ArtikelFeatured

Menteri Sang Calon Presiden

Oleh : Himawan Sutanto (Aktivis 1980)

Pertemuan Prabowo-Joko Widodo di kereta MRT telah meluluh lantahkan sebuah perubahan yang diinginkan atau didambakan oleh pendukung Prabowo, terutama mak-mak. Kekecewaan mereka jelas terlihat dari sikap mereka terhadap Jokowi yang tidak menambah kemajuan baik ekonomi maupun politik.

Saya tidak akan mengulas tentang pertemuan tersebut, tetapi dasar sikap politik Prabowo yang dianggap inkonsistensi terhadap sikap politiknya. Bahwa sikap oposisi adalah terkesan sesuatu yang haram atau bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi. Hal itu menjadi lucu, jika saja seekor macan, tiba-tiba bisa dengan cepat menjadi seekor kucing (seperti lagu-lagu yang viral di media sosial). Terkesan naif dan tidak ada hal yang patut diteladani secara pilihan politik.

Konsisten Itu Berat Jendral

Saya tak habis mengerti dengan sikap politik Prabowo, sebab menurut pandangan saya, sikap politik itu adalah suatu cara menyikapi dan mensiasati yang berhubungan dengan negara yang berpengaruh terhadap masyarakat itu sendiri. Jadi jangan terkesan bahwa pilihan sekarang menjadi seorang menteri adalah cara pandang yang sudah tepat. Sebab dari pilihan yang melukai para pendukungnya adalah sesuatu yang naif, lebih kerasnya hanya cari penyelamatan diri saja dengan mengabaikan realitas yang ada.

700 Kematian petugas KPPS yang tidak pernah jelas statusnya, penangkapan dan penahanan para pendukung Prabowo juga sepertinya tidak dihargai sebagai sebuah perjuangan politik yang sekedar mengedepankan pragmatisme belaka. Padahal kerusuhan 21-22 Mei 2019 juga telah menelan korban yang tidak sedikit, tetapi semua itu hanya sebagai bunga-bunga kekuasaan belaka. Lalu apa yang dapat dipelajari oleh seorang Prabowo ? Pertanyaan tersebut justru keluar dari pikiran rakyat biasa karena telah salah dalam dukungan dan terlalu terhipnoptis oleh sosok yang sangat tidak patriotik. Sebab pendukung politik seseorang itu sebagai sarana pencerahan terhadap perubahan, bukan cara politik dagang sapi seperti sekarang ini.

Yang Penting Menjabat

Seorang Perdana Menteri Malaysia, DR. Mahatir Muhammad telah memberikan contoh, jika melihat negeri yang sudah melenceng dari cita-citanya lalu Mahatir turun gunung dan ambil alih kekuasaan demi meluruskan kembali dan berhasil. Atau kalau kita melihat film “All Presiden Men” (1976) dimana film yang mengisahkan tentang investigasi dua jurnalis dari Washington Post, Carl Brenstein dan Bob Woodward. Kedua Jurnalis itu membongkar skandal Watergate kasus penyadapan salah satu partai politik di AS saat kampanye Pemilihan Presiden.

Dimana terbongkarnya kasus diatas membuat Presiden Nixon kala itu yang terpilih mengundurkan diri, karena Nixon merupakan dalang dibalik skandal Watergate. Film tentang skandal tersebut dibuat kembali pada tahun 2017, hanya saja dengan sudut pandang yang lain.

Contoh diatas adalah bahwa bagaimana seorang calon Presiden bisa menjadi inspirasi para pendukungnya dan tidak hanya menurunkan derajatnya sebagai menteri, tapi mampu memberikan contoh konsistensi kepada pendukungnya dalam hal pilihan politiknya. Membongkar korupsi adalah juga bagian dari perjuangan bagi bangsa ini. Perjuangan mahasiswa dan pelajar yang menolak RUU KPK, lalu menjadi korban kekerasan sebagai konsekwensi perjuangan adalah lebih terhormat dari pada seorang calon Presiden yang sekedar cari aman untuk jabatan menteri.

Sepertinya bangsa ini telah menjadi imun bagi sang koruptor dan kekerasan. Karena para pemimpin telah memberikan tipuan dramatiknya yang jauh dari alur perubahan sesungguhnya. Selamat pak menteri, konsisten itu susah, apalagi berjuang.

22 Oktober 2019

Komentar Facebook

Selanjutnya

Artikel Terkait

Scroll Up