inilah yang menggantikan gedung kembar WTC yang runtuh oleh serangan teror di tahun 2001 silam.

Keragaman itu indah

Dari sekian banyak kebanggan kota New York, salah satunya barangkali yang paling membanggakan menurut saya pribadi adalah keragaman manusianya. Di kota ini anda akan menemukan hampir semua manusia dunia, baik dari sudut etnik dan ras, warna kulit, bahasa, budaya dan agama. Kalau anda berangkat kerja di pagi hari dan mengambil kereta bawah tanah (subway) kemungkinan anda akan mendengarkan kicauan-kicauan orang di sekeliling dengan bahasa yang ragam. Anda akan menemukan pakaian dengan ragam bentuk, termasuk pakaian kebanggaan agama masing-masing.

Ambillah sebagai misal Queens Borough, semacam kecamatan, konon kabarnya adalah kota dengan penduduk paling ragam di dunia. Dari semua asal negara Eropa Barat maupun Timur, negara-negara Latin dan Amerika Selatan, berbagai negara Afrika, Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, Asia Timur, senuanya menyatu di salah satu daerah bagian kota New York ini. Jangan terkejut ketika anda mengambil kereta bawah tanah dari Flushing anda akan melihat pakaian keagamaan yang ragam, Hindu, Budha, Sikh, Kristen, Yahudi, dan tentunya Islam yang semakin pepuler dan berkembang pesat.

Di New York dan Queens daerah saya tinggal inilah yang banyak membuka mata saya bahwa ternyata keragaman itu adalah realita kehidupan yang tak terhindarkan. Keragaman adalah tabiat alam karena semua diciptakan secara berbeda. Sehingga sejatinya keragaman juga menjadi hukum Tuhan (sunnatullah) dalam penciptaanNya. Di sinilah rahasianya kenapa Islam yang memang tabiatnya sejalan dengan tabiat alam (damai dengan lingkungan) menjadikan “tanawwu’” (keragaman) sebagai bagian dari realita iman.

Kalau seandainya Allah menghendaki maka Dia jadikan kamu semua dalam satu komunitas atau ummah” (Al-Qur’an), Allah menggariskan demikian.

Di tengah keragaman ini pula saya merasakan kekaguman itu. Karena ternyata benar jika keragaman itu memang telah ditetapkan sebagai “ayat” (tanda/bukti) kebesaran sang Pencipta. “Dan di antara tanda-tanda kebesaran Allah adalah penciptaan langit dan bumi dan pada keragaman bahasa dan warna kulitmu. Sungguh pada semua itu adalah tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir” (Al-Qur’an).

Salah satu kebesaran Allah yang sangat terasa adalah betapa keragaman itu memang dijadikan agar di antara manusia ada dasar keterkaitan dan keterikatan (ta’alluq). Dengan keterikatan ini manusia mau tidak mau harus membangun koneksi karena memang secara mendasar saling membutuhkan.

Di kota New York ini sejak peristiwa 9/11 di tahun 2001 itu keragaman sempat teruji. Ada pihak-pihak yang goyah dalam tabiatnya sebagai bagian dari keragaman, sehingga ketakutan bahkan membenci keragaman itu. Tanpa mereka rasa mereka telah melakukan sesuatu yang menentang kodrat atau tabiat hidupnya sendiri. Hingga saat ini sejak terpilihnya Donald Trump keragaman kerap oleh sebagian dilihat sebagai ancaman yang menakutkan. Seolah hadirnya orang-orang yang berbeda dari mereka adalah ancaman yang perlu dikucilkan bahkan dieliminir.

Tapi di balik tantangan itulah nampak keindahan dan kekuatan keragaman itu. Keragaman menjadi momok yang ditakuti oleh sebagian. Tapi juga karena kesadaran akan tabiat kehidupan yang ragam menjadikan banyak teman-teman yang bangkit dan melakukan pembelaan terhadap pelecehan keragaman. Di saat Donald Trump menanda tangani sebuah peraturan untuk melarang orang-orang Islam masuk Amerika, justeru yang berada di garda terdepan melakukan perlawanan adalah mayoritasnya non Muslim.

Tgl 19 Februari yang lalu dengan dukungan penuh dari teman-teman pimpinan agama-agama New York, saya memimpin demonstrasi atau rally dengan tema: “Today I am a Muslim too” (hari ini saya juga seorang Muslim). Demo ini unik karena ide pertama kalinya datang dari seorang Rabbi Yahudi. Juga karena peserta demo itu 90 persen adalah non Muslim.

Dari semua itu kita pahami jika keragaman di kota New York itu membuka peluang untuk sharing bersama. Setiap komunitas sudah pasti ada kelebihan-kelebihan dan juga kekurangan-kekurangannya. Ambillah misalnya komunitas Katolik, salah satu kelebihannya adalah dalam hal waqaf atau “endowment”. Rumah-rumah sakit, sekolah, pusat-pusat infaq (charity) semuanya dikembangkan melalui waqaf ini.

Masyarakat Yahudi sangat kuat dalam membangun basis perekonomiannya. Hampir semua pusat perekonomian dan bank prestisius dimiliki oleh masyarakat Yahudi. Demikian pula dalam hal lobby politik. Salah satu lobby terkuat yang mampu mewarnai arah kebijakan di Amerika adalah yahudi.

Contoh-contoh kelebihan dari masing-masing komunitas itulah dalam konteks keragaman menjadi positif jika masing-masing sadar bahwa keragaman itu justeru hadir untuk menjadi jembatan untuk sharing.

Kegigihan masyarakat Yahudi dalam memproteksi keberlangsungan hidup (survival) komunitas mereka juga bisa menjari contoh. Yahudi dalam sejarahnya di mana-mana minoritas. Tapi ketika berada di sebuah tempat (negara) mereka menjadi komunitas unggulan. Yahudi datang ke Amerika sebagai pengungsi (refugees) dari Eropa. Mereka ditolak awalnya, lalu diterima tapi dengan perlakuan yang sangat tidak manusiawi. Hanya dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama mereka yang jumlahnya sekitar lima juta itu mampu membangun komunitas yang solid.

Selain menjadi jembatan saling memberi (sharing) keragaman juga menjadi basis kompetisi dalam kebaikan (goodness) dan kepentingan bersama (mutual interest). Hanya saja kompetisi ini harus terbangun dalam bingkai dan semangat kebersamaan dan kesatuan. Apalagi dalam konteks dunia yang semakin menggglobal, di mana keterikatan (interconnectedness) dan ketergantungan (interdependence) menjadi karakter dunia yang tidak terhindarkan.

Oleh karenanya keragaman jangan pernah ditakuti. Sebaliknya keragaman harus diterima sebagai bagian dari realita hidup bahkan sunnatullah dan hukum alam. Menolak keragaman itu adalah menentang realita kehidupan.

Hanya saja keragaman itu penting untuk dirajut, dijaga, dianyam dalam bingkai kesatuan dan kebersamaan tadi. Salah satu hal yang terpenting dari proses menjaga keragaman agar tidak menjadi senjata makan tuan adalah perlunya dibangun kesadaran sosial bahwa semua orang saling terkait. Kebahagiaan sekelompok adalah kebahagiaan semuanya. Dan penderitaan sekelompok adalah penderitaan semuanya. Dan karenanya kata “tenggang rasa” (solidaritas) menjadi kata kunci dalam menjaga keragaman ini. Jika tidak maka keragaman akan berbalik menjadi racun sosial (social poison) yang membawa kepada berbagai realita yang destruktif.

Semua bentuk ketimpangan dan ketidakadilan hidup, dalam berbagai aspek hidup manusia, itu adalah racun keragaman. Ketidak adilan ekonomi dunia saat ini itulah sesungguhnya yang menjadikan sebagian manusia kalap dan merasa terancam dengan perbedaan yang ada. Termasuk apa yang melanda dunia barat saat ini. Kapitalisme dunia telah mengantar kepada kehidupan yang semakin timpang. Yang kaya semakin kaya. Yang miskin semakin terzholimi.

Jika itu terus terjadi akan berat untuk mempertahankan indahnya keragaman. Justeru keragaman bisa saja dijadikan “justifikasi” oleh sebagian untuk melakukan kekerasan-kekerasan. Wallahu a’lam!

* Presiden Nusantara Foundation

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up