Artikel

Menuju Manifesto Intelektual Indonesia

Oleh: Ikhsan Kurnia
Aktivis, Penulis Berbagai Buku dan Artikel

Tulisan ini adalah follow up dari artikel saya yang berjudul “Profesor Suteki Dan Fungsi Intelektual” (https://www.kanigoro.com/artikel/profesor-suteki-dan-fungsi-intelektual). Inti dari pandangan tersebut adalah bahwa peran kaum intelektual tidak boleh direduksi dan dilokalisir hanya pada tugas normatifnya, baik sebagai ilmuwan (scientist), peneliti (researcher) atau pengajar (lecturer). Melainkan mereka juga harus diberikan ruang terbuka untuk memainkan peran-peran transformatif di berbagai bidang kehidupan, termasuk dimensi sosial, budaya dan politik.

Sebagai bagian dari civil society, kaum intelektual harus difasilitasi kebebasan berfikir dan berpendapat sesuai dengan kepakaran dan sudut pandangnya secara independen, tanpa dibebani oleh rasa takut akan pembunuhan karakter maupun hukuman struktur akademik. Kritisisme yang mereka miliki harus diproteksi dan dilindungi selama masih berada dalam ruang diskursus publik yang dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan dan moral.

Kasus yang menimpa beberapa orang intelektual Perguruan Tinggi, misalnya yang dialami oleh Profesor Suteki (UNDIP) dan Profesor Daniel M. Rosyid (ITS), merupakan bentuk pembunuhan karakter dan pembungkaman suara kritis yang dilakukan oleh pemerintah. Jika tidak ada reaksi kuat untuk menentang kebijakan semacam ini, maka ditakutkan kasus-kasus seperti ini akan terus terjadi lagi di kemudian hari. Secara psikologis, situasi tersebut akan menghasilkan dua kemungkinan.

Pertama, terciptanya atmosfer ketakutan yang sangat masif di kalangan intelektual untuk bersikap kritis. Sehingga ini berbahaya bagi dinamika dan keseimbangan demokrasi, mengingat dalam sejarahnya (baik di dalam negeri maupun di negara-negara maju) kaum intelektual selalu memiliki peran sebagai penyeimbang kekuasaan. Jika peran ini dikebiri, peluang menuju otoritarianisme penguasa sangat terbuka lebar.

Kedua, jika kemungkinan pertama tidak terjadi, yang justru bisa terjadi adalah munculnya kemarahan masif (massive anger) berupa pemberontakan kaum intelektual yang boleh jadi diikuti oleh pemberontakan berbasis massa. Hal ini juga tidak sehat, karena pemerintah akan semakin kerepotan menghadapi kelompok civil society yang kecewa dan semakin militan dalam melakukan perlawanan.

Untuk itu, dengan pertimbangan tersebut, saya mengusulkan kepada para intelektual (baik insider kampus maupun outsider kampus) untuk membuat MANIFESTO INTELEKTUAL INDONESIA yang mengandung beberapa hal, antara lain:

1. Memberikan dukungan moral dan hukum kepada para intelektual yang mengalami pembunuhan karakter dan atau penghukuman struktural (institusional) yang tidak adil dan sewenang-wenang.

2. Menuntut perlindungan baik dari negara maupun institusi perguruan tinggi atas kebebasan beropini, tidak terkecuali terhadap opini yang mengandung kritik terhadap kebijakan pemerintah sebagai bagian dari dinamisator kehidupan berdemokrasi yang lebih matang (mature democratization).

3. Meminta pemerintah untuk tidak melakukan pembunuhan karakter terhadap intelektual yang kritis, serta tidak menggunakan kekuasaan struktural untuk mengatasinya, melainkan dengan menciptakan kultur dialektika wacana publik yang lebih egaliter dan adil, sehingga akan lebih mencerdaskan masyarakat.

4. Menyarankan kepada pemerintah untuk lebih terbuka dengan kritik-kritik yang membangun dari kaum intelektual sebagai bagian dari “second opinion” yang boleh jadi bermanfaat bagi pemerintah dan bangsa.

Manifesto Intelektual ini diharapkan akan berguna dalam jangka panjang, sebagai sebuah gerakan yang memberdayakan, melindungi dan mengadvokasi peran serta fungsi intelektual dari berbagai generasi di masa depan. Hal ini juga dalam rangka semakin memperkuat posisi civil society sebagai penyeimbang dari political society (pemerintah) dan economic society (pasar). Diharapkan bargaining position kaum intelektual menjadi semakin kuat tanpa dirongrong rasa takut dalam menyuarakan hati nuraninya.

Sementara ini dulu yang bisa saya tulis. Semoga tulisan ini dapat direspon oleh kaum intelektual di negeri ini untuk bangkit dan bergerak bersama dalam satu manifesto, yakni MANIFESTO INTELEKTUAL INDONESIA.

Komentar Facebook

Tags
Selanjutnya